Pagi itu, Bayu yang pertama masuk aula. Dan teriakannya membangunkan separuh sekolah.
"GALIH! DIMAS! KE SINI! CEPET!"
Mereka berlarian. Begitu masuk aula, semua membeku.
Maket pameran—maket yang Arman rancang dan kerjakan selama berminggu-minggu, replika kecil sekolah lengkap dengan timeline angkatan—hancur. Bukan jatuh. Bukan rubuh karena angin. Hancur. Bagian-bagiannya tercerai-berai di lantai, tiang-tiang kecilnya patah, kertas keterangannya disobek dan disebar.
Arman datang paling terakhir. Ia berdiri di pintu, dan wajahnya—biasanya kaku dan terkendali—pucat pasi. Maket itu hasil kerja kerasnya. Hasil malam-malam ia bekerja sendirian. Hancur dalam semalam.
"Siapa..." suaranya nyaris tak terdengar. "Siapa yang..."
Reza mengepalkan tangan. Doni mengumpat pelan. Bahkan Dimas, yang biasanya punya komentar untuk segala situasi, kehilangan kata-kata.
Aku tidak berteriak. Aku tidak panik. Aku berjalan pelan mengelilingi reruntuhan maket, mata menyapu lantai, mengamati setiap detail. Sang otak sedang bekerja.
"Bukan kecelakaan," kataku akhirnya. Suaraku datar, dingin. "Kalau maket ini jatuh dari meja, retaknya bakal di satu sisi. Tapi ini—" aku menunjuk pecahan yang berserakan merata, "—ini diinjak. Dari atas. Berkali-kali. Dan kertasnya nggak cuma sobek, tapi disobek satu-satu terus disebar. Orang yang buru-buru nggak akan repot-repot nyebar kertas. Ini... ini sengaja. Pengin nyakitin. Pengin kita tahu ini disengaja."
Aula sunyi. Kata "sengaja" menggantung berat di udara.
"Tapi siapa yang mau ngancurin pameran?" tanya Bayu, suaranya bergetar. "Ini buat satu angkatan. Buat semua orang."
"Nggak semua orang mau ini sukses," kataku pelan.
Arman akhirnya bergerak. Ia berjongkok di antara reruntuhan, memungut satu kepingan kecil maketnya—replika gerbang sekolah yang ia ukir dengan teliti. Tangannya bergetar memegangnya. Tapi ia tidak menangis. Wajahnya mengeras menjadi sesuatu yang lebih dingin dari sebelumnya.
"Aku tahu rasanya ditinggal sendirian," katanya pelan, lebih ke dirinya sendiri daripada ke yang lain. "Tapi aku nggak pernah ngancurin kerja keras orang lain gara-gara itu. Siapa pun yang ngelakuin ini..." Ia berdiri. "...dia bukan cuma benci pameran. Dia benci salah satu dari kita."
Aku menatap Arman. Untuk pertama kali, kami berdiri di sisi yang sama, menghadapi musuh yang sama.
Bu Tania masuk lima menit kemudian. Ia melihat maket yang hancur, dan tangan menutupi mulutnya. "Ya Tuhan..." Ia menatap Arman, lalu reruntuhan, lalu Arman lagi. "Arman, ini... maket kamu..."
"Iya, Bu," kata Arman pelan.
Bu Tania berjalan ke tengah aula, di antara serpihan kerja keras berminggu-minggu. Ada amarah di matanya—amarah yang jarang ia tunjukkan. "Ini sudah keterlaluan. Ini bukan kenakalan anak sekolah. Ini perusakan. Saya akan laporkan ke—"
"Bu," potongku. Semua menoleh. "Sebelum dilaporkan... boleh kasih kami waktu sebentar?"
Bu Tania menatapnya. "Waktu untuk apa, Galih?"
"Untuk cari tahu siapa pelakunya." Aku menatap reruntuhan maket. "Karena ini bukan pertama kali, Bu. Jadwal hilang. Papan retak. Sekarang maket. Ada pola. Dan saya rasa... ini bukan orang baru. Ini orang yang udah lama nungguin kesempatan."
Bu Tania mengerutkan kening. "Kamu punya dugaan?"
"Belum," kataku jujur. "Tapi saya punya satu pertanyaan lama yang nggak pernah kejawab. Dan saya mulai mikir, jawabannya mungkin orang yang sama."
Aku menatap teman-temanku satu per satu—Dimas, Reza, Bayu, Fajar, Doni, dan Arman.
"Inget nggak," kataku, "dulu, pas perang antarkelas, siapa yang ngelaporin kita ke Kepala Sekolah? Yang punya foto-foto bukti? Yang bukan dari kita, bukan dari IPS 4?"
Hening. Lalu satu per satu, wajah mereka berubah—saat ingatan lama itu kembali, dan benang yang sudah lama tergantung mulai tertarik.
"Kita nggak pernah tahu," kata Dimas pelan.
"Iya," kataku, mengepalkan tangan. "Tapi sekarang—kita harus tahu."
Di tengah reruntuhan maket dan abu kerja keras yang hancur, sebuah misteri lama yang sudah berbulan-bulan terkubur akhirnya bangkit kembali. Dan kali ini, aliansi pojok belakang tidak akan berhenti sampai menemukan jawabannya.