Kalau ada satu orang di kerajaan ini yang paling sering jadi bahan, itu Bayu. Si paling kurus. Si "menteri pertahanan" yang justru paling tidak bisa mempertahankan apa pun—celananya pernah dilem, tasnya pernah dijejali tepung sampai jadi "manusia tepung", dan dalam setiap operasi, kalau ada yang harus jadi tumbal, biasanya dia. Bayu menerimanya tanpa banyak protes. Ia bahkan menikmati perannya jadi mata-mata, meski selalu hampir ketahuan. Bayu adalah jenis teman yang ada untuk membuat yang lain terlihat lebih hebat.
Tapi pekan itu, sesuatu berubah.
Kelas mendapat tugas dari Bu Sari: membuat acara perpisahan kecil untuk Bu Tania, di hari terakhir beliau mengajar. Bukan acara besar—Bu Sari bilang yang penting tulus, bukan mahal. Masalahnya, tidak ada yang mau jadi koordinator. Arman, yang biasanya otomatis mengangkat tangan untuk segala kepanitiaan, kali ini diam. Aku tahu kenapa: ini soal Bu Tania, dan baginya itu terlalu pribadi, terlalu menyakitkan untuk dipimpin.
Kelas saling pandang. Hening canggung.
Lalu, dari pojok belakang, tangan terangkat.
Bayu.
"Aku aja," katanya. Suaranya gemetar, tapi tangannya tetap di atas.
Seisi kelas menengok. Beberapa anak nyaris tertawa—Bayu, yang biasanya jadi korban, mau memimpin? Tapi tidak ada yang benar-benar tertawa, karena ada sesuatu di wajah Bayu yang membuat tawa itu mati di tenggorokan.
Bu Sari mengangkat alis. "Kamu yakin, Bayu?"
"Yakin, Bu." Bayu berdiri. Lututnya kelihatan agak goyah. "Aku tahu aku biasanya yang paling nggak diandalin. Aku yang paling sering jadi bahan ketawaan. Tapi justru karena itu aku mau yang ini. Bu Tania... dia nggak pernah sekali pun nganggep aku bahan ketawaan. Dari hari pertama dia masuk, dia panggil nama aku bener, dia dengerin aku waktu aku ngomong, dia nggak pernah ngeremehin aku." Suaranya mulai pecah, tapi ia melanjutkan. "Jadi buat dia, aku mau jadi orang yang diandalin. Sekali aja."
Kelas hening. Tapi hening yang berbeda—hening yang penuh hormat.
Aku menatap Bayu, dan aku merasakan sesuatu yang sulit kujelaskan. Bangga, mungkin. Tapi lebih dari itu. Aku melihat seseorang yang selama tiga tahun mengecilkan dirinya, tiba-tiba berdiri penuh.
"Baik," kata Bu Sari, dan ada kehangatan di suaranya. "Bayu koordinatornya. Yang lain bantu dia."
Sepulang sekolah, Bayu memimpin rapat pertamanya. Itu kacau, tentu saja—ini Bayu. Ia lupa membawa catatan, ia gugup sampai salah menyebut tanggal, dan saat Reza mengusulkan kue tujuh lapis untuk acara perpisahan, Bayu hampir setuju sebelum aku mengingatkan bahwa kami tidak punya anggaran sebesar itu. Tapi di balik kekacauan itu, ada sesuatu yang baru: Bayu mengambil keputusan. Bayu membagi tugas. Bayu, untuk pertama kali, berdiri di depan dan tidak menjadi tumbal siapa pun.
"Dimas, kamu urus surprise-nya, jangan kasih tahu Bu Tania. Reza, kamu urus makanan—tapi yang masuk akal, ya. Galih, kamu bikin sesuatu yang... yang bisa dibawa pulang Bu Tania. Kenang-kenangan. Kamu paling jago mikirin yang begitu." Ia menarik napas. "Arman..."
Bayu berhenti. Semua menengok ke Arman.
"Aku tahu ini berat buat kamu," kata Bayu pelan, kepada Arman. "Kamu nggak harus ikut kalau nggak kuat. Tapi kalau kamu mau—aku pengen kamu yang nyerahin kenang-kenangannya ke Bu Tania. Karena dari kita semua, kamu yang paling... ngerti dia."
Arman terdiam lama. Lalu ia mengangguk. "Aku ikut," katanya. "Aku mau."
Setelah rapat bubar, aku menghampiri Bayu yang sedang membereskan kertas-kertasnya dengan tangan yang masih sedikit gemetar.
"Bay," kataku. "Tadi itu... kamu hebat."
Bayu nyengir, malu. "Aku gemeteran terus, Lih. Hampir pingsan pas ngangkat tangan."
"Tapi kamu tetap ngangkat tangan." Aku menepuk bahunya. "Itu yang penting. Bukan nggak gemeteran. Tapi tetap maju walau gemeteran."
Bayu menatapku, lalu matanya berkaca. "Tiga tahun aku jadi korban, Lih. Aku kira aku emang cuma bisa segitu. Ternyata enggak, ya."
"Enggak," kataku tegas. "Kamu nggak pernah cuma segitu."
Dimas datang menyandar ke meja, menyeringai. "Kerajaan kita ini aneh, ya. Galih akhirnya nunjukin otaknya, Bayu akhirnya mimpin sesuatu. Sebentar lagi Reza diet, kali."
"Jangan ngarep," sahut Reza dari seberang ruang, mulut penuh.
Kami tertawa. Tapi di balik tawa itu, aku merasakan sesuatu yang besar sedang bergerak. Satu per satu, kami berubah. Bukan jadi orang lain—tapi jadi versi diri kami yang selama ini takut keluar. Bayu bukan lagi korban. Galih bukan lagi yang bersembunyi. Arman bukan lagi yang sendirian.
Dan di depan kami, masih ada satu hal yang harus kami kerjakan bersama: melepas Bu Tania dengan cara yang benar. Tanpa rekayasa. Tanpa proyek. Hanya tulus.
Bayu menutup map koordinatornya, menatap kami berempat, dan untuk pertama kali dalam tiga tahun, dialah yang berkata, "Oke, tim. Kita mulai."