Markas darurat di meja pojok kantin. Tapi suasananya sama sekali tidak santai. Tidak ada gorengan, tidak ada es teh yang diseruput santai. Hanya delapan anak—dan kini Arman, yang untuk pertama kali duduk di meja itu—mengelilingi selembar kertas kosong yang aku letakkan di tengah.
"Kita mulai dari yang kita tahu," kataku, memegang pulpen. "Dulu, pas perang antarkelas, ada yang ngelaporin ke Kepala Sekolah. Apa aja yang kita tahu soal pelapor itu?"
Dimas menyandarkan punggung, mengingat-ingat. "Pak Kepala bilang dia dapet foto. Lantai biru. Kursi berlem."
"Berarti pelapornya punya foto-foto itu," kataku, menulis: *PUNYA FOTO.* "Pertanyaannya—kapan foto-foto itu diambil?"
Fajar mengernyit. "Lantai biru itu Rabu pagi, jam setengah tujuh. Pagi banget. Sekolah masih sepi."
"Nah." Aku mengetuk meja. "Siapa yang ada di sekolah jam segitu? Yang bisa moto lantai biru pas masih basah, sebelum dibersihin?"
Hening sejenak.
"Aku," kata Arman pelan.
Semua menoleh.
"Aku selalu datang paling pagi," lanjut Arman. Ujung telinganya memerah, tapi ia melanjutkan dengan jujur. "Kalian semua udah tahu kenapa. Tapi aku bukan satu-satunya yang datang pagi."
Aku menatapnya tajam. "Siapa lagi?"
Arman terdiam, mengingat-ingat. "Ada beberapa anak yang datang pagi buat belajar. Anak-anak yang... ngincer ranking. Yang serius soal lulusan terbaik."
Kata "lulusan terbaik" membuatku mengangkat kepala. Ada sesuatu di situ.
"Tunggu," kata Bayu, sang mata-mata, matanya menyipit. "Aku inget waktu itu—pas kita lagi diselidikin—aku ngamatin siapa aja yang datang pagi. Arman, jelas. Tapi ada satu anak lagi yang selalu duduk deket ruang guru, pura-pura belajar, tapi matanya muter-muter terus. Aku dulu nggak mikirin, soalnya fokusku ke Arman."
"Siapa?" tanya Dimas.
Bayu mengernyit, mencoba mengingat wajah. "Anak... yang rambutnya selalu rapi disisir ke samping. Yang selalu bawa buku tebel kemana-mana. Yang—" matanya melebar, "—yang dulu sering ngeliatin Arman dengan tatapan aneh."
"Tatapan aneh gimana?" tanyaku.
"Kayak..." Bayu mencari kata, "...kayak iri."
Meja itu hening. Aku meletakkan pulpenku pelan.
"Oke," kataku. "Mari kita gabungin yang kita tahu. Satu: pelapor punya foto, berarti dia ada di sekolah pagi-pagi, sama kayak Arman. Dua: pelapor nggak dari kubu kita, nggak dari IPS 4, berarti orang netral—penonton. Tiga: orang yang sekarang nyabotase pameran, dia benci sama salah satu dari kita—" aku menatap Arman, "—maaf, Man, tapi maket kamu yang dihancurin paling parah. Ini personal. Ini ke kamu."
Arman mengangguk pelan. "Aku ngerti."
"Empat," lanjutku, dan suaraku melambat saat semua kepingan mulai menyatu. "Kalau pelaku sabotase sama dengan pelapor lama—dan aku makin yakin iya—berarti orang ini udah lama ngamatin kita semua. Dari jauh. Diem-diem. Nunggu kesempatan. Dan ada satu hal yang dia inginkan: bikin Arman gagal."
"Tapi kenapa Arman?" tanya Reza, bingung. "Arman kan baik. Nggak pernah ganggu siapa-siapa."
"Justru itu," kataku pelan. "Arman ketua panitia. Arman calon kuat lulusan terbaik. Arman dapet panggung di pameran—pidato pembukaan, di depan seluruh sekolah, di depan Pak Kepala." Aku menatap mereka satu per satu. "Buat orang yang iri, yang juga pengin jadi lulusan terbaik, yang juga pengin dapet panggung itu... Arman bukan musuh. Arman penghalang."
Dimas menggebrak meja pelan, kepingannya jatuh ke tempat di kepalanya juga. "Jadi kalau pameran gagal—khususnya bagian Arman—Arman keliatan nggak becus. Reputasinya jatuh. Dan saingan dia naik."
"Tepat," kataku.
Arman duduk diam, memproses semuanya. Lalu ia berkata pelan, "Aku rasa aku tahu siapa yang Bayu maksud. Anak yang selalu duduk deket ruang guru pagi-pagi. Yang ngeliatin aku dengan tatapan iri." Ia menelan ludah. "Tapi aku nggak mau nuduh tanpa bukti. Aku pernah dituduh tanpa bukti—dikira pengkhianat kelas. Rasanya nggak enak. Aku nggak mau ngelakuin itu ke orang lain."
Meja itu hening. Lalu aku mengangguk—mengangguk dengan rasa hormat yang tulus.
"Bener, Man," kataku. "Kita nggak nuduh. Kita cari bukti dulu." Aku menatap Bayu. "Bayu. Kamu mata-mata terbaik yang kita punya. Aku butuh kamu balik ke kebiasaan lama—tapi buat hal yang bener kali ini."
Bayu menegakkan punggung, dan untuk pertama kali, ia tersenyum dengan bangga, bukan ketakutan. "Siap. Aku tahu persis harus mulai dari mana."
"Dari mana?"
"Dari ruang guru. Pagi-pagi. Tempat semua foto itu diambil."
Aku tersenyum tipis. Sang otak dan sang mata-mata. Benang lama yang sudah berbulan-bulan menggantung, akhirnya mulai ditarik perlahan—menuju satu nama yang sebentar lagi akan terungkap.