Tidak ada yang tahu persis apa yang Bu Tania katakan pada Rendi di ruang guru sore itu. Kami hanya tahu hasilnya: keesokan harinya, Rendi datang ke aula bukan untuk merusak, tapi untuk bekerja. Diam, canggung, tidak banyak bicara. Tapi ia datang. Dan ketika aku menyodorkan obeng untuk mengencangkan baut maket yang dulu Rendi sendiri longgarkan, Rendi mengambilnya tanpa kata, dan mengencangkannya rapat-rapat—lebih rapat dari yang diperlukan.
Itu cara Rendi minta maaf. Tanpa kata-kata. Dan untuk kami yang dulu juga tak pandai meminta maaf dengan kata, kami mengerti.
Sekarang, malam sebelum pameran, aula itu hidup sampai larut.
Lampu sorot dinyalakan satu per satu untuk diuji. Kabel-kabel membentang di lantai seperti akar. Doni dan Hendra memasang panel foto angkatan di sepanjang dinding—lorong panjang yang akan membawa pengunjung dari hari pertama kelas sepuluh sampai detik-detik kelulusan. Reza, yang ditugaskan mengangkat properti berat, sudah tiga kali nyaris menjatuhkan miniatur gapura sekolah, dan tiga kali pula Bayu memekik panik dari atas tangga.
"REZA! Itu mahal! Galih begadang dua malam bikin itu!"
"Sori, sori, tanganku licin—ini ada keripik di kantong, tunggu—"
"JANGAN MAKAN DULU."
Tawa pecah di sudut aula. Komedi yang dulu hilang sejak insiden koridor, kini kembali penuh, alami, tanpa beban. Aku, dari pojok tempat aku mengecek daftar, mencatat diam-diam dalam hati: kerajaan sudah pulih. Bukan cuma pulih—lebih kuat dari sebelumnya, karena sekarang kami tahu seberapa rapuh semuanya, dan seberapa berharga.
Di ujung lain aula, dua orang bekerja berdampingan di meja panjang, menyusun keterangan terakhir untuk tiap foto: Arman dan Bu Tania.
Aku memperhatikan mereka dari kejauhan, dan untuk sesaat aku berhenti mencatat.
Tidak ada yang mengatur pertemuan itu. Tidak ada Bayu yang mengintip dengan buku "BUKTI ARMAN NAKSIR". Tidak ada Dimas yang menyutradarai dari balik tirai. Mereka berdua hanya bekerja—membahas urutan foto, berdebat kecil soal mana tahun yang harus diletakkan lebih dulu, tertawa pelan ketika menemukan foto buram seseorang dengan gaya rambut aneh tahun lalu. Arman masih kaku, masih meletakkan setiap kertas dengan presisi obsesif. Bu Tania masih hangat, masih sesekali menggugupkan kalimatnya.
Tapi ada sesuatu di antara mereka yang lebih hangat daripada semua pertemuan yang dulu mereka rekayasa.
Karena ini nyata.
Aku menyadari sesuatu yang ironis, dan diam-diam, menyakitkan: dulu kami menghabiskan berminggu-minggu menyusun strategi rumit untuk membuat Arman dan Bu Tania berada di ruangan yang sama, berharap menciptakan satu momen yang berharga. Dan semua usaha itu cuma menghasilkan kebohongan yang menghancurkan tiga orang. Sementara momen yang benar-benar berharga—dua manusia yang bekerja bersama, jujur, tanpa skenario—datang dengan sendirinya, justru ketika kami berhenti mengatur.
Dimas datang dan berdiri di sampingku, mengikuti arah pandangku.
"Lo mikirin yang gua pikirin?" tanya Dimas pelan.
"Kalau yang lo pikirin adalah 'kita bego banget dulu,'" jawabku, "iya."
Dimas tertawa kecil, getir tapi damai. "Kita ngira kebahagiaan itu bisa disutradarai. Kayak film. Tinggal atur adegan, atur pemain, action." Ia menggeleng. "Ternyata yang kita atur cuma menghasilkan kepalsuan. Yang asli malah dateng pas kita diem."
Kami berdua berdiri sebentar, memandangi dua orang di ujung aula. Bu Tania berkata sesuatu, Arman tertawa—tawa lepas, jenis tawa yang dulu tidak pernah ada di wajah ketua kelas yang kaku itu sebelum semester ini.
"Lo tahu pameran ini bakal beres," kata Dimas. "Maketnya udah kekunci, Rendi udah balik, Reza belum makan properti—"
"Belum," sahutku.
"—dan besok aula bakal penuh." Dimas menarik napas. "Tapi anehnya, gua nggak deg-degan soal itu. Gua malah... lega. Buat pertama kalinya, kita ngerjain sesuatu yang gede, dan nggak ada satu orang pun yang bakal kesakitan karenanya."
Aku menutup daftarku. Di luar jendela aula, langit malam pekat, dan satu per satu lampu sekolah dipadamkan kecuali aula ini—satu kotak cahaya hangat di tengah gelap, penuh anak-anak yang dulu bermusuhan dan sekarang bekerja bersama.
"Tidur, Dis," kataku. "Besok hari besar."
Tapi tidak ada yang benar-benar mau pulang. Kami tinggal sampai larut, menyelesaikan detail terakhir, tertawa atas kesalahan-kesalahan kecil, dan tanpa sadar, menyimpan malam itu sebagai salah satu kenangan terbaik dari tahun terakhir kami—malam sebelum semuanya, akhirnya, menjadi benar.