Pengumuman itu datang di tengah pelajaran Sejarah, hari Kamis, saat hujan menderas di luar jendela.
Bu Tania berdiri di depan kelas, kapur masih di tangannya, baru selesai menerangkan satu bab tentang pergerakan nasional. Beliau meletakkan kapur, menepuk tangannya untuk membersihkan debu, lalu memandang kami semua—seluruh kelas, bukan hanya pojok belakang.
"Anak-anak, sebelum bel, ada yang mau Ibu sampaikan. Bukan soal materi."
Kelas langsung tenang. Bahkan Reza meletakkan rotinya.
"Seperti yang sebagian dari kalian mungkin sudah tahu, Ibu di sini sebagai guru magang. Satu semester. Itu memang program dari kampus Ibu." Beliau tersenyum, tapi ada sesuatu di balik senyum itu. "Nah, masa magang Ibu sebentar lagi selesai. Dan ada kabar—Ibu dapat tawaran mengajar tetap. Di sebuah sekolah, di kota lain."
Aku merasakan seluruh kelas menahan napas serentak. Aku tidak berani menengok ke bangku depan, ke arah Arman.
"Ibu sudah menerima tawaran itu," lanjut Bu Tania, dan suaranya mantap meski matanya melembut. "Itu keputusan yang nggak gampang. Ibu sudah betah di sini. Tapi jadi guru tetap, di tempat yang butuh guru sejarah—itu yang Ibu cita-citakan dari dulu. Ibu nggak bisa menolaknya cuma karena Ibu sayang sama satu kelas."
Bayu, di sebelahku, sudah mulai mengusap matanya.
"Kenapa Ibu cerita sekarang?" Bu Tania melanjutkan, seolah membaca pertanyaan di kepala kami semua. "Karena Ibu nggak mau kalian dengar dari orang lain. Karena kalian berhak tahu langsung dari Ibu. Dan karena," beliau berhenti sebentar, "Ibu mau beberapa minggu terakhir ini jadi minggu yang baik. Bukan minggu yang penuh kesedihan dari sekarang. Masih ada waktu. Kita habiskan dengan baik, ya?"
Seseorang di barisan tengah—anak perempuan yang biasanya pendiam—mengangkat tangan. "Bu, kota mana?"
Bu Tania menyebut nama sebuah kota yang cukup jauh. Cukup jauh sehingga semua orang di kelas paham artinya: ini bukan sekadar pindah ke sekolah seberang jalan. Ini perpisahan yang sungguhan.
Aku akhirnya berani menengok ke depan.
Arman duduk tegak, seperti biasa. Wajahnya tenang, bahkan terlalu tenang. Tapi aku melihat tangannya di atas meja—mengepal, pelan, sampai buku jarinya memutih. Ia tidak menangis. Ia tidak bereaksi berlebihan. Ia hanya menatap papan tulis, dan dalam pandangan itu ada sesuatu yang patah dengan sangat sopan.
Bel berbunyi. Bu Tania mengangkat suara di atas keributan. "Pelan-pelan keluarnya, hujan deras. Jangan ada yang lari-larian di koridor."
Kelas bubar dengan suasana yang aneh—setengah ramai, setengah berkabung. Beberapa anak perempuan mengerumuni meja Bu Tania, bertanya ini-itu. Arman tidak ikut. Ia merapikan bukunya, memasukkannya ke tas dengan urutan yang sama persis seperti yang ia lakukan setiap hari, dan keluar lewat pintu belakang.
Aku mengejarnya ke koridor.
"Arman."
Ia berhenti, tapi tidak menoleh.
"Kamu nggak apa-apa?"
"Aku tahu dia bakal pergi," kata Arman, suaranya datar. "Aku udah tahu dari kemarin. Tapi denger dia bilang sendiri, di depan kelas, sambil senyum kayak gitu..." Ia menarik napas. "Beda rasanya, Lih. Beda."
Aku berdiri di sampingnya. Hujan memukul atap koridor di atas kami, ribut dan basah.
"Dia milih karirnya," kata Arman. "Dan kamu tahu yang paling nyakitin? Aku malah jadi makin kagum sama dia gara-gara itu. Dia bukan tipe yang nyangkut di satu tempat cuma karena nyaman. Dia maju." Ia tertawa kecil, pahit. "Gimana aku bisa berhenti naksir orang kayak gitu?"
"Mungkin nggak usah berhenti," kataku hati-hati. "Mungkin cukup kamu hormatin. Kekaguman itu nggak harus jadi sesuatu yang kamu kejar. Kadang kekaguman ya cukup jadi kekaguman aja."
Arman menatapku, mencerna kata-kata itu. "Itu kamu yang ngomong, atau buku yang kamu baca?"
"Dua-duanya," akuku, dan ia tertawa—pelan, tapi sungguhan.
Aku tidak menjawab. Tidak ada jawaban yang benar.
"Beberapa minggu," kata Arman pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepadaku. "Aku punya beberapa minggu." Ia akhirnya menoleh, dan matanya, meski merah, jelas. "Aku udah mutusin. Aku bakal ngomong. Sekali. Bukan buat ngarep dia berubah pikiran. Tapi buat aku sendiri bisa lepas. Kamu... kalian, masih mau temenin aku?"
Aku ingat keputusan kami di kantin. Mengaku boleh. Memaksa tidak. Menemani, apa pun hasilnya.
"Iya," kataku. "Kami temenin."