Kebenaran sudah kuletakkan di meja itu, utuh, tanpa kusunting jadi lebih manis. Tapi Bu Tania tidak langsung menyuruhku pulang. Ia masih duduk di ruang panitia yang sepi, di antara tumpukan kardus dan papan-papan pameran yang belum dipasang, memutar pulpen di tangannya seolah ada satu hal lagi yang harus ia katakan. Lampu neon di atas berkedip pelan, seperti ikut bingung harus berkata apa.
"Jadi," kata Bu Tania akhirnya, suaranya tenang, "kalian merencanakan supaya saya dekat dengan Arman. Tanpa pernah bertanya saya mau atau tidak."
"Iya, Bu." Aku menelan ludah. "Itu salah kami yang paling besar."
Bu Tania mengangguk pelan. Ia tidak marah—dan itu justru yang membuatku lebih takut daripada kalau ia membentak. Bu Tania memutar pulpen di tangannya, lalu meletakkannya.
"Galih, saya mau cerita sedikit. Boleh?"
Aku mengangguk.
"Saya ini mahasiswa semester akhir. Magang di sini cuma satu semester. Buat kalian mungkin saya kelihatan dewasa, tapi sebenarnya saya cuma beberapa tahun di atas kalian." Ia tersenyum kecil, tapi senyum yang lelah. "Waktu saya pertama masuk kelas, saya gugup setengah mati. Saya pengin dianggap guru beneran, bukan kakak-kakakan. Dan saya benar-benar peduli sama murid-murid saya. Termasuk Arman. Termasuk kalian, anak pojok belakang yang bikin saya pusing."
Aku tidak berani menyela.
"Tapi ada satu hal yang harus kalian mengerti," lanjut Bu Tania, dan kali ini nadanya berubah—lebih tegas, seperti garis yang ditarik di pasir. "Saya guru. Kalian murid. Arman murid. Ada batas di situ yang nggak boleh dilewati siapa pun, apa pun alasannya. Bukan karena saya nggak menghargai perasaan—saya menghargai. Justru karena saya menghargai, makanya batas itu ada."
"Saya ngerti, Bu," kataku pelan.
"Belum, kayaknya." Bu Tania menghela napas. "Perasaan itu bukan mainan, Galih. Bukan sesuatu yang bisa kalian setting kayak panggung. Kalau Arman betul-betul punya rasa, itu perasaan dia, milik dia sendiri, dan dia berhak menyimpannya dengan hormat—bukan dijadikan proyek lucu-lucuan supaya bisa ditertawakan pas reuni sepuluh tahun lagi."
Kata "reuni sepuluh tahun" menusuk. Aku ingat persis. Itu kalimat Dimas di hari kedua kami memulai semua ini. Aku tidak menyangka Bu Tania mendengarnya juga.
"Maaf, Bu," kataku. Dan untuk pertama kali, kata maaf itu keluar tanpa ada rencana di baliknya. Tidak ada sutradara, tidak ada strategi, tidak ada Dimas yang mengarahkan. Cuma aku yang benar-benar menyesal.
Bu Tania menatapku lama. Lalu sudut bibirnya melembut sedikit—bukan tersenyum penuh, tapi tidak lagi sedingin tadi.
"Saya hargai kejujuran kamu," katanya. "Kamu tahu, dari semua hal yang kalian lakukan, yang ini—datang ke sini, ngomong terus terang, nggak mutar-mutar—ini yang pertama kali bikin saya percaya kalian masih bisa diperbaiki."
Aku mengangkat kepala.
"Tapi percaya itu beda sama lupa," Bu Tania menambahkan cepat. "Saya nggak akan pura-pura nggak ada apa-apa. Pameran tetap jalan, karena itu hak satu angkatan, bukan urusan pribadi saya. Kalian kerja, Arman kerja, saya bimbing. Profesional. Tanpa setting-setting lagi. Bisa?"
"Bisa, Bu."
"Dan satu lagi." Bu Tania berdiri, merapikan map di tangannya. "Kalau kalian betul-betul sayang sama Arman—dan saya rasa diam-diam kalian sayang—berhentilah memperlakukan dia kayak objek lelucon. Mulai perlakukan dia kayak teman. Itu jauh lebih susah daripada ngerjain orang. Tapi itu yang dia butuhkan."
Aku berdiri juga. Aku merasa ada sesuatu yang bergeser di dalam dadaku—bukan beban yang hilang, tapi beban yang akhirnya aku tahu cara membawanya.
"Terima kasih, Bu," kataku.
Bu Tania berjalan ke pintu, lalu berhenti sebentar. "Galih. Bilang ke teman-temanmu. Garisnya udah saya tarik. Jangan ada yang coba-coba melewatinya lagi. Kalau lewat sekali lagi, saya nggak akan selembut ini."
Pintu menutup pelan di belakangnya.
Aku berdiri sendirian di ruang panitia yang sepi. Di luar, suara langkah Bu Tania menjauh di koridor. Untuk pertama kali sejak buku catatan itu terbongkar, aku merasa udara terasa sedikit lebih ringan untuk dihirup.
Es belum mencair. Tapi setidaknya, retakan pertama sudah muncul di permukaannya.