Arman datang ke bangku belakang keesokan paginya. Itu sendiri sudah aneh. Dalam tiga tahun, Arman tidak pernah secara sukarela mendekati teritori kami; pojok belakang dekat jendela adalah kerajaan kami, dan ia ketua kelas yang dulu menganggap kami koloni pemberontak.
Pagi itu kelas masih sepi. Hanya kami berempat dan dia. Arman berdiri di samping bangku Reza, memegang tali tasnya erat-erat.
"Aku boleh ngomong sesuatu?" tanyanya. "Tapi kalian janji nggak ketawa."
"Tergantung," kata Dimas otomatis.
"Dimas," kataku tajam.
"Iya, iya. Kami nggak ketawa." Dimas menarik kursi. "Duduk, bos."
Arman duduk. Ia memandang ke luar jendela, ke arah ruang guru di seberang lapangan, dan aku langsung tahu apa yang akan dia katakan sebelum mulutnya bergerak.
"Aku..." Ia berhenti. Menggigit bibir. "Aku memang naksir Bu Tania. Dari awal. Bukan karena kalian setting. Sebelum kalian ada rencana apa pun, aku sudah... ya, begitu."
Bayu, refleks lama, hampir meraih pulpennya seakan mau mencatat. Aku menahan tangannya. Bukan waktunya.
"Aku tahu itu konyol," lanjut Arman. "Dia guru. Aku murid. Dia cuma beberapa tahun lebih tua, tapi tetap saja garisnya jelas. Aku tahu. Aku tahu banget." Ia mengusap wajahnya. "Tapi pengetahuan itu nggak ngubah apa yang aku rasain. Itu yang bikin frustrasi. Kalian dulu bikin rencana buat ngedeketin kami, terus rencana itu bubar, dan aku marah ke kalian—tapi perasaan ini... nggak ikut bubar. Dia masih ada. Karena dari awal dia memang nggak pernah kalian yang bikin."
Hening. Kelas yang biasanya penuh lelucon mendadak tidak punya satu pun.
Aku memikirkan janji lama. Janji yang kubuat di awal kerajaan ini—becandaan tidak boleh sampai merusak hidup orang. Dan aku memikirkan betapa kami dulu memperlakukan perasaan Arman seperti mainan, seperti benang yang bisa ditarik ke sana kemari demi tawa. Sekarang, mendengarnya bicara sejujur ini, aku merasa malu yang berbeda dari malu di koridor. Malu yang lebih tenang. Malu yang dewasa.
"Arman," kataku akhirnya, "kenapa kamu cerita ini ke kami? Dari semua orang."
Arman tertawa kecil, getir. "Karena kalian satu-satunya yang tahu. Dan karena... entah, mungkin karena setelah semua yang terjadi, ternyata kalianlah yang paling ngerti rasanya naksir orang yang nggak mungkin." Ia menatap kami satu per satu. "Reza naksir warung. Bayu naksir semua orang yang baik ke dia. Dimas naksir suara tepuk tangan. Galih naksir buku." Ia menyeringai tipis. "Kita semua naksir yang nggak bisa kita punya, kan?"
Untuk pertama kali pagi itu, kami tertawa—tapi tawa yang lembut, bukan tawa yang menertawakan dia.
"Aku cuma," lanjut Arman, suaranya turun, "aku cuma nggak mau nyimpen ini sendirian sampai dia pergi. Aku dengar Bu Tania mau selesai magang. Iya?"
Aku mengangguk pelan. Kabar itu belum resmi diumumkan ke kelas, tapi di aula malam itu Bu Tania sudah menyiratkannya pada kami berempat, dan rasanya tidak adil menyembunyikannya dari Arman—bukan sekarang, bukan setelah ia sejujur ini.
Arman menutup matanya sebentar. "Berarti aku punya beberapa minggu buat mutusin: aku diem aja sampai dia pergi, atau aku ngomong, terima ditolak, dan setidaknya nggak nyesel."
Dimas, yang biasanya punya jawaban untuk segalanya, untuk sekali ini diam. Ia memandangku, seolah meminta arah. Tapi aku juga tidak punya jawaban yang gampang.
Karena untuk pertama kalinya, kami—kerajaan pojok belakang, ahli mengatur, ahli merekayasa, ahli menjodohkan—berhadapan dengan sesuatu yang sama sekali tidak bisa kami atur. Perasaan Arman bukan proyek. Bukan settingan. Bukan benang untuk ditarik.
Dan kali ini, kami tahu, apa pun yang akan kami katakan padanya, kami harus mengatakannya bukan sebagai sutradara—tapi sebagai teman.
Bayu, di sampingku, akhirnya tidak tahan. Tangannya refleks bergerak seakan mau mencatat—lalu berhenti. Buku "BUKTI ARMAN NAKSIR", yang dulu berhenti di nomor delapan, sudah lama jadi abu di tong belakang sekolah.
"Kenapa nggak kamu tulis, Bay? Kayak dulu?" tanya Reza.
"Karena," kata Bayu pelan, "sekarang bukan bukti lucu-lucuan lagi. Sekarang ini beneran." Ia menurunkan tangannya pelan-pelan, seperti menutup sesuatu yang memang sudah selesai sejak lama.
Bel masuk berbunyi. Arman berdiri, mengembalikan kursi ke tempatnya dengan rapi seperti biasa. Sebelum kembali ke bangku depan, ia menoleh.
"Makasih sudah dengerin," katanya. "Kalian beneran berubah, ya."
Lalu ia pergi ke depan, ke bangku ketua kelas, meninggalkan kami berempat dengan satu pertanyaan yang tidak bisa dijawab dengan lelucon.