Bayu datang ke sekolah pukul enam pagi keesokan harinya. Lebih pagi dari siapa pun—kecuali, mungkin, satu orang.
Ia tidak masuk lewat gerbang depan. Itu terlalu terbuka. Sebagai mata-mata aliansi yang sudah berpengalaman dipermalukan dalam segala operasi, Bayu tahu satu hal: kalau mau mengamati, jangan terlihat. Ia menyelinap lewat samping, melewati lapangan yang masih berembun, dan mengambil posisi di balik tiang dekat ruang guru—tempat yang sama dari mana, dulu, seseorang diam-diam mengambil foto.
Ia menunggu. Embun menetes dari atap. Burung-burung mulai berkicau. Sekolah masih sepi.
Pukul enam lebih sepuluh, sosok pertama datang. Arman. Seperti biasa, ia duduk di bangku dekat jendela ruang guru, membuka buku, sesekali melirik ke dalam ruangan tempat para guru—termasuk Bu Tania—biasanya menyiapkan materi. Bayu tersenyum kecil. Beberapa hal tidak pernah berubah.
Tapi Bayu tidak datang untuk Arman. Ia datang untuk orang lain.
Pukul enam lebih dua puluh, sosok kedua muncul.
Anak laki-laki. Rambut disisir rapi ke samping. Membawa buku tebal di pelukan. Persis seperti yang Bayu ingat. Anak itu tidak duduk untuk belajar. Ia berjalan pelan, pura-pura sibuk dengan bukunya, tapi matanya—Bayu memperhatikan dengan cermat—matanya terus melirik ke arah Arman. Lalu ke arah aula, tempat pameran disiapkan. Bolak-balik.
Bayu menahan napas.
Anak itu mendekat ke papan pengumuman di luar aula. Ia berdiri di sana, pura-pura membaca, lalu—dengan gerakan cepat yang nyaris tak terlihat—ia mencabut selembar kertas dari papan dan menyelipkannya ke dalam buku tebalnya. Jadwal piket yang baru. Hilang lagi.
Jantung Bayu berdebar keras. Ia mengeluarkan ponsel, tangannya gemetar, dan memotret—diam-diam, dari balik tiang. Satu foto. Anak itu, dengan kertas jadwal setengah masuk ke bukunya.
Bukti.
Anak itu menoleh tiba-tiba, seolah merasa diawasi. Bayu menarik kepala ke balik tiang, jantung hampir copot, dan menahan napas selama yang ia bisa. Beberapa detik berlalu seperti bertahun-tahun. Lalu langkah anak itu menjauh, masuk ke koridor.
Bayu menghembuskan napas panjang.
Saat istirahat, aliansi berkumpul lagi. Bayu meletakkan ponselnya di tengah meja, foto itu terpampang.
"Dia," kata Bayu. "Yang nyabot. Aku liat sendiri dia nyabut jadwal pagi tadi. Aku foto."
Semua menunduk menatap layar. Aku memperbesar foto itu, mengamati wajah si pelaku.
Arman, yang ikut melihat, menegang. Wajahnya berubah. Ia mengenali anak itu.
"Aku kenal dia," kata Arman pelan. "Sekelas... bukan. Dia anak IPA. Tapi kami sering ketemu. Di perlombaan akademik. Di seleksi lulusan terbaik." Rahangnya mengeras. "Dia selalu nomor dua. Selalu di bawahku. Beberapa kali nyaris ngalahin, tapi nggak pernah berhasil."
"Jadi dia sainganmu," kata Dimas pelan.
"Saingan," ulang Arman. "Tapi aku nggak pernah nganggep dia musuh. Aku malah nggak pernah ngomong banyak sama dia. Cuma... salaman pas lomba. Itu aja."
Aku menatap foto itu lama. "Kalau dugaan kita bener, dia ini yang dulu ngelaporin perang kita ke Kepala Sekolah. Dia ini yang ngumpulin foto diem-diem. Dia ini yang sekarang nyabotase pameran. Semuanya buat satu tujuan." Aku mengangkat kepala. "Bikin Arman jatuh. Biar dia yang naik."
Hening berat menggantung di meja.
"Tapi kita masih belum punya bukti dia yang ngancurin maket," kataku. "Foto Bayu cuma buktiin dia nyolong jadwal. Itu masih kecil. Kalau kita konfrontasi sekarang, dia bisa ngeles."
"Terus gimana?" tanya Reza.
Aku menatap foto itu—wajah anak yang rapi, ambisius, dan diam-diam dipenuhi dengki. Lalu aku menatap teman-temanku. Sang otak sudah selesai menghitung.
"Kita tahu siapa dia sekarang," kataku pelan. "Kita tahu apa yang dia mau. Dan kita tahu dia bakal nyerang lagi—karena pameran tinggal beberapa hari, dan dia belum berhasil bikin Arman jatuh. Selama maket masih bisa dibenerin, selama pameran masih bisa jalan, dia bakal coba sekali lagi."
Aku mengetuk meja, sekali, mantap.
"Jadi kali ini—kita yang nunggu dia."
Di luar jendela kantin, langit mulai cerah. Aula sekolah berdiri di kejauhan, lampunya menyala, panitia sibuk memperbaiki maket yang hancur. Pameran semakin dekat. Dan untuk pertama kali, aliansi pojok belakang tidak menyusun rencana untuk mengerjai orang yang tidak bersalah—
—mereka menyusun rencana untuk menangkap orang yang benar-benar bersalah.
Aku menutup buku catatanku. Nama si pelaku belum kami ucapkan keras-keras. Tapi semua tahu, sebentar lagi, bayangan yang selama ini bersembunyi akan punya nama.
Dan ketika namanya terungkap, tidak akan ada lagi tempat untuk bersembunyi.