Bu Sari mendengarkan semuanya tanpa memotong sekali pun.
Kami berempat duduk di ruang wali kelas keesokan paginya—Dimas, aku, Bayu, Reza—dan menceritakan semuanya: rekaman, sabotase, foto maket yang Rendi rusak sendiri, dan, yang terberat, fakta bahwa Rendi-lah pelapor lama yang dulu nyaris membuat kami kena skors. Aku meletakkan ponsel berisi rekaman di meja. Tapi sebelum tanganku lepas, aku menambahkan satu hal yang membuat Bu Sari mengangkat alis.
"Bu, kami nggak mau Rendi dihukum berat," kataku. "Kami cuma mau pamerannya selamat. Dan kami pikir... Rendi butuh sesuatu yang lain, bukan skors."
Bu Sari menatap empat anak yang sudah ia jaga selama tiga tahun—nakal tapi tak pernah benar-benar jahat, begitu ia selalu bilang. Tapi anak-anak di depannya pagi ini bukan lagi keempat tukang ribut yang ia hafal namanya di hari pertama. Ada sesuatu yang berbeda di cara kami duduk, di cara kami memilih kata.
"Kalian datang ke saya," kata Bu Sari pelan, "bukan buat ngebales, bukan buat ngancurin orang yang nyakitin kalian. Tapi buat minta tolong nyelametin pameran—dan minta belas kasihan buat orang yang merusaknya." Ia menyandar di kursinya, dan ada sesuatu yang berkaca di matanya. "Tiga tahun, dan baru sekarang saya lihat kalian tumbuh seperti ini."
Tapi Bu Sari tidak menangani ini sendirian. Karena pameran ini, dari awal sampai akhir, adalah milik satu orang. Dan orang itulah yang ia panggil masuk.
Bu Tania.
Sejak insiden di koridor—sejak pertanyaan "selama ini semuanya bohong"—kami berempat tidak pernah benar-benar nyaman lagi di hadapan Bu Tania. Hubungan kami membaik pelan, lewat surat maaf, lewat kerja keras tanpa rekayasa. Tapi rasa bersalah itu tidak pernah sepenuhnya hilang. Maka ketika Bu Tania masuk dan duduk, kami menegakkan badan seperti murid yang takut.
Bu Sari menjelaskan singkat. Bu Tania mendengarkan, wajahnya berubah dari heran, ke khawatir, lalu ke sesuatu yang lebih lembut—pengertian.
"Jadi anak ini," kata Bu Tania akhirnya, "Rendi. Dia ngerusak pameran karena dia ngerasa nggak pernah keliatan. Karena dia iri sama perhatian yang dia nggak pernah dapet."
"Iya, Bu," jawabku.
Bu Tania terdiam lama. Lalu ia tersenyum—senyum yang sedih dan bijak sekaligus. "Kalian tahu nggak, ironisnya apa?" katanya. "Itu persis kenapa kalian ngerjain Arman dulu. Karena dia keliatan, dan dia kaku, dan kalian pengin sesuatu yang seru di tahun terakhir. Dan kenapa kalian ngerjain saya—" suaranya melembut, dan kami menunduk, "—karena buat kalian, saya cuma 'guru magang yang gampang dijodohin'. Bukan manusia. Awalnya."
"Bu, kami—" Dimas mulai, tapi Bu Tania mengangkat tangan, lembut.
"Saya nggak lagi marah, Dimas. Itu udah lewat. Kalian udah minta maaf, dan kalian buktiin lewat kerja keras kalian, bukan kata-kata." Ia menatap kami satu per satu. "Tapi sekarang ada anak lain yang ngelakuin kesalahan yang sama persis kayak kalian dulu. Dan kalian dateng ke sini bukan buat ngehukum dia, tapi buat nyelametin dia. Itu..." Ia menggeleng pelan, takjub. "Itu bukti kalian beneran belajar."
Bu Tania berdiri, dan keputusannya keluar dengan ketenangan seorang guru yang tahu persis apa yang dilakukannya.
"Saya nggak mau Rendi dihukum," katanya. "Saya mau dia jadi bagian dari pameran ini."
Hening sejenak. Lalu Reza, polos seperti biasa, "Hah? Anak yang ngerusak pameran malah dijadiin panitia?"
"Justru karena dia ngerusaknya," jawab Bu Tania, dan ada keyakinan dalam suaranya. "Dia anak yang pinter—ranking dua angkatan. Dia datang paling pagi, kerja paling rajin, dan dia ngelakuin semua itu sendirian, dilihat nggak dilihat. Anak kayak gitu nggak butuh hukuman. Dia butuh tempat. Dia butuh ngerasa kerja kerasnya berarti buat sesuatu yang baik, bukan buat ngancurin orang lain." Ia menatap kami, dan tersenyum tipis. "Sama kayak kalian dulu."
Bu Sari mengangguk perlahan di kursinya, dan kami berempat saling pandang—takjub pada cara seorang guru, dengan satu keputusan, mengubah seluruh arah konflik yang sudah kami pikir cuma punya dua ujung: balas atau lapor.
Ternyata ada ujung ketiga. Ujung yang tidak menghancurkan siapa pun.
"Tapi, Bu," kataku pelan, "gimana cara Ibu yakin Rendi mau? Dia benci sama kita. Dan dia... malu, mungkin, karena ketahuan."
Bu Tania mengambil map panitia dari meja, dan tersenyum dengan keyakinan yang membuat kami percaya, walau kami tidak tahu caranya.
"Biar saya yang ngomong sama dia," katanya. "Sebagai guru, bukan sebagai korban. Kadang yang dibutuhin orang yang nyasar itu cuma satu orang dewasa yang mau ngajak dia balik, bukan ngusir dia."