Dimas tidak masuk sekolah dua hari.
Itu belum pernah terjadi. Dimas bisa demam, kakinya bisa keseleo main bola, hujan bisa turun seharian—ia tetap datang, kalau perlu cuma untuk tidur di bangku belakang. Sekolah tanpa Dimas seperti panggung tanpa sutradara: semua orang ada, tapi tidak ada yang tahu harus berbuat apa.
Hari ketiga aku mendatangi rumahnya.
Ibunya membukakan pintu dengan wajah lega. "Galih. Syukurlah ada yang datang. Dia di kamar, dari kemarin nggak mau makan banyak. Kalian berantem?"
"Nggak, Tante. Cuma... ada yang lagi berat."
Aku naik ke kamarnya. Dimas terlentang di kasur, menatap langit-langit, satu tangan di belakang kepala. Poster band, jadwal pertandingan bola yang sudah lewat, foto kami berempat di kelas sepuluh ditempel di dinding dengan selotip yang menguning.
"Sakit?" tanyaku.
"Nggak."
"Terus kenapa nggak masuk?"
Ia diam lama. Lalu, "Buat apa, Lih?"
Aku menarik kursi belajarnya, duduk. Menunggu.
"Aku mikirin semua dari awal," katanya akhirnya, masih menatap langit-langit. "Dari hari pertama kelas sepuluh, pas kita kebagian bangku belakang. Aku yang ngajak kalian jadi 'kerajaan'. Aku yang bikin segala taruhan, segala prank, segala misi. Tiga tahun aku ngeyakinin kalian semua kalau hidup itu lebih seru kalau kita yang ngatur ceritanya." Suaranya pecah halus. "Ternyata aku cuma ngerusak cerita orang. Arman. Tania. Bahkan Fajar sekarang benci sama aku."
"Fajar nggak benci—"
"Sutradara yang baik tahu kapan berhenti, Lih." Dimas duduk, menatapku, matanya merah. "Mungkin kerajaan ini emang harus tamat. Mungkin aku yang harus berhenti jadi yang ngatur-ngatur. Biar kalian aman. Aku nyusahin."
Dan di situ sesuatu di dalam diriku menyala.
Aku—yang paling pendiam, yang tiga tahun cuma jadi penonton, yang menyembunyikan otak biar tidak dimintai contekan—berdiri dari kursi.
"Tahu nggak yang paling pengecut dari semua ini?" kataku, suaraku lebih keras dari yang pernah kukeluarkan di depannya. "Bukan kebohongan kita. Tapi ini. Ini yang lo lakuin sekarang."
Dimas mengerjap.
"Lo bikin kekacauan, terus pas kacaunya beneran berantakan, lo mau kabur. Lo bilang mau 'berhenti jadi yang ngatur' biar kita aman—itu bukan demi kita, Dim. Itu demi lo. Biar lo nggak perlu ngadepin Arman. Biar lo nggak perlu liat muka Tania. Lo nyebut diri raja tiga tahun, dan sekarang pas kerajaannya butuh raja, lo malah ngumpet di kamar nggak makan."
"Lih—"
"Inget syarat yang aku pasang di awal?" Aku tidak berhenti. "Kalau ada yang sakit hati, kita berhenti. Aku salah. Itu syarat buat orang pengecut. 'Berhenti' itu gampang. Yang bener bukan berhenti—yang bener benerin. Kita yang mulai, kita yang harus benerin. Bukan kabur. Bukan bubar. Bukan lo terlentang di kasur ngerasa jadi korban paling tragis sedunia."
Kamar itu hening. Dari bawah, suara ibunya menggoreng sesuatu, harum bawang naik ke atas.
Lama Dimas tidak bergerak. Lalu bahunya turun, dan ia mengusap wajah dengan kedua tangan, dan ketika ia mengangkat kepala, ada sesuatu yang berbeda di matanya. Bukan sutradara yang sombong. Tapi juga bukan anak yang menyerah.
"Sejak kapan lo cerewet gini?" tanyanya, suaranya serak tapi nyaris—nyaris—ada senyumnya.
"Sejak lo jadi bego," kataku.
Ia tertawa pendek. Tawa pertama di rumah itu, mungkin di mana pun, dalam berhari-hari. Tidak lama, tidak lepas. Tapi nyata.
"Benerin gimana, Lih?" tanyanya pelan, dan kali ini ia benar-benar bertanya, bukan menyalahkan diri. "Mereka udah nggak percaya kita. Gimana caranya benerin yang kayak gitu?"
Aku menghela napas, lalu duduk lagi di kursi belajarnya.
"Aku belum tahu," akuku jujur. "Tapi aku tahu satu hal. Caranya bukan dengan ngatur mereka lagi. Bukan rencana, bukan settingan, bukan prank." Aku menatapnya. "Kali ini kita benerin pakai cara yang nggak pernah kita coba dalam tiga tahun."
"Cara apa?"
"Jujur."
Dimas terdiam. Lalu mengangguk, perlahan, seperti kata itu adalah hal paling menakutkan yang pernah ia dengar.
Besoknya ia masuk sekolah. Rambutnya rapi lagi. Bangku belakang terisi empat orang lagi. Belum pulih—jauh dari pulih. Tapi kerajaan, yang sempat menyentuh dasar paling dalam, akhirnya berhenti tenggelam dan mulai, sedikit demi sedikit, menendang ke atas.