Hari Selasa, jam istirahat, dan langit mendung mengancam hujan. Aliansi berkumpul lagi di aula, kali ini untuk menempel keterangan di bawah tiap foto pameran. Pekerjaan membosankan—menempel, mengelap, menempel lagi—jadi mau tak mau, mereka mulai bercerita untuk membunuh waktu.
"Inget nggak," kata Fajar, menempel selotip, "pas lantai depan kelas kalian—maksudku kelas IPS 4—jadi biru semua?"
Reza, yang sedang mengelap bingkai, langsung nyengir. "Itu kerjaanku."
"AKU TAHU ITU KERJAAN KALIAN!" Fajar pura-pura marah. "Sumpah, satu pagi itu petugas piket kami nangis. Dia kira pelnya rusak. Dia ngepel makin lama lantai makin biru."
Meja itu meledak tawa. Bahkan Doni harus duduk karena terlalu keras tertawanya.
"Pewarnanya kebanyakan," Reza mengakui, mengelap mata. "Galih nyuruh dua tetes. Aku tuang setengah botol. Aku pikir, makin banyak makin bagus."
"Khas Reza banget," kata Bayu.
Dan di antara tawa itu—Arman, yang sedang menempel keterangan di sudut lain aula, ikut mendengar. Ia tidak ikut tertawa keras. Tapi pundaknya bergetar pelan. Dan ketika Fajar menirukan ekspresi petugas piket yang panik, Arman tidak bisa menahannya lagi.
Ia tertawa.
Bukan tawa kecil yang ia sembunyikan seperti waktu lalu. Kali ini tawa yang penuh, yang lepas, yang membuat seluruh aula mendadak hening dan menoleh ke arahnya.
Arman sadar semua mata tertuju padanya. Ia langsung berhenti, ujung telinganya memerah, tangannya turun. "Maaf. Aku cuma—"
"Nggak," potong Dimas pelan, dan suaranya hangat. "Lanjut aja, Man. Ketawanya bagus."
Arman menatapnya. Sesuatu di matanya melembut.
"Inget nggak kalian," kata Arman tiba-tiba, dan ini mengejutkan semua orang karena Arman jarang sekali memulai cerita, "pas kelas sepuluh, kalian masukin kodok ke laci Pak Herman?"
Empat anak pojok belakang membeku.
"...Kamu tahu itu kami?" tanya Bayu, ngeri.
"Seisi kelas tahu itu kalian," kata Arman datar. "Cuma Pak Herman yang nggak tahu. Aku diem aja waktu itu."
"KAMU NGGAK NGELAPORIN?" Dimas terbelalak.
Arman mengangkat bahu, dan—untuk pertama kali—ada nada jahil tipis di suaranya. "Pak Herman ngasih aku nilai tujuh padahal tugasku sembilan. Aku ikhlas dia kaget."
Aula meledak. Reza tertawa sampai tersedak. Fajar menggebrak meja. Bahkan aku—aku yang paling tenang—ikut tertawa terbahak, dan aku hampir tak pernah melakukan itu.
Dan di tengah ledakan tawa itu, aku diam-diam mengamati. Aku mengamati Arman yang tertawa lepas, Arman yang akhirnya berbagi cerita lama, Arman yang untuk pertama kali sejak konfrontasi mengerikan di koridor itu—terlihat seperti bukan musuh, bukan korban, melainkan teman.
Aku mengeluarkan buku catatan kecilku. Bukan buku rencana—itu sudah aku bakar di lapangan belakang minggu lalu. Ini buku baru, polos, yang aku beli untuk mencatat tugas pameran. Tapi di pojok halaman terakhir, dengan tulisan kecil yang tak akan dibaca siapa pun, aku menulis satu kalimat:
*Hari ini Arman ketawa lagi. Kerajaan mulai pulih.*
Aku menutup bukuku.
Hujan mulai turun di luar, menderu di atap aula. Tapi di dalam, suasananya hangat. Delapan anak aliansi dan Arman duduk melingkar di lantai aula, dikelilingi foto-foto angkatan mereka, bertukar cerita lama—kodok di laci, lantai biru, tepung terigu, kursi berlem—semua kenakalan yang dulu memisahkan mereka, kini menjadi kenangan yang menyatukan.
"Eh tapi serius," kata Reza di sela tawa, "kalian inget pas Bayu jadi manusia tepung?"
"JANGAN DIBAHAS," teriak Bayu.
"Putih semua, kayak hantu," lanjut Doni.
"AKU BILANG JANGAN DIBAHAS—"
Tawa lagi. Lebih keras. Arman tertawa paling akhir, paling pelan, tapi paling tulus.
Kerajaan pojok belakang tidak pulih dalam sekejap. Luka di masa-masa gelap itu tidak hilang begitu saja. Tapi sore itu, di bawah deru hujan dan di tengah foto-foto kenangan, satu retakan besar di antara mereka akhirnya menyatu kembali—bukan karena rencana, bukan karena strategi, tapi karena hal paling sederhana yang dulu mereka lupakan: tertawa bersama, bukan menertawakan.
Aku menyandarkan punggung ke dinding aula, menatap teman-temanku, dan untuk pertama kali dalam waktu lama, aku merasa lega.