Bu Tania memanggilku ke ruang panitia sepulang sekolah. Hanya aku.
"Galih, kan?" katanya, meski ia jelas tahu namaku. Ia sedang merapikan kertas, tidak menatapku langsung. "Yang paling diam di antara kalian berempat. Yang katanya paling pintar tapi pura-pura nggak."
Aku tidak menjawab. Tidak ada gunanya berbohong pada orang yang sudah tahu.
"Duduk," katanya.
Aku duduk. Di ruangan itu cuma ada kami berdua, deretan papan pameran setengah jadi, dan foto-foto angkatan yang sudah mulai tersusun di meja. Senja masuk lewat jendela, menguningkan semuanya.
Bu Tania akhirnya menghadap aku. Tidak marah. Tidak tersenyum. Cuma lelah, dengan cara yang dewasa, cara yang membuatku merasa jauh lebih muda dari biasanya.
"Aku cuma mau satu hal," katanya. "Kebenaran. Tanpa lelucon, tanpa pembelaan, tanpa cerita yang dibikin biar aku kasihan. Aku udah dengar versi 'maaf bu, kami salah'. Aku nggak butuh itu lagi." Ia menatapku lurus. "Aku butuh tahu kenapa. Kenapa kalian ngelakuin ini. Dari awal. Yang sebenarnya."
Aku menarik napas. Dan aku ceritakan semuanya.
Taruhan cokelat. Bagaimana itu jadi misi konyol bernama menjodohkan Arman. Bagaimana awalnya cuma untuk ditertawakan saat reuni. Aku tidak menyembunyikan satu pun bagian yang memalukan—buku catatan, "bukti naksir", rencana mengatur pertemuan, semuanya. Aku ceritakan apa adanya, betapa bodoh dan kejamnya, tanpa membungkusnya jadi lebih manis.
Lalu aku sampai di bagian yang lebih sulit.
"Tapi ada satu hal yang bener, Bu," kataku. "Di tengah-tengah semua kebodohan itu, ada satu alasan yang tulus. Dimas—dia yang paling iseng, yang ngajak semua ini—dia ngeliat Arman selalu serius, selalu sendiri, nggak pernah keliatan beneran bahagia. Dan dia pengin ngasih Arman satu momen bahagia di tahun terakhir. Itu yang dia bilang ke kita: 'hadiah, dari musuh ke musuh.'" Aku menunduk. "Niatnya tulus, Bu. Cuma caranya... caranya salah total. Kami terlalu mikirin kebahagiaan Arman sampai lupa kalau ada orang lain di rencana ini. Kami lupa kalau Ibu itu manusia. Bukan alat buat bikin Arman bahagia. Manusia, yang punya perasaan sendiri, yang nggak pernah sekali pun kami tanya: 'apa Bu Tania mau jadi bagian dari ini?'"
Aku mengangkat kepala. "Itu kesalahan terbesar kami, Bu. Bukan ngebohongin Arman. Tapi mikirin Ibu kayak Ibu nggak ada perasaan. Kayak Ibu cuma... potongan dalam permainan. Dan itu nggak termaafkan, dan aku nggak akan minta dimaafkan buat itu. Aku cuma mau Ibu tahu yang sebenarnya, kayak yang Ibu minta."
Bu Tania terdiam lama. Sangat lama. Senja bergerak di lantai, bayangan papan pameran memanjang.
Ketika akhirnya ia bicara, suaranya pelan.
"Kalian tahu apa yang paling sakit?" katanya, lebih ke jendela daripada ke aku. "Bukan dibohongi. Aku guru magang. Aku tahu murid kadang iseng. Yang paling sakit adalah... selama beberapa minggu itu, aku benar-benar bahagia. Aku pikir aku nemu kelas yang seru, anak-anak yang lucu, seorang ketua panitia yang ternyata diam-diam suka sejarah sama kayak aku. Aku pikir itu semua nyata." Ia mengusap matanya, cepat, sebelum air mata sempat jatuh. "Terus aku dengar kata 'settingan', 'proyek', 'jodohkan' di koridor itu. Dan tiba-tiba semua kebahagiaan beberapa minggu itu kerasa palsu. Seolah aku ketawa sendirian sementara semua orang nonton dan ngerencanain."
Dadaku terasa berat. Aku tidak punya kata-kata yang cukup besar untuk itu.
"Bu," kataku akhirnya, lirih. "Yang Ibu rasain waktu itu—keseruan, ketawa bareng, ngobrol soal sejarah sama Arman—itu nyata. Yang kami atur cuma pertemuannya. Tapi ketawanya, obrolannya, kebahagiaannya... itu lahir sendiri, Bu. Itu nggak bisa kami setting. Nggak ada yang bisa nyetting orang ketawa beneran. Itu... itu satu-satunya bagian dari semua ini yang bukan kebohongan."
Bu Tania menatapku. Untuk waktu yang lama. Dan ada sesuatu di matanya yang bergeser—bukan maaf, belum, tapi sesuatu seperti pertimbangan. Seperti seseorang yang baru saja diberi sepotong kebenaran yang ia tidak tahu butuh ia dengar.
"Pulanglah, Galih," katanya akhirnya, pelan. "Aku perlu mikir."
Aku berdiri, mengangguk, berjalan ke pintu. Di ambang, aku berhenti.
"Bu," kataku, tanpa menengok. "Pameran Ibu bakal jadi yang terbaik. Aku janji. Bukan buat nebus apa-apa. Tapi karena Ibu pantes dapet itu."
Aku keluar, meninggalkannya sendiri dengan senja dan foto-foto angkatan dan kebenaran yang baru saja kuletakkan di mejanya seperti sebuah barang yang akhirnya, setelah sekian lama, dikembalikan ke pemilik yang sah.