Kami menggelar "rapat" di kantin sepulang sekolah. Bukan rapat aliansi delapan orang—cukup kami berempat, di meja pojok yang sama. Reza memesan dua porsi karena katanya berpikir butuh tenaga. Bayu mengaduk es teh sampai sendoknya berdenting tanpa henti, tanda dia gelisah.
"Jadi gini," buka Dimas, menyandarkan siku ke meja. "Arman mau minta saran. Kita mau ngomong apa?"
"Dulu," kata Bayu, "kalau ada yang naksir, kita langsung bikin rencana. Surat, setting ketemu, segala macam."
"Dulu," potongku, "itu yang bikin semuanya hancur, Bay."
Bayu langsung diam. Aku tidak bermaksud setajam itu, tapi kata itu perlu diucapkan.
Reza mengunyah, lalu menelan, lalu bicara dengan mulut nyaris penuh. "Kalau menurutku sih, kasihan Arman. Suka tapi nggak boleh suka. Kayak aku lihat etalase roti pas dompet kosong."
"Itu nggak sama, Za," kata Dimas.
"Sama. Sama-sama sakit." Reza menunjuk dadanya. "Di sini."
Anehnya, perumpamaan Reza yang konyol itu justru paling tepat dari semua yang kami ucapkan sore itu.
Aku menarik napas dan meletakkan kedua tanganku di meja. "Dengar. Aku mikir keras semalam. Dan aku sampai ke satu kesimpulan yang... ironis banget buat kita."
"Apa?" tanya Dimas.
"Kita harus nasihatin Arman buat nggak ngejar."
Hening. Bahkan denting sendok Bayu berhenti.
"Tunggu, tunggu." Dimas mengangkat kedua tangan. "Galih. Kita ini kerajaan yang seluruh proyek terbesarnya adalah njodohin Arman sama Bu Tania. Sekarang kamu nyuruh kita nyuruh Arman mundur?"
"Justru karena itu." Aku menatapnya. "Dulu kita njodohin karena kita mikir cinta itu kayak teka-teki yang bisa dirakit. Tinggal atur ketemunya, atur situasinya, beres. Kita salah, Dim. Cinta nggak begitu. Dan yang lebih penting—Bu Tania itu guru. Arman murid. Garis itu bukan halangan yang bisa diakalin. Itu garis yang kalau dilewatin, yang rugi Bu Tania. Karirnya, namanya, semuanya. Dia mahasiswa yang lagi magang, lagi nyusun masa depan."
Dimas terdiam, mengunyah informasi itu pelan-pelan.
"Jadi," lanjutku, "kalau kita beneran sayang sama Arman—dan kalau kita beneran udah belajar dari kesalahan—kita nggak boleh dorong dia buat ngejar sesuatu yang bakal nyakitin Bu Tania dan nyakitin dia sendiri. Kita harus jujur sama dia, sepahit apa pun."
Bayu mengangkat kepalanya. "Tapi Arman bilang dia nggak mau nyesel. Dia mau setidaknya ngomong sebelum Bu Tania pergi."
"Itu beda," kataku. "Ngomong jujur soal perasaan—mengakui, lalu melepaskan—itu beda sama ngejar. Ngejar itu maksa hasil. Ngaku itu jujur sama diri sendiri, terus terima apa pun jawabannya. Yang pertama egois. Yang kedua berani."
Dimas memandangku lama. Lalu ia tersenyum kecil, senyum yang capek tapi mengerti. "Kamu tahu nggak, Lih, dulu aku yang selalu mikir aku sutradara. Padahal dari awal otaknya kamu."
"Aku cuma kebanyakan baca," kataku.
"Bukan." Dimas menggeleng. "Kamu yang dari awal masang syarat. 'Kalau ada yang sakit hati, kita berhenti.' Aku ketawain syarat itu dulu. Sekarang aku ngerti—itu satu-satunya hal waras yang pernah kita punya."
Reza, yang sudah menghabiskan satu porsi, mengangkat sendoknya seperti mengangkat gelas. "Jadi keputusannya: kita bilang ke Arman, ngaku boleh, tapi jangan maksa. Dan kita temenin dia apa pun hasilnya."
"Setuju," kata Bayu.
"Setuju," kata Dimas.
Aku mengangguk. "Setuju."
Kami tidak menumpuk empat tangan seperti dulu—gestur kerajaan itu rasanya milik masa yang sudah lewat. Kali ini kami hanya saling memandang, dan itu cukup.
Sepulangnya, aku berjalan sendirian melewati lapangan yang kosong. Aku memikirkan betapa anehnya hidup: dulu kami bersusah payah merancang cara mendekatkan dua orang, dan sekarang kami bersusah payah memikirkan cara yang benar untuk menjaga jarak. Dulu kami pikir kebaikan itu soal hasil yang lucu. Sekarang aku tahu kebaikan itu sering kali soal hal yang tidak terlihat sama sekali—soal mundur ketika maju lebih menggoda.
Bangku belakang, ternyata, sudah belajar memberi nasihat. Dan nasihat terbaik yang pernah kami berikan adalah nasihat yang sama sekali tidak lucu.