Aula yang gelap punya akustik aneh. Setiap langkah memantul, setiap bisik terdengar dua kali. Kami berenam—aku, Dimas, Reza, Bayu, dan dua anak IPS 4 yang ikut bantu beres-beres, Bagas dan Hendra—menyusun kursi lipat ke pinggir, menumpuknya rapi seperti yang diminta Bu Sari. Fajar dan Doni sudah pulang lebih dulu mengantar pinjaman sound ke ruang OSIS.
"Sisa satu meja arsip," kata Bagas, mengelap keringat. "Geser ke gudang belakang panggung, terus kita selesai."
Kami mengangkatnya berempat. Berat. Reza menggerutu bahwa ototnya sudah lembur seharian. Begitu meja terpasang di gudang, aku menengok ke aula utama—dan di sana, di bawah satu-satunya lampu yang masih menyala di dekat panggung, Bu Tania berdiri sendirian.
Beliau memegang clipboard, mencatat sesuatu. Rambutnya yang seharian rapi sudah mulai lepas dari jepitnya. Beliau terlihat lelah, tapi tenang.
Sejak hari kebenaran terbongkar—sejak hari di koridor itu—kami berempat tidak pernah benar-benar punya momen bicara empat mata dengan Bu Tania selain soal teknis pameran. Kami sudah menyerahkan surat maaf. Kami sudah berhenti merekayasa. Tapi luka itu, aku tahu, tidak hilang hanya karena pameran sukses.
Dimas menyenggol lenganku. "Sekarang?"
"Sekarang," kataku.
Kami mendekat. Bu Tania mendongak, dan untuk sesaat aku takut wajah itu kembali dingin seperti di hari koridor. Tapi tidak. Beliau hanya menatap kami, lalu tersenyum tipis—senyum yang capek tapi tulus.
"Aula yang besar terasa kecil kalau sudah penuh orang seharian, ya," kata beliau. "Sekarang sepi, malah terasa besar lagi."
Tidak ada yang tahu harus menjawab apa. Akhirnya Dimas, yang biasanya tidak pernah kehabisan kata, malah cuma berkata, "Bu, makasih. Sudah tetap lanjutin pameran ini. Padahal Ibu punya seribu alasan buat batalin."
Bu Tania meletakkan clipboard-nya. "Aku nggak batalin karena ini bukan punyaku. Ini punya angkatan kalian." Beliau diam sebentar. "Tapi... aku juga mau jujur. Aku sempat marah. Lama. Bukan karena kalian merencanakan sesuatu yang konyol—anak SMA memang begitu. Aku marah karena aku dijadikan bagian dari rencana tanpa pernah ditanya."
"Iya, Bu." Suaraku keluar lebih pelan dari yang kuinginkan. "Itu kesalahan paling besar kami. Kami mikirin kebahagiaan Arman, mikirin lucu-lucuan kami, tapi kami nggak pernah sekalipun mikir Ibu juga manusia yang punya perasaan."
Bu Tania menatapku lama. Aku siap dimarahi. Sebagai gantinya, beliau berkata, "Surat kalian aku baca. Tiga kali."
Bayu menahan napas.
"Yang bikin aku akhirnya bisa nerima," lanjut Bu Tania, "bukan kalimat 'maaf'-nya. Tapi karena kalian akhirnya nulis tentang aku sebagai aku. Bukan sebagai 'guru magang yang dijodohin.'" Beliau tersenyum, kali ini lebih lebar. "Makasih untuk itu."
Reza, dengan caranya yang khas, langsung mengulurkan satu kotak roti yang entah dari mana. "Bu, makan dulu. Ibu belum makan dari siang, kelihatan."
Bu Tania tertawa kecil dan menerimanya. "Kamu ini, Reza. Tiga tahun di sekolah, hafalnya cuma jam makan orang."
"Itu keahlian, Bu," sahut Reza bangga.
Kami semua tertawa. Untuk pertama kalinya, tawa itu menyertakan Bu Tania. Bukan tawa yang dibuat-buat. Bukan tawa yang dipasang demi proyek. Tawa biasa, antara guru dan murid yang sudah saling melewati hal yang sulit.
Tapi kemudian Bu Tania menarik napas, dan ada sesuatu dalam tarikan napas itu yang membuat tawa kami pelan-pelan reda.
"Anak-anak," kata beliau, "ada yang harus aku kasih tahu. Belum sekarang detailnya. Tapi kalian harus tahu, masa magangku di sini hampir selesai. Satu semester. Itu yang dari awal dijadwalkan." Beliau memandang aula yang gelap. "Pameran ini... sebenarnya semacam ujung dari tugasku di sini."
Dimas membuka mulut, lalu menutupnya lagi.
"Jangan pasang muka sedih dulu," kata Bu Tania cepat. "Masih ada waktu. Masih ada beberapa minggu. Nikmati saja. Kalian belajar banyak semester ini—dan jujur, aku juga." Beliau mengambil clipboard-nya kembali. "Sekarang pulang. Hari sudah malam, orang tua kalian nunggu."
Kami berjalan keluar aula. Di pintu, aku menengok ke belakang. Bu Tania mematikan lampu terakhir, dan aula tenggelam dalam gelap.
"Galih," bisik Bayu di sebelahku, "Bu Tania mau pergi, ya?"
Aku tidak menjawab. Aku tidak tahu harus bilang apa. Pintu maaf akhirnya terbuka—tapi di baliknya, ternyata, ada pintu lain yang pelan-pelan menutup.