"Selamat datang di Pameran Sejarah Perpisahan. Pa-pameran ini... eh." Arman berhenti. Ia menatap kertas di tangannya, lalu menatap deretan kursi kosong di aula. Keringat menetes dari pelipisnya. "Pameran ini meng-mengangkat tema..."
Ia berhenti lagi. Kertas di tangannya bergetar.
Di barisan kursi paling belakang—tentu saja paling belakang—empat anak duduk menonton. Tapi kali ini mereka tidak menonton untuk menertawakan. Bu Tania memberi tugas: bantu Arman latihan pidato pembukaan. Dan mereka, untuk pertama kali, menerima tugas itu dengan serius.
Atau setidaknya, mencoba.
"Man, dari awal lagi," kata Dimas dari kursi belakang.
Arman menarik napas. "Selamat datang di Pameran Sejarah Perpisahan. Pameran ini mengangkat tema sejarah angkatan kita di sekolah ini. Sebuah... sebuah perjalanan tiga tahun yang..." Suaranya tersendat. Tangannya semakin gemetar. "...yang... aduh. Lupa lagi."
Ia meremas kertas, frustrasi. "Aku nggak bisa. Aku nggak pernah bisa ngomong di depan banyak orang. Tiap upacara aku cuma baca teks, itu pun gemeteran."
Reza, yang duduk sambil mengunyah roti, berkata, "Mulutmu kering, Man. Minum dulu." Ia melempar botol air ke arah Arman.
Arman menangkapnya, agak terkejut dengan kebaikan itu. Ia minum. "Makasih."
"Masalahmu bukan di kata-kata," kataku tiba-tiba. Semua menoleh. Aku jarang bicara panjang, jadi kalau aku bicara, biasanya penting. "Masalahmu, kamu ngapalin. Tiap kamu lupa satu kata, semuanya buyar. Jangan ngapalin."
"Terus gimana?" tanya Arman.
"Ngomong aja yang kamu rasa." Aku bangkit, berjalan ke depan, berdiri di samping Arman. "Kamu kenapa mau bikin pameran ini bagus?"
Arman terdiam. "Karena... ini buat angkatan kita. Tahun terakhir. Aku pengin ada sesuatu yang... yang dikenang."
"Nah." Aku mengetuk kertas di tangan Arman. "Itu pidatomu. Bukan ini."
Arman menatapku. Lalu menatap kertas. Pelan, ia meletakkannya di lantai.
"Coba lagi," kataku. "Tanpa kertas. Ngomong aja kayak tadi ke aku."
Arman menelan ludah. Ia memandang kursi-kursi kosong itu—membayangkannya penuh. Lalu ia mulai.
"Selamat datang... di pameran ini." Suaranya masih bergetar, tapi sedikit lebih jujur. "Tiga tahun lalu, kita masuk sekolah ini sebagai anak-anak yang nggak saling kenal. Sekarang... sekarang kita mau lulus. Dan di antara itu, ada banyak hal yang terjadi. Ada yang lucu. Ada yang bikin nyesel. Ada yang—" Ia berhenti, dan untuk sepersekian detik, matanya melirik ke arah empat anak di belakang. "—ada yang nggak akan pernah aku lupa."
Hening.
Bayu, di kursi belakang, mendadak terisak. "Bagus banget, Man," katanya, mengusap hidung. "Aku terharu."
"Aku baru ngomong tiga kalimat, Bayu."
"Tiga kalimat tapi DALAM."
Dimas tertawa. Reza ikut tertawa. Dan Arman—Arman tersenyum. Sebuah senyum kecil, ragu, tapi nyata.
"Tapi tadi tanganmu udah nggak gemeteran, Man," kata Dimas, berdiri dan berjalan ke depan. "Tahu kenapa? Karena kamu nggak takut salah. Pas kamu ngapalin, kamu takut lupa kata. Pas kamu ngomong dari hati, nggak ada yang bisa salah, karena itu beneran punyamu."
Arman memungut kertasnya dari lantai. Ia menatapnya sejenak, lalu—dengan gerakan yang membuat keempat anak terkejut—ia merobeknya pelan jadi dua.
"Oke," kata Arman. "Tanpa kertas."
"YEAH!" Reza bertepuk tangan, roti masih di mulut.
Mereka berlatih sampai matahari condong. Arman mengulang pidatonya berkali-kali, kadang lupa, kadang tersendat, tapi setiap kali ia kembali ke satu hal sederhana: cerita yang benar-benar ingin ia sampaikan. Pelan-pelan, suaranya semakin mantap.
Saat matahari hampir tenggelam, Bu Tania masuk untuk mengecek. Ia berdiri di pintu, mengamati. Arman, yang tidak menyadari kehadirannya, sedang menyampaikan pidato versi terbaiknya, suaranya jelas dan tulus, ditemani empat anak yang—anehnya—mengangguk-angguk seperti pelatih bangga.
Bu Tania tidak masuk. Ia hanya berdiri di ambang pintu, tersenyum kecil, lalu pergi diam-diam.
Karena ia tahu, apa yang sedang terjadi di aula itu jauh lebih penting dari sekadar latihan pidato. Empat anak yang dulu menjadikan Arman bahan tertawaan, kini berdiri di sampingnya—bukan menertawakan kegagalannya, tapi menolongnya bangkit dari kegagalan itu.
Itu, pikir Bu Tania, adalah perubahan yang sebenarnya ia harapkan sejak awal.