Pameran sudah resmi tutup pukul tiga sore, tapi tepuk tangan itu seperti masih menempel di dinding aula sampai sore menjelang. Aku, Galih, berdiri di dekat panel terakhir—panel "Lorong Waktu Angkatan"—sambil melepas selotip yang sudah menggulung sendiri di ujung kertas. Tanganku lengket. Punggungku pegal. Tapi ada yang ganjil di dadaku, sesuatu yang sudah lama tidak kurasakan di sekolah ini: lega.
Pak Kepala Sekolah berjalan masuk lagi dengan langkah tegapnya yang biasa. Dulu, kalau beliau berjalan ke arah kami berempat, artinya ada yang harus dipanggil ke ruangan, ada yang harus dimarahi, ada ancaman skors yang menggantung. Kali ini beliau berhenti di tengah aula, memandang sekeliling, ke maket yang sudah diperbaiki, ke foto-foto yang tertata rapi, ke meja arsip yang kami susun bertingkat.
"Siapa yang menata bagian ini?" tanya beliau, menunjuk panel sejarah angkatan.
Aku menelan ludah. Reza, yang sedang memeluk kardus berisi sisa snack panitia, langsung menunduk seolah ditanya soal PR yang tidak dikerjakan. Bayu mundur setengah langkah. Dimas, dasar Dimas, malah maju.
"Kami, Pak. Pojok belakang IPS 3." Suaranya tidak sombong, cuma jujur. "Sama anak-anak IPS 4 juga. Sama Arman."
Pak Kepala mengangguk pelan. Beliau diam cukup lama sampai aku mulai menghitung pelarian: pintu samping aula ada di sebelah kiri, sembilan langkah.
"Tahun lalu," kata beliau akhirnya, "saya panggil delapan anak ke ruangan saya gara-gara lantai biru dan kursi berlem."
"Iya, Pak," sahut Fajar dari sudut lain, nyengir tipis. "Saya salah satunya."
"Saya kira kalian akan jadi masalah sampai lulus." Pak Kepala menarik napas. "Saya senang saya salah."
Hening. Bukan hening takut. Hening yang lain.
"Pameran ini," lanjut beliau, "tamu dari Dinas tadi bilang ini yang terbaik dalam lima tahun. Bukan karena maketnya bagus. Tapi karena terasa ada hatinya. Itu yang susah dibikin." Beliau menatap kami satu per satu. "Kerja bagus."
Reza menjatuhkan kardusnya. Snack berhamburan. Untuk sepersekian detik aku panik beliau akan marah—refleks tiga tahun susah hilang—tapi Pak Kepala malah tertawa kecil, membungkuk, mengambil satu wafer, dan pergi sambil mengunyahnya.
Begitu pintu aula menutup, Dimas berbalik ke arah kami dengan mata berbinar seperti anak kecil. "Kalian dengar itu? 'Kerja bagus.' Pak Kepala bilang 'kerja bagus' ke kita!"
"Pelan-pelan," kataku. "Nanti beliau berubah pikiran."
"Galih." Dimas mencengkeram bahuku dua tangan. "Tiga tahun kita di sekolah ini cuma dapat 'turun ke ruangan saya sekarang.' Hari ini kita dapat 'kerja bagus.' Izinkan aku menikmati lima detik."
Aku membiarkannya. Lima detik, lalu sepuluh, lalu Bayu ikut-ikutan mengangkat tangan seperti baru menang lomba, dan Reza memunguti snack sambil tertawa tanpa sebab, dan aku—yang katanya paling kalem—merasakan sudut bibirku naik tanpa bisa kutahan.
Arman berdiri agak jauh, masih dengan name tag panitia di dadanya, dasinya lurus seperti biasa. Tapi ada yang berbeda. Bahunya tidak setegang dulu. Ia tidak buru-buru pergi. Ketika Dimas melambai memanggilnya, ia justru berjalan mendekat.
"Pak Kepala muji kalian," kata Arman.
"Muji kita," koreksi Dimas. "Kamu ketua panitianya, bos."
Arman terdiam. Lalu, pelan, "Dulu kalau ada yang muji, aku selalu mikir, mereka muji karena aku rapi, karena nilaiku bagus. Bukan karena aku." Ia menunduk sebentar. "Tadi rasanya beda. Dipuji bareng kalian."
Bayu, yang tidak pintar menyimpan apa pun, langsung sesenggukan kecil. "Aduh, jangan ngomong begitu, aku belum siap nangis lagi hari ini."
"Kamu nangis tiap hari, Bay," kata Reza, menyodorkan wafer yang sudah agak penyok ke arah Arman. "Nih. Hadiah dari Pak Kepala, dibagi."
Arman menatap wafer itu, lalu mengambilnya. Untuk anak yang dulu tidak pernah mau menerima apa pun dari kami, itu bukan hal kecil.
Aku menyandar ke panel "Lorong Waktu Angkatan", memandang foto lantai biru yang kami pajang sebagai legenda. Tiga tahun. Dari lantai biru ke tepuk tangan. Aku tidak tahu kapan persisnya semuanya berubah, tapi sore itu, di aula yang lampunya mulai diredupkan satu-satu, aku merasa untuk pertama kalinya bangku paling belakang bukan tempat anak-anak buangan—tapi tempat yang, ternyata, bisa dibanggakan.
Lampu terakhir di sayap timur padam. Tapi kami belum mau pulang.