Tidak setiap luka sembuh sekaligus. Aku tahu itu. Arman juga tahu.
Beberapa hari setelah percakapan dengan Bu Tania, ada satu pagi di mana Arman datang ke sekolah dengan wajah yang lebih murung dari biasanya. Ia menjawab sapaan seadanya, duduk di bangku depan, dan menatap papan tulis kosong terlalu lama. Bu Tania kebetulan tidak ada jam mengajar hari itu—mungkin justru itu yang bikin Arman makin sepi. Kelas terasa berbeda tanpa beliau, seperti ruangan yang lampunya satu mati.
Aku, Dimas, dan Bayu sudah hampir mendekat untuk menghiburnya. Tapi Reza menghadang kami dengan tangannya yang besar.
"Biar aku," katanya.
"Kamu?" Dimas mengernyit. "Za, kamu jago makan, bukan jago ngehibur orang."
"Justru," kata Reza, serius, "kalian itu kalau ngehibur kebanyakan ngomong. Arman lagi nggak butuh kata-kata. Aku tahu rasanya sedih. Pas sedih, kata-kata malah bikin pusing."
Kami membiarkannya. Penasaran lebih dari apa pun.
Reza berjalan ke bangku depan. Ia menarik kursi kosong di sebelah Arman, mengeluarkan kotak bekalnya yang besar—kotak yang isinya selalu jadi misteri karena tidak pernah habis—dan membukanya di atas meja Arman tanpa berkata apa-apa.
Arman menengok, agak heran. "Apa ini?"
"Roti," kata Reza. "Yang isi cokelat, sama yang isi keju. Pilih."
"Aku nggak laper, Za."
"Bukan soal laper." Reza meletakkan satu roti cokelat di depan Arman. "Ibuku selalu bilang, kalau lagi sedih, badan butuh tenaga buat sedih. Sedih itu capek. Makanya orang sedih harus makan. Biar kuat sedihnya."
Logika itu sama sekali tidak masuk akal. Tapi entah kenapa, Arman mengambil roti itu.
Reza juga mengambil satu, untuk dirinya sendiri. Lalu mereka berdua makan, di bangku depan, dalam diam. Tidak ada nasihat. Tidak ada "kamu pasti bisa lewatin ini." Tidak ada "Bu Tania bukan satu-satunya." Hanya dua orang yang mengunyah roti bersebelahan.
Dari pojok belakang, aku, Dimas, dan Bayu menonton dengan takjub.
Setelah beberapa suapan, Arman mulai bicara—pelan, tanpa diminta. "Aku kemarin lewat ruang guru. Liat dia lagi ngeberesin meja. Lagi packing buku-bukunya." Ia menelan. "Tiba-tiba aku sadar, sebentar lagi meja itu kosong. Terus aku nggak punya alasan datang pagi-pagi lagi."
Reza mengunyah, mengangguk. "Iya."
"Aku ngerasa bego. Tiga tahun aku datang pagi cuma buat sekolah, sejak Bu Tania ada aku datang lebih pagi lagi buat liat dia. Sekarang dia mau pergi, dan aku nggak tahu mesti datang pagi buat apa."
"Buat roti," kata Reza enteng. "Aku selalu di sekolah pagi. Bawa roti. Kalau kamu datang pagi, kita makan bareng."
Arman tertawa—pelan, kemudian agak keras. Dan di tengah tawa itu, matanya basah. Air mata dan tawa keluar bersamaan, tumpang tindih, seperti hujan saat matahari masih ada.
"Kamu nawarin temenan lewat roti," kata Arman, mengusap mata.
"Roti itu serius," kata Reza, sepenuhnya jujur. "Aku nggak nawarin roti ke sembarang orang."
Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya, tapi momen itu—Reza yang badannya paling besar, yang katanya cuma bisa makan, yang paling polos di antara kami—justru menjadi orang yang paling tahu cara menyembuhkan. Bukan dengan kalimat indah. Dengan kehadiran. Dengan roti. Dengan duduk di sebelah orang yang sedih dan menolak membiarkannya sendirian.
Bel masuk berbunyi. Reza menutup kotak bekalnya, menyisakan separuh untuk Arman. "Sisanya buat nanti. Kalau sedih lagi, makan lagi."
Arman menerima kotak itu. "Makasih, Za."
"Sama-sama." Reza berdiri, menepuk bahu Arman sekali, lalu kembali ke pojok belakang dengan langkah santai seakan baru saja melakukan hal paling biasa di dunia.
Begitu Reza sampai, Dimas menatapnya dengan ekspresi yang belum pernah kulihat. "Za," katanya. "Itu... tadi itu hebat banget."
Reza mengangkat bahu. "Aku cuma bagi roti."
"Bukan." Bayu menggeleng. "Kamu bagi sesuatu yang lebih dari roti."
Reza tidak mengerti, dan itu justru yang membuatnya makin hebat. Ia tidak melakukannya untuk dipuji. Ia melakukannya karena ia tahu, dengan cara yang sederhana dan jujur, bahwa orang yang sedih butuh ditemani—bukan dinasihati.
Di bangku depan, Arman membuka bukunya, dan untuk pertama kali pagi itu, bahunya tidak lagi tegang.