Jejak yang ditemukan Bayu di ruang guru menuntun aliansi ke satu kesimpulan yang tidak nyaman: pelaku sabotase bukan orang asing. Ia tahu jadwal panitia. Ia tahu sudut mana yang tidak terlihat kamera. Ia tahu kapan aula kosong.
"Itu orang dalam," kataku sore itu, di meja pojok kantin. Map jadwal pameran terbuka di hadapanku, penuh coretan. "Atau setidaknya orang yang sering banget ada di sekitar panitia."
Dimas mengetuk-ngetuk meja dengan pulpen. "Berarti tinggal bikin daftar. Siapa aja yang sering keluar-masuk aula tanpa dicurigai."
"Aku, kamu, Galih, Bayu," Reza menghitung dengan jari sambil mengunyah roti. "Fajar, Doni, dua anak IPS 4 yang lain. Arman. Bu Tania."
"Coret semua nama itu," Bayu menukas cepat. "Masa kita nyabotase pameran kita sendiri."
"Bukan kita," aku membenarkan letak kacamataku. "Tapi pikirin. Pas maket rusak, siapa yang paling pertama tahu? Siapa yang ngasih tahu kita kalau papan jadwal hilang?"
Hening sebentar. Reza berhenti mengunyah.
"Anak yang ngurusin sound system," kata Doni pelan, baru bergabung dari pintu kantin sambil menyeret kursi. "Yang badan kurus, kacamata tebel, rajin banget bantu-bantu padahal nggak ada yang nyuruh. Lupa aku namanya."
"Rendi," sahutku. Suaraku datar, tapi ada sesuatu yang mengeras di dalamnya. "Namanya Rendi."
Nama itu jatuh di meja seperti batu. Tidak ada yang langsung menyahut.
Dimas-lah yang pertama bersuara. "Rendi yang ranking dua angkatan itu? Yang selalu nempel di papan pengumuman saingan ranking sama Arman?"
"Iya."
"Nggak mungkin." Dimas menggeleng. "Anak rajin kayak gitu? Buat apa dia nyabotase? Dia nggak ada untungnya."
"Justru ada." Aku menatap mereka satu per satu, dan suaraku turun seperti orang yang sedang menyusun puzzle dan tidak suka gambar yang muncul. "Selama tiga tahun, dia selalu nomor dua. Selalu di bawah Arman. Sekarang Arman jadi ketua panitia pameran perpisahan—proyek paling gede di sekolah, yang bakal dilihat Pak Kepala, semua guru, semua orang tua. Kalau pameran ini sukses, nama Arman makin di atas. Tapi kalau gagal..."
"Kalau gagal," Bayu meneruskan pelan, "yang malu Arman."
"Dan yang nggak kelihatan jelek cuma satu orang." Aku menutup map jadwal. "Anak yang dari kemarin nawarin diri jadi pengganti, kalau-kalau panitianya kerepotan."
Aula sekolah, beberapa puluh meter dari kantin, mendadak terasa lebih sepi di benak mereka. Reza menelan roti terakhirnya tanpa benar-benar mengecap.
"Tunggu," Dimas mengangkat tangan. "Ini cuma tebakan. Kita pernah salah nuduh orang. Inget Arman dulu? Kita yakin banget dia pengkhianat, ternyata dia cuma dateng pagi buat liatin Bu Tania." Ia menggosok tengkuknya. "Aku nggak mau ngulang kesalahan yang sama. Nuduh orang tanpa bukti."
Itu kalimat yang, setahun lalu, tidak akan pernah keluar dari mulut Dimas. Aku memperhatikannya, dan diam-diam mencatat: mereka berubah.
"Makanya kita nggak nuduh dulu," kataku. "Kita cari bukti. Beneran. Bukan asumsi. Kalau memang Rendi, kita harus tahu pasti. Kalau bukan, kita minta maaf dalam hati dan lupakan."
"Gimana caranya?" tanya Reza.
Aku melirik Bayu. "Mata-mata terbaik kita masih mata-mata terbaik kita, kan?"
Bayu, yang dulu paling sering jadi korban tepung dan lem, kini menegakkan punggung. Ada kebanggaan kecil yang menyala di matanya—peran yang, anehnya, selalu ia nikmati. "H-2 minggu pameran. Aku bisa pasang mata tiap sore. Aku tahu rute Rendi. Dia selalu lewat belakang aula buat ke ruang sound."
"Jangan ketahuan," Dimas mengingatkan, tumben serius. "Dan jangan diapa-apain. Cuma lihat. Janji?"
"Janji."
Kami menumpuk tangan di tengah meja—kebiasaan lama, dari hari pertama kelas sepuluh. Tapi kali ini tidak ada tawa licik. Hanya keseriusan empat anak dan sekutu IPS 4 yang sudah belajar, dengan cara yang pahit, bahwa salah menuduh bisa menghancurkan seseorang.
"Satu lagi," kataku sebelum kami bubar. "Apa pun yang kita temuin nanti... kita nggak balas pakai prank. Nggak ada lantai biru. Nggak ada tepung. Kita udah lewat fase itu."
Dimas menatapnya lama, lalu mengangguk pelan. "Iya. Kita udah lewat."
Di luar jendela kantin, langit sore mulai jingga. Di kejauhan, dari arah aula, terdengar suara seseorang menyetel mikrofon—satu, dua, tes, tes. Suara itu sendirian. Tekun. Rajin di saat semua orang sudah pulang.
Bayu menyipitkan mata ke arah aula. "Itu... dia, kan?"
Tidak ada yang menjawab. Tapi mereka semua tahu jawabannya.