Petunjuknya datang dari arah yang tidak kami duga.
Aku membawa foto kelas sepuluh itu ke Bu Sari keesokan harinya, pura-pura bertanya soal urutan pameran, lalu menyelipkan pertanyaan yang sebenarnya.
"Bu, Arman ini... dia waktu kelas sepuluh beda ya? Di foto dia kelihatan—" aku mencari kata, "—lebih lepas."
Bu Sari mengambil foto itu, menatapnya lama, dan wajahnya melembut dengan kesedihan tua. "Kamu nggak inget kejadiannya?"
"Nggak, Bu. Kami semua lupa."
"Karena buat kalian itu kejadian kecil," kata Bu Sari pelan. "Buat Arman, itu yang mengubah segalanya."
Ia menceritakannya. Dan ketika aku membawanya kembali ke bangku belakang sore itu, dan menceritakannya pada ketiga temanku, kelas yang sudah kosong terasa makin sunyi.
"Kelas sepuluh, semester satu," kataku. "Ada ulangan matematika. Arman dapet nilai tertinggi. Tapi gurunya, waktu itu, nuduh dia nyontek—karena katanya 'nggak mungkin ada anak baru sepinter itu'. Tuduhan kosong. Tapi tersebar cepat. Setengah kelas percaya. Dan kalian tahu apa yang anak-anak lakuin ke orang yang dituduh nyontek."
Bayu menelan ludah. "Dijauhin."
"Dijauhin," ulangku. "Selama berminggu-minggu, Arman jadi 'si tukang contek'. Padahal dia nggak. Bu Sari yang akhirnya ngebela dia, minta ulangan ulang dengan pengawasan ketat, dan Arman dapet nilai tertinggi lagi. Tuduhannya gugur. Tapi luka udah terlanjur." Aku menatap Dimas. "Dan inilah yang bikin sakit. Bu Sari bilang, Arman inget satu hal dari masa itu yang nggak pernah dia lupain. Pas dia dituduh, pas setengah kelas ngejauhin dia—dia inget kita berempat ada di antara yang menjauh."
"Apa?" Dimas tegak. "Nggak. Aku nggak inget—aku nggak pernah—"
"Kita nggak sengaja," kataku cepat. "Itu intinya. Kita nggak ikut nuduh. Kita nggak ngejauhin dia dengan sengaja. Tapi waktu itu kita baru kenal, kita ikut arus, kita berhenti ngajak dia ngobrol karena semua orang berhenti. Buat kita itu nggak berarti apa-apa—kita bahkan nggak inget. Tapi buat Arman..." Aku menarik napas. "Buat Arman, temen pertama yang dia punya di SMA—Dimas, yang ketawa di sampingnya di foto itu—ikut ninggalin dia pas dia paling butuh. Dan dia nggak pernah maafin itu. Bukan karena kita jahat. Tapi karena buat dia, itu bukti kalau dia nggak bisa percaya siapa pun."
Hening menelan bangku belakang.
"Jadi selama tiga tahun..." kata Reza pelan, mencoba menyusunnya. "Kita ngira Arman musuh karena dia kaku dan nyebelin. Tapi dia kaku dan nyebelin karena dia ngira kita yang musuh duluan. Karena kita ninggalin dia."
"Salah paham," gumam Bayu. "Salah paham tiga tahun."
Dimas duduk diam, menatap foto kelas sepuluh di tangannya. Senyum lepas Arman. Dirinya yang muda di sampingnya. Aku tahu apa yang sedang ia rasakan, karena aku merasakannya juga—rasa bersalah yang lebih dalam dari sekadar kebohongan pameran. Rasa bersalah atas sesuatu yang bahkan tidak kami sadari telah kami lakukan.
"Kita bikin dia kaku," kata Dimas akhirnya, suaranya pecah. "Bukan ayahnya doang. Kita juga. Kita yang pertama ngajarin dia kalau temen itu bisa ninggalin lo kapan aja. Dan tiga tahun kita ngeledek dia karena tembok yang kita sendiri bantu bangun."
Tidak ada yang membantah.
Untuk pertama kali, aku mengerti kenapa permintaan maaf kami selama ini ditolak mentah-mentah. Karena Arman tidak sedang menolak maaf untuk kebohongan pameran. Ia menolak maaf untuk luka berusia tiga tahun yang kami bahkan tidak tahu telah kami tinggalkan.
"Berarti minta maaf doang nggak cukup," kataku pelan. "Kita harus buktiin—lewat waktu, bukan kata-kata—kalau kali ini kita nggak akan ninggalin dia. Bahkan kalau dia nolak kita seribu kali."