Senin pagi, sebelum bel, kami berempat menemui Arman di kelas yang masih setengah kosong. Ia duduk di bangku depan, seragam serapi biasa, dasi lurus, sedang membaca buku sejarah yang tebalnya bikin Reza ngilu cuma dengan melihatnya.
Arman mengangkat kepala, melihat kami, lalu kembali ke bukunya. "Kalau mau minta maaf lagi, jawabannya tetap sama. Aku nggak butuh."
"Kita nggak ke sini buat minta maaf," kata Dimas.
Itu membuat Arman berhenti membaca.
"Kita ke sini buat dengerin," lanjut Dimas. Ia menarik kursi kosong di depan Arman, memutarnya, lalu duduk dengan dada menghadap sandaran. Aku, Reza, dan Bayu berdiri saja, tidak ingin terlihat seperti mengepungnya. "Tiga tahun kita ribut sama lo dan nggak pernah sekalipun nanya kenapa lo kayak gitu. Kenapa lo selalu serius. Kenapa lo selalu rapi. Kita cuma nge-judge dari jauh terus bikin lelucon. Jadi sekarang kita mau nanya. Beneran. Dan abis itu kita diem."
Arman menutup bukunya pelan. Lama ia menatap mereka, mencari jebakan, mencari kamera tersembunyi, mencari niat buruk yang sudah ia duga ada. Tapi tidak ada. Cuma empat anak yang biasanya berisik, kini diam, menunggu.
"Kalian nggak bakal ngerti," katanya akhirnya.
"Coba aja," kata Bayu lirih.
Arman memalingkan wajah ke jendela. Lama. Lalu, dengan suara yang lebih pelan dari yang pernah kami dengar darinya, ia mulai.
"Aku anak pertama. Adikku dua. Ayahku..." Ia berhenti, memilih kata. "Ayahku ngukur orang dari nilai. Dari peringkat. Dari seberapa rapi seragamnya pas keluar rumah. Sejak SD aku dapet kalimat yang sama tiap pagi: 'Kamu yang paling tua, kamu yang harus jadi contoh.' Tiap rapor, kalau ada satu nilai turun, bukan dimarahin—lebih parah dari dimarahin. Didiemin. Dipandang kayak aku ngecewain seluruh keluarga."
Tidak ada yang bicara. Bahkan Reza, yang biasanya menggeser kaki kalau hening terlalu lama, berdiri diam.
"Jadi aku rapi," lanjut Arman. "Aku serius. Aku jadi ketua kelas. Bukan karena aku suka. Karena itu satu-satunya cara aku ngerasa... cukup. Tiap kali aku negur kalian yang ribut di belakang, kalian liat ketua kelas yang nyebelin. Aku liat satu-satunya hal yang bikin aku ngerasa berguna." Ia mengusap dasinya, kebiasaan kecil yang baru kusadari.
Ia diam sebentar. Tangannya bermain di sudut buku yang sudah tertutup.
"Kalian tahu kenapa aku selalu dateng paling pagi?" tanyanya, tapi bukan benar-benar bertanya. "Bukan karena aku rajin. Karena rumah itu... berat. Pagi-pagi ayahku ngecek seragamku sebelum aku keluar. Kerah, dasi, sepatu. Kalau ada yang miring, aku diceramahin sampai aku telat sendiri. Jadi aku mendingan berangkat subuh. Sekolah, walaupun isinya kalian yang ngeledek aku terus, masih lebih tenang daripada meja makan di rumah." Ia tersenyum getir, senyum yang tidak sampai ke matanya. "Lucu, ya. Aku lari dari rumah ke tempat yang juga nggak nerima aku."
"Dan pas kalian ngajak aku jadi ketua panitia waktu itu—pas Dimas pidato—aku..." Suaranya tersendat. "Itu pertama kalinya seumur hidup ada yang milih aku bukan karena aku rapi atau pinter. Bukan karena aku 'anak teladan'. Tapi karena... entah. Aku kira karena kalian akhirnya ngeliat aku. Aku kira kalian, dari semua orang, akhirnya nganggep aku temen. Terus ternyata itu bagian dari rencana lucu-lucuan."
Dada Dimas naik turun. Aku tahu ia ingin sekali bilang yang itu tulus, Man, sumpah. Tapi ia tidak. Karena kami sudah sepakat: kali ini kami diam dan mendengarkan.
Arman menatap kami satu per satu, menunggu sanggahan, menunggu pembelaan. Tidak ada. Cuma empat anak yang mendengarkan setiap kata, menyimpannya, tidak menjadikannya bahan apa pun.
Dan keheningan kami—bukan kata-kata—yang akhirnya membuat sesuatu di wajah Arman melembut sedikit. Cuma sedikit. Sebatas retakan setipis rambut di tembok yang sangat keras.
"Udah," katanya, membuka bukunya lagi. "Kalian udah dengerin. Sekarang pergi."
Kami pergi. Tidak ada yang bicara sampai di bangku belakang.
Reza yang memecah keheningan, suaranya berat. "Kita... kita pernah jahat banget ya sama dia. Bertahun-tahun."
Tidak ada yang membantah.
Untuk pertama kali, kami tidak melihat ketua kelas yang kaku dan nyebelin. Kami melihat anak yang sama capeknya dengan kami semua, cuma menyimpannya di balik seragam yang terlalu rapi.