Hari itu tiba lebih cepat dari dugaan siapa pun.
Sepulang sekolah, ruang panitia pameran—yang kini setengah kosong karena maketnya sudah dibongkar—masih dipakai Bu Tania untuk menyusun laporan akhir magang. Arman memintaku, Dimas, Reza, dan Bayu menunggu di koridor. Tidak masuk. Tidak menonton. Hanya menunggu.
"Buat jaga-jaga aku kabur," kata Arman, mencoba bercanda, tapi tangannya gemetar.
"Kami nggak akan biarin kamu kabur," kata Dimas. "Tapi kalau kamu butuh kabur beneran, kami juga nggak akan biarin kamu sendirian."
Arman mengangguk. Lalu ia mengetuk pintu ruang panitia, dan masuk.
Kami berempat duduk bersila di lantai koridor, bersandar ke dinding. Kami tidak mengintip. Itu janji kami. Tapi pintunya tidak tertutup rapat—tertinggal celah—dan suara mereka, tanpa kami sengaja, sampai ke telinga kami. Aku ingin menutupnya, ingin pergi. Tapi pintu itu ada di sisi seberang dan kami terlalu takut bergerak. Jadi kami diam, dan kami dengar.
"Bu, boleh ngomong sebentar?" Suara Arman.
"Boleh, Arman. Duduk." Suara Bu Tania, hangat, tidak curiga.
Hening sebentar. Lalu suara kursi ditarik.
"Bu, ini... susah banget buat aku omongin." Suara Arman serak. "Tapi kalau aku nggak ngomong sekarang, aku bakal nyesel seumur hidup. Jadi tolong dengerin aku sampai selesai, terus Ibu boleh bilang apa pun."
Hening. Aku membayangkan Bu Tania meletakkan pulpennya.
"Dari pertama Ibu masuk kelas," kata Arman, "aku... aku ngerasa sesuatu. Yang aku nggak ngerti waktu itu. Aku jadi salah tingkah. Aku datang pagi-pagi cuma biar bisa lihat Ibu nyiapin materi dari jendela. Aku nyatet kalimat-kalimat Ibu yang nggak penting. Teman-teman bahkan bikin daftar soal aku—dan mereka nggak salah." Napasnya berat. "Aku naksir Ibu. Dari dulu. Bukan karena ada yang ngatur. Murni dari aku."
Di koridor, Bayu meremas lututnya. Reza menunduk. Dimas memejamkan mata. Aku menahan napas.
Hening yang panjang.
Lalu suara Bu Tania, pelan, hati-hati, tanpa sedikit pun nada menertawakan. "Arman. Terima kasih sudah jujur. Itu butuh keberanian yang besar. Lebih besar dari yang kamu sadari."
"Bu, aku—"
"Tunggu. Biar Ibu selesaikan, ya, seperti kamu minta Ibu dengerin kamu." Suara beliau lembut tapi tegas. "Aku nggak akan ketawa, dan aku nggak akan bikin kamu malu. Perasaan kamu nyata, dan nyata itu pantas dihormati. Tapi aku harus jujur balik ke kamu, karena kamu pantas dapat kejujuran."
Aku menahan napas.
"Aku gurumu, Arman. Walaupun umur kita nggak jauh, garis itu nyata, dan garis itu ada bukan buat nyakitin kita—tapi buat ngelindungin kita berdua. Terutama kamu. Kamu masih punya seluruh dunia di depan. Sekolah ini, masa SMA ini, perasaan-perasaan pertama ini—semuanya bagian dari kamu tumbuh. Suatu hari nanti kamu bakal ketemu seseorang yang bisa kamu cintai tanpa garis apa pun di antara kalian. Dan waktu itu datang, kamu bakal sadar yang sekarang ini bukan kesalahan—ini latihan hati kamu jadi lebih besar."
Suara Arman, nyaris berbisik. "Jadi jawabannya nggak."
"Jawabannya," kata Bu Tania, dan untuk pertama kali suaranya sedikit bergetar, "adalah aku menghargai kamu lebih dari yang bisa kamu bayangkan—sebagai murid yang luar biasa, sebagai orang yang baik, sebagai anak muda yang berani jujur waktu jujur itu paling susah. Tapi sebagai... yang kamu harapkan, jawabannya nggak bisa iya. Bukan karena kamu kurang. Tapi karena ada hal yang lebih besar dari perasaan kita: yang benar."
Hening lagi. Lalu, samar, suara Arman—bukan tangisan keras, hanya tarikan napas yang patah.
"Makasih, Bu," katanya akhirnya. "Beneran. Makasih udah nggak bikin aku ngerasa konyol."
"Kamu nggak konyol, Arman. Kamu berani. Itu beda jauh."
Kami berempat di koridor saling memandang. Tidak ada yang bicara. Bayu menangis tanpa suara. Bahkan Dimas, yang punya jawaban untuk segalanya, hanya menunduk dan membiarkan air mukanya jatuh.
Pintu ruang panitia terbuka. Arman keluar, matanya merah, tapi anehnya—wajahnya tenang. Seperti orang yang baru meletakkan beban yang sudah terlalu lama dipikul.
Ia melihat kami berempat duduk di lantai. Ia tahu kami mendengar. Tapi ia tidak marah.
"Selesai," katanya pelan. "Aku nggak nyesel."