Markas kantin tidak pernah sesepi itu. Meja pojok yang biasanya jadi pusat tawa kini cuma diisi delapan orang yang saling menghindari mata satu sama lain. Aku—Galih—duduk paling ujung, memutar gelas es teh yang sudah lama habis, mendengarkan keheningan menumpuk seperti debu.
Fajar yang pertama meledak.
"Gini, ya," katanya, menjentikkan sedotan ke meja. "Aku tarik kembali semua yang pernah aku bilang soal ide brilian. Menjodohkan guru sama murid itu dari awal udah konyol. Aku ikut karena lagi bosan, dan sekarang lihat. Dua orang sakit hati, satu kelas jadi kuburan."
"Jadi sekarang ini salah ide?" Dimas mengangkat kepala. Rambut bergelnya tidak rapi lagi; sudah dua hari ia tidak menatanya. "Bilang aja salah aku. Idenya emang dari aku."
"Aku nggak bilang gitu—"
"Tapi maksudnya itu." Suara Dimas datar, dan justru itu yang bikin Reza di sebelahku menelan ludah. Dimas yang marah masih Dimas. Dimas yang datar adalah orang asing.
Doni mencoba menengahi dengan nyengir, kebiasaannya kalau panik. "Udah, udah. Kan kita semua ikut nyetujuin. Nggak ada yang maksa siapa-siapa—"
"Aku yang maksa." Dimas menatap mejanya sendiri. "Aku yang bikin taruhan cokelat itu jadi misi. Aku yang ngomong 'proyek perpisahan'. Aku yang yakinin kalian semua bakal lucu pas reuni. Sekarang lucunya mana? Tania nggak mau nengok kita. Arman ngira dia bahan ketawaan tiga tahun. Lucu, kan?"
Tidak ada yang menjawab.
Bayu, yang biasanya pertama bersuara mencairkan suasana, malah menunduk. Dua anak IPS 4 yang lain—aliansi memanggil mereka Bagas dan Hendra sejak gencatan senjata—pura-pura sibuk dengan ponsel. Aku tahu mereka ingin pulang.
"Fajar," kataku akhirnya, pelan. "Nyalahin Dimas nggak bakal benerin apa-apa."
"Aku nggak nyalahin dia. Aku nyalahin idenya."
"Idenya keluar dari mulut dia. Buat dia itu sama aja." Aku menatap Fajar. "Lo pikir Dimas nggak udah nyalahin diri sendiri tiap malam? Lo nggak perlu nambahin."
Fajar terdiam. Ia bukan orang jahat. Pongah, iya. Tapi tidak jahat. Aku lihat rahangnya mengeras, lalu mengendur, lalu ia menyandarkan punggung ke kursi dan mengusap wajah.
"Maaf," gumamnya. Ke Dimas, tapi tidak menatapnya. "Aku cuma... nggak biasa ngerasa bersalah, oke? Bikin onar itu gampang. Nyesel itu yang susah."
"Itu kalimat aku banget," Dimas menyahut, nyaris tertawa, tapi tidak jadi. Tawa itu mati di tenggorokannya.
Pulang sore itu kami terpisah-pisah. Biasanya delapan orang jalan beriringan bikin koridor penuh suara. Kali ini Fajar dan dua anaknya belok lebih dulu, Doni menyusul, dan tinggal kami berempat melewati kelas yang sudah gelap.
Reza menggendong tasnya, suaranya kecil untuk badan sebesar itu. "Lih. Kerajaan kita... bubar, nggak?"
Aku tidak langsung menjawab.
Karena untuk pertama kali dalam tiga tahun, aku tidak punya jawaban yang pasti.
Di pojok kelas, bangku belakang kami berdiri kosong, empat kursi berderet menghadap jendela yang menampakkan ruang guru di seberang. Lampu ruang guru masih menyala. Bayangan Bu Tania lewat sekali, menunduk pada tumpukan kertas. Ia tidak menengok ke jendela kami seperti dulu.
"Belum," kataku akhirnya. Tapi suaraku sendiri tidak yakin. "Belum bubar."
Yang aku tidak katakan: retak itu sudah menjalar. Bukan cuma antara kami dan Arman, atau kami dan Bu Tania. Tapi di dalam, di antara kami berempat, di antara delapan orang yang dulu mengangkat tangan bersama. Retak yang dimulai dari satu kebohongan kini punya cabang-cabang halus yang merambat ke segala arah.
Dan aku, yang dulu memasang satu syarat—kalau ada yang sakit hati, kita berhenti—kini berdiri di tengah reruntuhan syarat itu sendiri, tidak tahu apakah berhenti saja sudah cukup untuk menambal apa pun.