Perpustakaan sore itu sepi. Cuma ada penjaga yang setengah tertidur di mejanya, dan kami berempat mengepung satu meja panjang di pojok, dikelilingi tumpukan amplop foto.
Awalnya kami mengerjakannya seperti tugas: pilah berdasarkan tahun, urutkan, sisihkan yang buram. Tapi tidak butuh lama sampai pekerjaan itu berubah jadi sesuatu yang lain.
"Astaga, liat ini." Bayu memegang foto. "Reza kelas sepuluh. Kurus."
"Mana?" Reza merebut foto itu, melihat dirinya sendiri tiga tahun lalu, dan wajahnya jatuh dramatis. "Itu beneran aku? Aku pernah... sekecil itu?"
"Terus roti masuk ke hidup lo," kata Dimas, dan kami semua—termasuk Reza—tertawa. Tawa yang lebih bebas dari berhari-hari ke belakang. Di perpustakaan ini, jauh dari kelas, jauh dari Arman dan Bu Tania dan rasa bersalah, kami sejenak bisa jadi diri kami yang dulu.
Foto demi foto. Tujuh belas Agustus kelas sepuluh, Bayu jadi peserta balap kelereng dan jatuh tepat di garis finis. Classmeeting, Dimas memimpin tim bola dengan ikat kepala absurd. Study tour, kami berempat tidur saling tumpang tindih di bus. Tiga tahun yang terekam, momen-momen yang sudah hampir kami lupakan, kini muncul satu per satu dari amplop berdebu.
Lalu Bayu berhenti.
"Galih," katanya, suaranya berubah. "Sini."
Ia memegang sebuah foto kelas. Foto resmi, kelas sepuluh, semester awal. Empat baris anak-anak menghadap kamera, sebagian besar wajah yang masih kami kenali, sebagian sudah pindah atau lupa namanya.
"Lihat barisan depan," kata Bayu.
Aku melihat. Dan dadaku terasa aneh.
Di barisan depan, di tengah, berdiri Arman. Kelas sepuluh. Seragam rapi, tentu—tapi bukan itu yang membuatku terpaku.
Arman tersenyum.
Bukan senyum kaku yang dipaksakan untuk foto. Senyum lepas, mata menyipit, kepala sedikit miring ke arah anak di sebelahnya. Dan anak di sebelahnya—
"Itu... aku," kata Dimas pelan. Ia menarik foto itu lebih dekat. "Itu aku di sebelah Arman. Dan kita... ketawa. Kita ketawa bareng."
Kami berempat menunduk ke foto itu, dan tidak ada yang bicara untuk waktu yang lama.
Di foto kelas sepuluh, semester pertama, sebelum semuanya—sebelum "musuh bebuyutan", sebelum prank, sebelum tiga tahun saling ribut—Arman berdiri di samping Dimas, dan keduanya tertawa lepas seperti teman.
"Kita pernah temenan sama dia," kata Reza, suaranya nyaris berbisik. "Beneran temenan. Aku... aku lupa. Gimana bisa aku lupa?"
Aku mengangkat kepala. Aku tahu—aku selalu tahu lebih banyak dari yang kuperlihatkan—tapi bahkan aku tidak ingat kapan persisnya itu berubah. Kapan Arman dari teman yang tertawa di samping Dimas berubah jadi ketua kelas kaku yang kami jadikan musuh.
"Kita lupa," kataku pelan, "karena sesuatu terjadi. Di antara foto ini dan sekarang, ada sesuatu yang bikin Arman berubah. Dan kita nggak pernah nanya. Kita cuma nerima dia sebagai 'musuh' dan lupa kalau dia pernah—" aku menunjuk foto itu, "—ini."
Dimas memegang foto itu seolah benda paling rapuh di dunia. "Aku inget sekarang," katanya pelan. "Samar. Kita emang temenan kelas sepuluh. Terus ada... ada sesuatu. Aku nggak inget apa. Tapi tiba-tiba dia jauh, dan kita ribut, dan tiga tahun berlalu, dan aku bener-bener lupa kalau senyum ini pernah ada."
Aku menyisihkan foto itu ke tumpukan terpisah. Tumpukan paling penting.
"Kita harus cari tahu," kataku. "Apa yang terjadi di antara foto ini dan sekarang. Karena aku punya firasat—" aku menatap mereka, "—luka Arman bukan dimulai dari kita yang ngebohongin dia minggu lalu. Tapi dari sesuatu yang jauh lebih lama. Dan mungkin, selama ini, kita salah ngira dia musuh, padahal sebenernya dia ngira kita yang ninggalin dia duluan."