Dua minggu sebelum pameran, dan sekolah berubah menjadi sarang lebah—sibuk, berdengung, dan penuh energi.
Hitung mundur ditempel di papan pengumuman aula: **PAMERAN SEJARAH PERPISAHAN — H-14**. Setiap pagi, angkanya dicoret satu. Semangat aliansi naik berlipat. Pekerjaan yang dulu terasa berat kini terasa menyenangkan, karena dikerjakan bersama-sama—dan tanpa kebohongan di baliknya.
"Cek daftar," kataku, memegang papan jalan seperti seorang mandor. "Papan latar?"
"Selesai," sahut Reza, kali ini tanpa tumpahan cat.
"Banner?"
"Terpasang," kata Bayu, dengan bangga, "dan aku nggak jatuh dari tangga sekali pun minggu ini."
"Maket?"
"Beres," kata Arman, yang kini duduk di meja kerja yang sama dengan aliansi—bukan lagi di sudut menjauh. "Tinggal poles."
Aku mencoret satu per satu di daftarku. Untuk ukuran proyek yang dulu hampir hancur total, semuanya berjalan mengejutkan lancar. Terlalu lancar, mungkin.
Bu Tania berkeliling memeriksa, dan ada senyum kecil di wajahnya yang tidak ia sembunyikan lagi. Hubungan masih profesional—garis yang ia tarik masih ada—tapi udara di antara mereka tak lagi sedingin dulu. Sesekali ia tertawa kecil saat Reza melakukan sesuatu yang khas Reza. Itu sudah lebih dari cukup.
Lalu, di hari kesepuluh sebelum pameran, hal kecil pertama terjadi.
"Eh," kata Doni, mengernyit di depan papan jadwal kerja. "Jadwal piket maket... mana?"
Mereka memeriksa papan. Selembar kertas jadwal yang kemarin masih menempel di sana—lengkap dengan nama siapa bertugas kapan—hilang tanpa jejak. Hanya menyisakan empat sudut selotip yang masih menempel.
"Mungkin kelepas," kata Reza. "Anginnya kenceng."
"Selotipnya masih nempel," kataku pelan. Aku menatap empat sudut selotip itu. "Kalau kelepas karena angin, selotipnya ikut kebawa. Ini... kayak ditarik. Hati-hati, biar selotipnya nggak rusak."
Sebuah keganjilan kecil. Tidak ada yang terlalu memikirkannya. Mereka membuat jadwal baru dan melanjutkan kerja.
Tapi dua hari kemudian, hal kecil kedua terjadi.
Salah satu papan keterangan—papan yang menjelaskan timeline angkatan, yang sudah Arman kerjakan berhari-hari—ditemukan retak di sudut. Bukan retak besar. Cuma retak halus, seperti ada yang membenturkannya pelan.
"Mungkin kesenggol pas mindahin," kata Bayu.
"Mungkin," kataku. Tapi aku berjongkok, memeriksa retakan itu lama. Letaknya aneh. Papan itu disimpan di pojok aula, di tempat yang jarang dilewati. Untuk tersenggol, seseorang harus benar-benar masuk ke pojok itu.
Arman, yang menghabiskan banyak waktu mengerjakan papan itu, menatap retakannya dengan rahang mengeras. "Aku simpan papan ini hati-hati banget," katanya pelan. "Aku tahu persis posisinya."
Aku dan Arman bertukar pandang. Tidak ada yang berkata apa-apa, tapi kami berdua memikirkan hal yang sama.
Sore itu, saat aliansi pulang, aku berjalan paling lambat. Dimas menyamai langkahku.
"Kamu mikirin sesuatu," kata Dimas. Bukan pertanyaan.
"Jadwal hilang. Papan retak." Aku menatap lurus ke depan. "Dua-duanya kecil. Tapi dua-duanya pas di hal yang penting buat pameran. Bukan barang sembarangan."
"Mungkin kebetulan."
"Mungkin." Aku berhenti di gerbang. "Tapi kamu inget nggak, dulu—pas perang sama IPS 4—ada yang ngelaporin kita ke Kepala Sekolah? Foto lantai biru, kursi berlem. Bukan dari kita, bukan dari IPS 4. Sampai sekarang kita nggak pernah tahu siapa."
Dimas mengernyit. Ingatan lama itu sudah lama terkubur di bawah semua drama yang terjadi setelahnya. "Iya... kita nggak pernah tahu."
"Aku nggak suka kalau ada hal kecil yang nggak masuk akal," kataku pelan. "Karena biasanya, hal kecil itu cuma ujung dari sesuatu yang lebih besar."
Hujan rintik mulai turun. Mereka berdua berdiri di gerbang, menatap aula sekolah yang lampunya satu per satu padam di kejauhan.
Hitung mundur terus berjalan. H-14 sudah jadi H-8. Pameran semakin dekat, semangat semakin tinggi—tapi di balik semua kesibukan dan tawa yang baru saja pulih, sesuatu mulai bergerak di bayang-bayang.
Dan aku, sang otak yang diam-diam paling pintar, mulai merasakannya jauh sebelum yang lain.