Aku tidak pernah suka jadi pusat perhatian. Itu sebabnya, selama tiga tahun, aku menyembunyikan satu hal: aku diam-diam paling pintar di antara kami berempat. Mungkin di antara satu angkatan. Aku menyembunyikannya karena alasan sederhana—kalau orang tahu, mereka akan minta contekan, minta diajari mendadak sebelum ulangan, menjadikanku alat. Lebih aman jadi "si penonton" di pojok belakang. Lebih aman tidak dilihat.
Ibuku tidak pernah setuju dengan strategi itu.
"Kepintaran yang disembunyikan itu sama saja disia-siakan, Lih," katanya, hampir setiap kali rapor keluar dan nilaiku—yang sengaja kujaga di tengah-tengah—tidak mencerminkan apa yang sebenarnya bisa kucapai. "Ibu nggak nuntut kamu juara. Ibu cuma nggak mau kamu takut sama kemampuan kamu sendiri."
Aku selalu mengangguk, lalu tidak mengubah apa pun.
Tapi pekan itu, ada pengumuman dari sekolah: ada seleksi olimpiade sains tingkat kota, mewakili sekolah. Bu Sari menempel formulirnya di papan kelas. Sebagian besar anak melewatinya tanpa melihat. Arman, tentu saja, langsung mendaftar—ia selalu mendaftar segala hal. Rendi, sang pesaing yang kini sudah berdamai dengan kami, juga mendaftar.
Aku berdiri di depan papan itu lebih lama dari yang seharusnya.
"Daftar aja, Lih."
Aku menengok. Dimas berdiri di belakangku, tangan di saku.
"Apa?"
"Olimpiade itu. Daftar." Dimas mengangkat dagunya ke arah formulir. "Aku tahu kamu bisa. Kita semua tahu kamu bisa. Cuma kamu yang pura-pura nggak tahu."
"Dimas—"
"Galih." Ia menatapku, jarang-jarang serius. "Tiga tahun kamu jadi otak kerajaan ini. Setiap operasi, setiap strategi, semua dari kamu. Kami yang dapet tepuk tangan, kamu yang ngatur di belakang layar. Kamu nyaman di sana. Aku ngerti." Ia berhenti. "Tapi tahun ini tahun terakhir, Lih. Setelah ini kita berpencar. Kamu kuliah, aku entah ke mana. Masa kamu mau keluar dari sekolah ini tanpa sekali pun orang tahu siapa kamu sebenarnya?"
Kata-kata itu menohok lebih dalam dari yang kuduga.
"Kalau aku daftar," kataku pelan, "semua orang bakal tahu."
"Iya. Dan itu bagus." Dimas tersenyum. "Galih, kamu nyembunyiin otak kamu biar nggak dipake orang. Tapi sekarang kerajaan ini bukan soal ngumpet lagi. Kita udah belajar—yang bagus itu nggak disembunyiin, dipake buat hal yang bener."
Malam itu aku menceritakannya pada ibuku. Tentang formulir. Tentang keraguanku. Tentang kata-kata Dimas.
Ibuku meletakkan cucian yang sedang dilipatnya. Ia tidak langsung menjawab. Lalu ia berkata, "Kamu inget waktu kelas lima SD, kamu menang lomba cerdas cermat, terus pulang-pulang malah nangis?"
Aku ingat. Samar.
"Kamu nangis bukan karena kalah," kata Ibu. "Kamu menang. Kamu nangis karena tiba-tiba semua orang ngelihatin kamu. Sejak itu kamu mutusin lebih enak nggak kelihatan." Ibu menatapku lembut. "Ibu nggak pernah maksa kamu. Tapi Ibu selalu sedih lihat anak Ibu mengecilkan diri sendiri biar nyaman."
Aku menunduk.
"Daftar atau nggak, itu pilihan kamu, Lih," lanjut Ibu. "Tapi jangan milih karena takut. Pilih karena kamu mau."
Keesokan harinya, aku berdiri lagi di depan papan kelas. Tanganku memegang pulpen. Di belakangku, tanpa kuminta, Dimas, Reza, dan Bayu berdiri menonton—bukan menertawakan, hanya menunggu, seperti yang dulu mereka lakukan untuk Arman.
Aku menulis namaku di formulir. Galih. Lengkap. Tidak setengah-setengah.
Begitu pulpen kuangkat, Reza bersorak keras sampai Bu Sari yang lewat menengok heran. Bayu mengepalkan tangan ke udara. Dimas tidak berkata apa-apa—ia hanya menepuk bahuku, sekali, dan dalam tepukan itu ada semua hal yang tidak perlu diucapkan.
Arman, dari bangku depan, menengok ke arahku. "Akhirnya," katanya. "Kukira aku nggak punya saingan beneran."
"Kamu nggak punya," kataku, dan untuk pertama kali aku mengatakannya tanpa malu. "Tapi sekarang kamu punya."
Arman tertawa, dan ada kilau di matanya yang kuartikan sebagai tantangan—tantangan yang sehat, antara dua orang yang saling menghormati.
Malam itu aku mengirim pesan ke ibuku: "Aku daftar, Bu."
Balasannya datang cepat, hanya satu kalimat: "Ibu bangga, Galih. Dari dulu, bukan baru sekarang."
Aku membaca pesan itu tiga kali. Lalu, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, aku tidak merasa perlu bersembunyi.