Ide itu datang dari Dimas, tapi anehnya, tanpa satu pun strategi di baliknya.
"Aku mau nulis surat," katanya suatu sore, saat mereka berempat duduk di bangku pojok belakang kelas yang sudah kosong. "Buat Bu Tania. Minta maaf. Beneran. Bukan biar dia balik baik sama kita, bukan biar kita ngerasa lega. Cuma... biar dia tahu kita beneran nyesel."
Aku menatapnya. "Dia mungkin nggak bakal bales."
"Aku tahu," kata Dimas. "Dan itu nggak apa-apa. Kalau aku nulis surat ini biar dibales, berarti aku nulisnya buat diriku sendiri, bukan buat dia. Aku nggak mau gitu lagi."
Untuk pertama kali, ketiga temannya menatap Dimas dengan—bukan kekaguman karena ia karismatik atau lucu—tapi karena ia, akhirnya, benar-benar dewasa.
Mereka menulis bersama, tapi masing-masing dengan kata sendiri.
Dimas menulis paling lama. Ia merobek tiga kertas pertama. Surat keempatnya berbunyi:
*Bu Tania. Saya yang paling salah. Saya yang mulai semuanya, saya yang bikin taruhan jadi misi, saya yang nganggep perasaan orang kayak panggung. Saya minta maaf bukan biar Ibu maafin saya. Saya tahu itu hak Ibu, mau maafin atau nggak. Saya cuma mau Ibu tahu, saya udah ngerti sekarang. Manusia bukan tokoh cerita. Dan Ibu, dari awal, bukan objek. Ibu guru kami yang baik, yang sabar, yang masih ngajar kami dengan tulus walaupun kami udah nyakitin Ibu. Maaf, Bu. Dari hati.*
Reza menulis dua kalimat, karena ia tidak pandai berkata-kata: *Bu, saya minta maaf. Ibu guru paling baik, dan saya janji nggak akan bikin Ibu sedih lagi.* Lalu, di bawahnya, ia menggambar roti—entah kenapa—dan menulis: *ini buat Ibu kalau lagi sedih, makan roti enak.* Aku hampir menangis membaca yang terakhir ini, tapi pura-pura kelilipan.
Bayu menulis sambil terisak setengah jalan, hurufnya berantakan, tapi tulus: *Bu Tania, saya nggak pernah pinter ngomong, dan saya nggak pernah bisa bohong. Jadi percaya sama saya: saya beneran nyesel. Beneran banget.*
Aku menulis paling pendek, tapi paling dalam. Sebagai orang yang dulu memasang syarat di hari kedua—"kalau ada yang sakit hati, kita berhenti"—aku merasa paling bertanggung jawab karena tidak menghentikannya tepat waktu.
*Bu, saya yang bikin aturan dari awal: kalau ada yang sakit hati, kami berhenti. Tapi pas waktunya tiba, saya nggak punya keberanian buat ngehentiin. Saya diem aja. Itu kesalahan saya yang paling besar. Maaf, Bu. Bukan cuma buat apa yang kami lakuin, tapi buat semua yang nggak saya cegah.*
Mereka melipat keempat surat itu, memasukkannya ke satu amplop polos. Tidak ada hiasan, tidak ada nama besar di depan. Cuma tulisan kecil: *Untuk Bu Tania.*
Keesokan harinya, sebelum jam pertama, mereka berempat menunggu di depan ruang guru. Bu Tania keluar membawa tumpukan buku. Ia melihat keempatnya berdiri di sana, dan untuk sesaat, ekspresinya waspada—seolah menduga akan ada kekacauan lagi.
Tapi Dimas hanya melangkah maju, menyerahkan amplop itu, dan berkata, "Bu, ini buat Ibu. Nggak usah dibales. Beneran. Kalau Ibu mau buang, ya nggak apa-apa. Kami cuma pengin Ibu baca."
Bu Tania menatap amplop itu, lalu menatap empat wajah di depannya—empat anak yang dulu membuatnya pusing, lalu menyakitinya, dan kini berdiri dengan kepala sedikit menunduk, tanpa lelucon, tanpa rencana.
"...Makasih," kata Bu Tania pelan. Ia menerima amplop itu.
Mereka tidak menunggu jawaban. Mereka membungkuk kecil, lalu pergi—tanpa harap, tanpa pamrih. Untuk pertama kali, mereka memberikan sesuatu tanpa mengharapkan apa pun kembali.
Aku, yang berjalan paling belakang, sempat menoleh sekali. Aku melihat Bu Tania masih berdiri di depan ruang guru, memandangi amplop itu. Ia tidak membukanya saat itu. Tapi ia juga tidak membuangnya.
Ia memeluk amplop itu ke dada, di antara tumpukan bukunya, dan masuk kembali ke ruang guru.
Jembatan yang dulu runtuh total—jembatan antara empat anak nakal dan guru magang yang mereka sakiti—belum sepenuhnya berdiri. Masih banyak papan yang hilang, masih banyak retak yang menganga. Tapi sore itu, satu tiang pertama akhirnya ditanam.
Dan untuk pertama kali sejak buku catatan terkutuk itu terbongkar, keempatnya berjalan menjauh dari ruang guru tanpa membawa beban di pundak.
Hanya harapan kecil. Yang tulus. Yang sabar. Yang tahu bahwa sebagian maaf butuh waktu—dan rela menunggunya.