Tepuk tangan untuk pidato Arman masih bergema ketika pintu lorong dibuka, dan pengunjung mulai mengalir masuk satu per satu ke "Lorong Waktu Angkatan."
Lorong itu adalah jantung pameran—koridor panjang yang dindingnya dipenuhi foto, kliping, dan benda-benda kecil yang dikumpulkan dari tiga tahun perjalanan angkatan ini. Aku, Doni, dan Hendra telah menyusunnya secara kronologis: kau masuk sebagai bocah kelas sepuluh yang takut, dan keluar sebagai anak kelas dua belas yang sebentar lagi pergi.
Orang tua berhenti di foto-foto upacara pertama, menunjuk anak-anak mereka yang masih kecil dan canggung. Guru-guru tertawa melihat dokumentasi lomba antarkelas. Dan di tengah lorong, ada satu panel yang menarik kerumunan paling ramai—panel yang sempat diperdebatkan panitia, tapi akhirnya dipasang juga atas usulku.
Di panel itu tergantung satu foto besar: lantai depan sebuah kelas, berwarna biru pekat seperti tinta cumi, dengan beberapa anak berdiri kebingungan di sekitarnya.
Di bawahnya, keterangan yang ditulis tangan oleh Bayu:
"LEGENDA ANGKATAN: OPERASI LANTAI BIRU. Tidak ada yang pernah tahu siapa pelakunya. Sekolah heboh seharian. Dianggap salah satu kekacauan paling ikonik dalam sejarah angkatan ini. (Pelaku tetap anonim demi keselamatan yang bersangkutan.)"
Di depan panel itu, sesuatu yang dulu mustahil terjadi: anak-anak IPS 3 dan IPS 4 berdiri bersama, menatap foto itu, dan tertawa.
"Itu lantai gua," kata Fajar, menggeleng-geleng, tapi senyumnya lebar. "Gua piket pagi itu. Sumpah, gua kira air embernya keracunan. Gua sampe takut nyentuh pel."
"Sori soal itu," sahut Reza nyengir. "Aku nuang pewarnanya kebanyakan. Galih bilang dua tetes, aku tuang setengah botol."
"SETENGAH BOTOL?" Fajar melotot, lalu tertawa terbahak. "Pantes birunya kayak laut."
Doni menepuk punggung Reza. "Tahun depan kita ceritain ini ke anak baru. Bakal jadi dongeng. 'Dahulu kala, ada lantai yang berubah jadi biru...'"
Aku berdiri agak jauh, memperhatikan mereka semua. Pelan, aku merasakan sesuatu yang sulit aku jelaskan—campuran antara haru dan takjub. Foto itu, momen yang dulu adalah deklarasi perang antara dua kelas yang saling membenci, kini menjadi monumen persahabatan. Hal yang sama yang dulu memecah belah kami, sekarang menyatukan kami. Karena waktu, dan karena kami memilih untuk berdamai.
Dimas datang berdiri di sebelahnya, menyusulkan sebotol air. "Lo tahu," katanya, "dulu kita bikin lantai itu biru buat mempermalukan IPS 4. Sekarang mereka berdiri di depannya, ketawa, bangga. Aneh, ya?"
"Bukan aneh," kataku. "Itu intinya pameran ini. Sejarah angkatan. Kita nggak cuma mamerin yang bagus-bagus. Kita mamerin semuanya—termasuk waktu kita masih bocah yang main perang-perangan dan nyaris kena skors. Karena itu juga bagian dari siapa kita."
Kami berjalan menyusuri lorong. Di ujungnya, ada bagian terakhir—dinding yang menampilkan foto-foto terbaru, beberapa diambil baru minggu lalu: anak-anak panitia yang sedang memasang panel, bercanda, kelelahan. Dan di sana, di antara foto-foto itu, tergantung satu yang membuat Dimas berhenti.
Foto Arman.
Bukan foto resmi ketua kelas dengan wajah kaku. Tapi foto yang diam-diam diambil Bayu malam sebelum pameran—Arman tertawa lepas sambil memasang panel bersama Bu Tania, kepalanya tertunduk, bahunya rileks, sama sekali tidak seperti anak yang dulu mereka kenal.
Di bawahnya, keterangan singkat: "Tahun terakhir mengubah kita semua."
"Lo pasang ini?" tanya Dimas pelan.
Aku mengangguk. "Dia nggak tahu. Bayu yang motret. Aku yang masang." Aku menatap foto itu. "Aku pengin ada bukti, Dis. Bukti kalau orang bisa berubah. Kalau yang dulu kaku bisa ketawa. Kalau yang dulu musuhan bisa jadi temen." Aku menelan sesuatu. "Bukti kalau kita nggak gagal total. Kita nyaris ngancurin dia, iya. Tapi kita juga... nemenin dia sampai dia bisa ketawa kayak gini."
Dimas tidak menjawab. Ia hanya menatap foto itu lama, dan di matanya ada sesuatu yang berkaca.
Di belakang kami, kerumunan terus mengalir, tawa dan kenangan memenuhi lorong. Tahun-tahun kami—seluruhnya, yang baik dan yang memalukan, yang menyakitkan dan yang membahagiakan—terbentang di dinding-dinding itu, dan untuk pertama kalinya, kami bisa melihat semuanya sebagai satu kesatuan utuh.
Sebuah sejarah. Sejarah mereka.