Aula penuh sejak pukul delapan pagi.
Orang tua datang dengan baju rapi, adik-adik kelas berkerumun penasaran, para guru berjalan perlahan menyusuri panel foto sambil menunjuk-nunjuk wajah lama. Pak Kepala Sekolah—yang dulu pernah mengancam delapan anak dengan skors di ruangannya—berdiri di pintu masuk, mengangguk-angguk pada spanduk besar di atas panggung: SEJARAH ANGKATAN INI, DI SEKOLAH INI.
Di balik tirai panggung, Arman gemetar.
"Aku nggak bisa," bisiknya, kertas pidato di tangannya basah oleh keringat. "Galih, mereka banyak banget. Pak Kepala ada. Orang tua ada. Aku—aku nggak pernah ngomong di depan orang sebanyak ini."
"Lo udah latihan," kataku tenang. "Lima kali. Sama kita."
"Latihan sama kalian beda. Kalian ketawain aku."
"Itu biar lo nggak kaku," sahut Dimas, muncul dari balik tirai sambil membenahi dasi Arman—dasi yang, untuk pertama kalinya, dipasangkan oleh tangan orang yang dulu adalah musuh bebuyutannya. "Dan liat, lo nggak kaku lagi sekarang. Cuma deg-degan. Itu beda. Deg-degan itu artinya lo peduli."
Arman menatapnya. Tiga tahun mereka bermusuhan. Berminggu-minggu lalu, di koridor itu, Arman pernah berkata pada keempat anak ini bahwa ia tidak pernah punya teman, bahwa ia hanya bahan tertawaan. Dan sekarang, salah satu dari mereka sedang membetulkan dasinya dengan hati-hati, persis seperti yang akan dilakukan seorang teman.
"Kenapa kalian repot-repot?" tanya Arman pelan. "Setelah semua yang... setelah aku marahin kalian habis-habisan."
Dimas selesai dengan dasi itu, dan menepuk pundak Arman sekali. "Karena kita pernah salah, Man. Gede banget. Dan kita nggak bisa balikin waktu. Tapi yang bisa kita lakuin sekarang adalah mastiin lo berdiri di panggung itu dan bikin semua orang ngeliat siapa lo sebenernya. Bukan ketua kelas kaku. Tapi orang yang mimpin pameran ini sampai jadi."
Di belakang mereka, Reza mengangkat dua jempol—mulutnya penuh, entah dari mana ia dapat makanan lagi. Bayu memberi acungan jempol gugup. Dan di sudut, Rendi—yang kini memegang papan kendali sound—mengangguk pelan pada Arman. Bukan permusuhan. Bukan persaingan. Hanya pengakuan diam dari satu anak ambisius pada yang lain.
Bu Tania menyibak tirai sedikit. "Arman, lima menit lagi," bisiknya. Lalu ia menambahkan, lembut, "Kamu pasti bisa. Saya udah baca naskahmu. Itu bagus. Tulus. Ngomong aja dari hati, jangan dari kertas."
Arman menelan ludah, mengangguk.
Lalu, ketika namanya dipanggil, ia melangkah ke panggung.
Lampu sorot menyilaukan. Aula yang penuh mendadak sunyi. Arman berdiri di mikrofon, kertasnya gemetar—dan untuk satu detik yang panjang, ia tidak mengeluarkan suara apa pun. Di balik tirai, kami berempat menahan napas.
Lalu Arman meletakkan kertasnya di podium. Tidak membacanya.
"Selamat pagi," katanya, dan suaranya bergetar, lalu mantap. "Nama saya Arman. Ketua panitia pameran ini. Tapi sebenarnya... saya bukan orang yang cocok berdiri di sini."
Gumam pelan di antara penonton.
"Saya ketua kelas yang kaku," Arman melanjutkan, dan senyum kecil—gugup tapi jujur—muncul di wajahnya. "Tiga tahun saya pikir tugas saya cuma bikin barisan rapi, ngumpulin tugas, dan nggak bikin masalah. Saya nggak pernah benar-benar kenal teman-teman saya. Saya pikir saya nggak butuh." Ia berhenti. "Saya salah."
Di balik tirai, aku merasa sesuatu menghangat di dadaku.
"Pameran ini judulnya 'Sejarah Angkatan Ini'," kata Arman. "Dan kalau kalian masuk ke lorong di sebelah sana, kalian bakal lihat semuanya—dari hari pertama kita masih bocah kelas sepuluh yang takut, sampai sekarang, beberapa bulan sebelum kita pisah. Tapi ada satu hal yang nggak ada di foto-foto itu. Yang nggak bisa difoto." Suaranya melembut. "Yaitu gimana sekelompok anak yang dulu saling musuhan, bisa jadi orang-orang yang berdiri bareng di sini hari ini."
Ia mengangkat pandangannya, dan menatap lurus ke arah tirai, ke arah kami berempat yang sedang bersembunyi di baliknya.
"Pameran ini nggak akan ada tanpa mereka," kata Arman. "Dan saya nggak akan ada di sini—berani ngomong di depan kalian semua—tanpa mereka."
Tepuk tangan mulai bergemuruh. Tapi Arman belum selesai. Ia menarik napas, dan di balik tirai, kami berempat saling pandang, karena kami tahu—dari nada suaranya—bahwa apa yang akan ia katakan selanjutnya adalah sesuatu yang sudah lama ia tahan.