Kami tidak mendatangi Arman dengan pidato. Tidak dengan rencana. Tidak dengan permintaan maaf yang sudah ia tolak berkali-kali.
Kami cuma mulai datang ke ruang panitia.
Hari pertama, pameran butuh papan-papan display dipotong dan diamplas. Arman ada di sana, sendirian, mengukur kayu dengan penggaris seolah hidupnya bergantung pada presisi setengah milimeter. Kami masuk, mengambil amplas, dan mulai bekerja. Tidak bicara soal maaf. Tidak bicara soal kelas sepuluh. Cuma kerja.
Arman berhenti mengukur. "Kalian ngapain?"
"Bantuin," kata Reza, sudah berkeringat. "Papannya banyak."
"Aku nggak minta bantuan."
"Tahu," kata Dimas, tanpa berhenti mengamplas. "Tapi kita anggota panitia. Lo ketuanya. Atau—" ia melirik, "—lo masih ketuanya?"
Arman tidak menjawab. Tapi ia juga tidak mengusir kami. Dan kami bekerja sampai sore, dalam keheningan yang janggal tapi tidak bermusuhan, debu amplas menempel di seragam, dan ketika kami pulang Arman cuma menggumam "papan yang itu kurang halus" pada potongan kerja Reza—dan entah kenapa itu terasa seperti kemenangan kecil.
Hari kedua kami datang lagi. Hari ketiga. Hari keempat.
Pada hari kelima, sesuatu berubah.
Aku sedang menyusun urutan foto di lantai ruang panitia ketika Arman berjalan mendekat dan berdiri di sampingku, menatap deretan foto angkatan kami yang terbentang di lantai. Aku diam, tidak mengusiknya.
Lalu jariku—sengaja, atau setengah sengaja—menggeser satu foto ke barisan. Foto kelas sepuluh. Yang itu. Arman tersenyum, Dimas di sebelahnya, keduanya tertawa.
Arman terpaku.
Lama ia menatap foto itu. Aku bisa melihat rahangnya menegang, lalu mengendur, lalu menegang lagi, seperti ia sedang berperang dengan sesuatu di dalam.
"Dari mana foto ini," katanya pelan.
"Arsip angkatan," kataku. "Bu Sari ngasih kita tugas milah." Aku berhenti, lalu memutuskan untuk jujur—karena itu aturan kami sekarang. "Kita lihat foto ini, Man. Dan kita inget. Kita inget kita pernah temenan sama lo. Dan kita inget—" aku menelan ludah, "—kita pernah ninggalin lo. Pas lo dituduh nyontek kelas sepuluh. Kita nggak sengaja. Tapi kita ninggalin lo. Dan kita minta maaf buat itu. Bukan buat pameran. Buat ini. Yang udah tiga tahun."
Arman tidak bergerak. Matanya tidak lepas dari foto.
"Aku nungguin," katanya akhirnya, suaranya nyaris tak terdengar. "Tiga tahun. Aku nungguin satu dari kalian nyamperin aku dan bilang 'eh, kita masih temen kan?'. Nggak ada yang dateng. Jadi aku mutusin... kalau emang nggak ada yang inget aku, aku nggak akan kasih siapa pun kesempatan ninggalin aku lagi. Aku jadi kaku biar nggak ada yang bisa deket. Biar nggak ada yang bisa nyakitin lagi."
"Maaf," kata Dimas, dari ambang pintu. Ia baru datang, mendengar bagian akhir. Suaranya serak. "Maaf kita telat tiga tahun, Man. Maaf banget."
Arman menutup matanya. Lama. Lalu ia membuka mata, dan ketika ia bicara, suaranya sudah lebih tegak, lebih ketua-kelas, tapi ada yang berbeda di dalamnya.
"Aku belum maafin kalian," katanya jelas. "Belum. Mungkin butuh waktu lama. Mungkin nggak pernah selesai-selesai amat."
Tidak ada yang protes. Kami sudah belajar untuk tidak meminta lebih dari yang pantas kami dapat.
"Tapi," lanjut Arman, dan ia menatap deretan foto di lantai, foto angkatan yang harus diurutkan, pameran yang harus dibuka, "pameran ini bukan soal aku sama kalian. Ini soal angkatan. Soal Bu Tania yang udah kerja keras. Soal anak-anak yang berhak punya kenangan bagus di tahun terakhir." Ia membenarkan dasinya. "Jadi aku bakal balik jadi ketua panitia. Bukan buat kalian. Buat mereka. Dan buat dia."
Itu bukan pelukan. Bukan rekonsiliasi penuh. Bukan kerajaan yang pulih.
Tapi ketika Arman berjongkok di samping kami dan mulai ikut mengatur urutan foto—termasuk foto kelas sepuluh yang ia letakkan, dengan tangannya sendiri, di tumpukan "dipajang"—aku tahu kami baru saja menyentuh damai yang pertama.
Dingin. Hati-hati. Belum hangat.
Tapi nyata.