Hari Rabu, Bu Tania masuk mengajar seperti biasa. Profesional. Tepat waktu. Tersenyum pada seisi kelas—tapi senyum yang sama untuk semua orang, senyum yang dipakai guru pada murid yang baru saja ia temui, bukan senyum yang dulu ia berikan saat tertawa bersama Arman soal sejarah dan buku dan cita-cita.
Senyum yang tidak menjangkau bangku belakang.
Ia menulis di papan, mengajar topik revolusi, dan sesekali matanya menyapu kelas, dan setiap kali melewati pojok kami, geraknya tidak berubah, tidak melambat, tidak juga mempercepat. Seolah empat kursi itu kosong. Itu lebih menyakitkan daripada kalau ia memelototi kami.
Di depan, Arman mencatat dengan tulisan rapinya, tidak menengok sekali pun. Sejak kehancuran itu, ia dan Bu Tania—yang dulu paling sering tertawa bersama soal sejarah—kini berada di ruangan yang sama seperti dua kutub yang sengaja saling membelakangi. Bu Tania bertanya pada kelas, "Ada yang tahu kenapa revolusi ini bisa pecah?" dan untuk pertama kalinya Arman, yang biasanya pertama mengangkat tangan, diam saja, pura-pura sibuk dengan catatan. Bu Tania menunggu sebentar, lalu menjawab pertanyaannya sendiri, dan suaranya nyaris tak berubah—tapi aku mendengar jeda kecil itu, ruang kosong tempat sebuah persahabatan dulu pernah berdiri.
Di sepuluh menit terakhir, ia menutup buku dan menghadap kelas.
"Sebelum bel," katanya, "ada pengumuman tentang pameran."
Kelas menegang. Sebagian dari kami sudah menduga ia akan membatalkannya. Setelah semua yang terjadi—settingan, kebohongan, panitia yang dibentuk dari sebuah misi konyol—wajar kalau ia tidak mau lagi berurusan dengan pameran yang lahir dari kepalsuan.
"Pameran sejarah perpisahan tetap dilaksanakan," kata Bu Tania.
Aku mengangkat kepala.
"Sesuai jadwal. Temanya tetap sama: sejarah angkatan ini, di sekolah ini." Ia menatap kelas, suaranya tenang dan jelas. "Aku tahu beberapa di antara kalian mungkin berpikir aku akan membatalkannya. Karena... alasan pribadi." Ia tidak melihat ke pojok. Ia tidak perlu. "Tapi pameran ini bukan punyaku. Bukan punya panitia. Ini punya seluruh angkatan kalian. Tiga tahun kalian di sekolah ini—susah, senang, ribut, berdamai—itu sejarah yang layak diceritakan. Dan aku nggak akan ngebiarin urusan pribadi ngerusak sesuatu yang jadi hak satu angkatan."
Ia tersenyum, dan untuk sesaat senyum itu hampir tulus, tapi bukan untuk kami.
"Itu yang aku pelajari dari sejarah," lanjutnya. "Hal-hal besar nggak boleh berhenti cuma karena orang-orang di dalamnya lagi patah. Romawi nggak runtuh karena satu kaisar kecewa. Jadi pameran jalan terus. Panitia tetap bekerja. Ketua panitia..." Ia berhenti sepersekian detik. "...kalau ketua panitia bersedia kembali, pintu masih terbuka. Kalau tidak, kita atur ulang. Tapi pameran ini akan ada."
Bel berbunyi. Ia mengumpulkan bukunya, mengangguk pada kelas, dan keluar tanpa menengok ke belakang.
Kami berempat duduk diam.
"Dia bisa aja batalin," gumam Bayu. "Dia punya seribu alasan buat batalin. Dan dia milih nggak."
"Itu yang bikin makin sakit," kata Dimas pelan. Ia menatap pintu yang baru saja ditutup Bu Tania. "Kalau dia jahat, kita bisa benci. Kalau dia marah, kita bisa minta maaf. Tapi dia... dia tetep mikirin angkatan kita. Tetep mikirin hak orang lain. Bahkan pas kita udah ngebohongin dia." Ia menelan ludah. "Dia jauh lebih dewasa dari kita semua."
"Lo denger nggak yang dia bilang tadi?" tanya Reza pelan. "'Romawi nggak runtuh karena satu kaisar kecewa.' Dia ngomong soal sejarah, tapi sebenernya dia ngomong soal dirinya sendiri. Dia kecewa berat, tapi dia mutusin buat nggak ngeruntuhin apa pun karena itu."
Aku menoleh ke Reza, agak terkejut. Untuk anak yang seluruh dunianya berputar di sekitar roti, ia kadang menangkap hal-hal yang luput dari yang lain.
"Iya," kataku. "Persis kayak gitu."
Aku menatap papan tulis, tulisan tangan rapi Bu Tania tentang revolusi yang belum sempat dihapus.
Sejarah yang belum selesai, pikirku. Bukan cuma pameran. Tapi kami. Apa yang kami rusak. Apa yang harus kami perbaiki.
"Kita kerja," kataku akhirnya. "Buat pameran. Sekeras-kerasnya. Bukan buat dapet maaf. Tapi karena dia bener: angkatan ini layak punya sejarah yang bagus. Dan kita ngutang itu—ke dia, ke Arman, ke semua orang."
Dimas mengangguk. Untuk pertama kali sejak kehancuran, ada tujuan lagi di matanya. Bukan tujuan untuk menang. Tujuan untuk menebus.