Aliansi berkumpul lagi di meja pojok kantin Sabtu pagi, hari libur, ketika sekolah kosong dan kantin cuma buka untuk anak-anak yang ikut ekstra. Delapan orang. Dimas datang paling awal kali ini, sesuatu yang membuat Fajar mengangkat alis.
"Tumben," kata Fajar.
"Aku punya sesuatu," jawab Dimas. Tapi ia tidak berdiri di kepala meja seperti biasa, tidak mengetuk-ngetuk untuk minta perhatian seperti sutradara. Ia duduk, biasa saja, di antara kami. "Dan kali ini aku butuh kalian benerin kalau idenya jelek."
Doni nyengir. "Wah. Dimas minta dikoreksi. Catat tanggalnya, Hen."
Hendra benar-benar mengeluarkan ponsel pura-pura mencatat, dan untuk pertama kali sejak hari kelam itu, meja pojok terkikik. Kecil. Tapi ada.
Aku membuka buku tulis—bukan buku catatan rencana yang lama, itu sudah tidak ada—halaman kosong baru. Di atasnya tidak kutulis judul apa pun. Tidak ada "MISI" apa-apa. Cuma garis polos.
"Oke," kataku. "Aturan mainnya beda sekarang. Aku mau semua orang denger ini baik-baik." Aku menatap satu per satu. "Selama tiga tahun, tiap rencana kita selalu punya satu unsur yang sama: ada orang yang nggak tahu. Lantai biru—IPS 4 nggak tahu. Misi jodoh—Arman nggak tahu, Tania nggak tahu. Kita selalu ngerasa pinter karena kita pegang informasi yang orang lain nggak punya."
"Itu kan seninya," gumam Fajar, lalu langsung mengangkat tangan. "Oke, oke. Lanjut."
"Itu juga racunnya," kataku. "Jadi rencana kali ini cuma punya satu syarat. Nggak ada yang dibohongi. Nggak ada yang diatur tanpa dia tahu. Kalau ada satu langkah yang butuh kita nyembunyiin sesuatu dari Arman atau Tania—langkah itu kita coret. Titik."
Meja itu hening, memikirkan beratnya syarat itu. Reza memutar gelas susunya, alisnya naik turun seperti sedang berhitung. Bagas, yang biasanya cuma manggut-manggut, akhirnya bersuara.
"Berarti... kalau kita pengin Arman ke ruang panitia, kita nggak boleh nyuruh dia diam-diam? Kita harus bilang langsung 'eh, kita mau bantuin'?"
"Iya."
"Terus kalau dia nolak?"
"Ya kita terima," kataku. "Itu hak dia."
Bagas mengangguk pelan, mencerna, lalu menyandarkan punggung dengan ekspresi orang yang baru sadar betapa repotnya hidup jujur.
"Tapi itu... hampir nggak mungkin," kata Bayu pelan. "Maksudku, gimana caranya benerin hubungan sama orang yang udah benci kita, kalau kita nggak boleh ngatur apa-apa?"
"Itu pertanyaan yang bener," kataku. "Dan jawabannya yang bikin ini susah." Aku menulis satu kata di kertas, lalu memutarnya supaya semua bisa membaca.
MENEBUS.
"Selama ini kita selalu mikirin caranya ngatur orang biar dapet hasil yang kita mau," kataku. "Mulai sekarang kita nggak mikirin hasil. Kita nggak boleh ngarep Arman maafin kita. Kita nggak boleh ngarep Tania senyum lagi. Karena begitu kita ngarep hasil, kita bakal mulai ngatur lagi—dan kita balik jadi yang dulu."
"Jadi kita ngapain?" tanya Reza, dahinya berkerut.
"Kita minta maaf yang bener. Kita dengerin mereka—beneran dengerin, bukan nyiapin jawaban. Kita kerja keras buat pameran tanpa nyari panggung. Dan kalau setelah semua itu mereka tetep nggak maafin kita..." Aku menelan ludah. "...kita terima. Karena kita emang salah, dan orang yang disakiti nggak punya kewajiban maafin."
Fajar menyandarkan punggung, menatap langit-langit kantin lama-lama. "Itu rencana paling nggak seru yang pernah aku denger seumur hidup," katanya. "Nggak ada prank. Nggak ada mata-mata. Nggak ada momen di mana kita berdiri di atap ketawa-ketawa sambil ngeliat hasil kerja kita." Ia menghela napas panjang, dramatis, lalu menggeleng. "Bener-bener payah."
Hening sebentar.
"Aku ikut," katanya.
Doni melongo. "Tadi lo bilang payah."
"Iya, payah," kata Fajar, mengangkat bahu. "Tapi mungkin payah itu yang kita butuhin. Selama ini kita keren terus, dan lihat ke mana keren bawa kita." Ia mengetuk meja sekali. "Aku ikut. Sampai habis."
"Aku juga," kata Doni, tanpa nyengir untuk pertama kali.
Satu per satu kepala mengangguk. Bayu, Reza, Hendra, Bagas. Dimas terakhir, dan ketika ia mengangguk ia menatapku, dan ada sesuatu dalam tatapan itu yang berkata terima kasih sudah menampar aku waktu itu.
Aku menutup buku tulis. Di sampulnya, polos, tidak ada apa-apa. Dan justru kekosongan itu—untuk pertama kali—membuatku merasa kami sedang melangkah ke arah yang benar.
"Mulai Senin," kataku. "Kita mulai dari yang paling susah."
"Apa yang paling susah?" tanya Doni.
"Diem," kataku. "Dan dengerin Arman ngomong."