Kami berjalan kaki mengantar Arman pulang, meski rumahnya berlawanan arah dengan rumah kami semua. Tidak ada yang menyebutnya. Kami hanya berbelok ke kiri mengikuti langkahnya, dan dia tidak menyuruh kami balik.
Langit sudah jingga. Toko-toko mulai menyalakan lampu. Kami berjalan dalam diam yang aneh—diam yang penuh, bukan diam yang canggung.
"Aku kira bakal lebih sakit," kata Arman tiba-tiba, memecah keheningan. "Patah hati. Aku kira bakal hancur."
"Nggak hancur?" tanya Reza, hati-hati.
"Sakit. Tapi nggak hancur." Arman memandang ke depan, ke trotoar yang memanjang. "Aku pikir kalau ditolak, aku bakal ngerasa malu seumur hidup, ngerasa bego udah berani ngomong. Tapi sekarang malah kebalikannya. Aku lega. Kayak ada batu di dada yang akhirnya aku letakin."
Bayu, yang masih agak sembap, mengangguk-angguk. "Itu bagus, kan?"
"Iya, itu bagus." Arman tersenyum tipis. "Bu Tania bener. Aku berani. Bukan bego." Ia diam sebentar. "Kalian tahu apa yang bikin aku nggak hancur?"
Kami menggeleng.
"Karena pas aku keluar dari ruangan itu, ada empat orang konyol duduk di lantai koridor, dua di antaranya nangis lebih kenceng dari aku." Arman tertawa—tawa sungguhan, meski matanya masih basah. "Aku tahu kalau aku jatuh, ada yang nangkep. Itu yang bikin beda. Tahun lalu aku bakal ngadepin ini sendirian. Di kamar. Tanpa siapa-siapa."
Dimas menepuk punggungnya. "Kamu nggak sendirian lagi, bos."
"Iya." Arman menengok ke arah Dimas. "Itu yang aneh, ya. Setahun lalu kalian musuh bebuyutanku. Aku benci kalian. Beneran benci. Kalian bikin onar, ngerusak suasana kelas yang aku jaga mati-matian, ngejadiin aku bahan ketawaan." Ia berhenti berjalan. "Terus kalian njadiin perasaanku ke Bu Tania jadi proyek lucu-lucuan. Itu titik terendah. Aku bener-bener benci kalian waktu itu."
Tidak ada yang menyangkal. Kami pantas mendengarnya.
"Tapi terus," lanjut Arman, "kalian nggak kabur. Kalian minta maaf, ditolak, minta maaf lagi. Kalian benerin pameran. Kalian dengerin aku cerita soal kenapa aku selalu kaku. Dan hari ini, pas aku ngelakuin hal paling nekat dalam hidupku, kalian nungguin di lantai koridor kayak orang bego." Ia menggeleng pelan, takjub. "Aku nggak ngerti gimana musuh bisa berubah jadi temen paling deket. Tapi itu yang kejadian."
Aku mengingat janji lama, syarat yang kupasang di awal—becandaan tidak boleh sampai merusak hidup orang. Kami sempat melanggarnya, dan kami nyaris kehilangan segalanya. Tapi mungkin justru karena kami melanggarnya, lalu berjuang memperbaikinya, persahabatan ini jadi sesuatu yang nyata. Bukan persahabatan yang gampang. Persahabatan yang sudah lewat api.
"Kamu tahu," kata Arman lagi, sambil menendang kerikil kecil di trotoar, "dulu aku ngeliat kalian setiap pagi, ketawa-ketawa di pojok belakang, dan aku iri. Beneran iri. Aku ketua kelas, aku yang paling rajin, aku yang dipuji guru. Tapi nggak ada yang nungguin aku pas aku pulang. Nggak ada yang nyimpenin tempat duduk buat aku." Ia mengangkat bahu. "Aku dulu mikir aku benci kalian karena kalian berisik. Sekarang aku ngerti aku benci kalian karena kalian punya sesuatu yang aku nggak punya."
"Sekarang kamu punya," kata Bayu pelan.
Arman tersenyum, dan kali ini senyumnya sampai ke matanya.
"Arman," kataku. "Kamu tahu nggak, dari awal misi kami—yang konyol dan salah itu—ada satu niat yang nggak salah. Kami pengen kamu, sekali aja di tahun terakhir, ngerasa bahagia. Soalnya kamu selalu kelihatan kayak orang yang nggak pernah beneran seneng."
Arman terdiam.
"Caranya salah total," lanjutku. "Tapi niatnya nggak. Dan sekarang—walau bukan dengan cara yang kami rencanain—kamu malah dapet sesuatu yang lebih bagus dari yang kami pengen. Kamu dapet temen."
Arman menatapku lama. Lalu ia mengangguk, dan untuk pertama kali sejak hari koridor itu, ia tersenyum tanpa beban apa pun.
"Iya," katanya. "Aku dapet temen."
Kami melanjutkan jalan. Reza mulai bercerita soal warung baru yang katanya jual roti seukuran bantal, dan Bayu protes itu pasti hoaks, dan Dimas mengusulkan investigasi resmi aliansi pojok belakang. Arman ikut tertawa, ikut berdebat, ikut menjadi bagian dari keributan yang dulu ia benci.
Patah hati, ternyata, tidak selalu berarti kehilangan. Kadang, di tengah kehilangan, kau justru menemukan hal yang seharusnya kau punya dari awal. Arman kehilangan harapan pada Bu Tania sore itu. Tapi ia pulang dengan empat teman berjalan di sampingnya, dan untuk pertama kali dalam tiga tahun, ia tidak buru-buru sampai rumah.