Hujan turun deras sore itu, jenis hujan yang datang tanpa peringatan dan membuat seluruh sekolah tertahan. Aku, Dimas, dan Bayu sudah keburu naik angkot. Tapi Reza—Reza yang lambat karena mampir beli gorengan—tertinggal, dan terjebak di halte depan sekolah.
Ia menceritakan semuanya pada kami keesokan harinya, dengan mata yang masih tampak tak percaya pada keberuntungan atau kesialannya sendiri.
Di halte itu, di bawah atap seng yang bocor di satu sudut, hanya ada dua orang. Reza. Dan Arman.
Mereka tidak saling sapa. Arman berdiri di ujung halte, sejauh mungkin dari Reza, memandangi hujan dengan tas dipeluk di dada. Reza, yang tak pernah bisa menahan keheningan terlalu lama, dan yang tak pernah cukup pandai untuk berpura-pura, akhirnya membuka bungkus gorengannya.
"Mau?" tawar Reza, menyodorkan kantong.
Arman tidak menjawab.
Reza menarik kembali tangannya, malu. Hujan menderu. Air mengalir di pinggir jalan, membawa daun dan sampah kecil. Dan dalam keheningan yang dipaksakan itu, Reza—yang otaknya tak secepat Dimas, tak setajam aku, tapi hatinya mungkin paling jujur di antara kami—mengatakan sesuatu yang tidak ia rencanakan.
"Man," katanya, menatap hujan, bukan menatap Arman. "Lo tahu nggak kenapa kita mulai semua itu?"
Arman tetap diam. Tapi ia tidak pergi. Di tengah hujan, tidak ada tempat untuk pergi.
"Bukan buat ketawain lo," kata Reza. Suaranya pelan, tanpa pidato, tanpa kata-kata bagus—Reza tidak punya kata-kata bagus. "Dimas yang pertama kepikiran. Dia bilang... dia bilang lo itu selalu serius. Tiga tahun. Lo nggak pernah keliatan beneran seneng. Lo dateng pagi-pagi, lo belajar sendirian, lo pulang sendirian. Dimas bilang, 'Kasian Arman. Tahun terakhir, masa dia nggak pernah seneng sekali aja.'" Reza menelan ludah. "Kita pengin lo seneng, Man. Itu doang. Kita salah caranya, salah banget, gue tahu. Tapi niatnya... niatnya kita pengin lo bahagia."
Hujan terus turun. Arman tidak bergerak.
"Gue tahu lo nggak percaya," lanjut Reza. "Gue juga nggak bakal percaya kalau jadi lo. Tapi gue cuma pengin lo tahu satu hal: pas kita usulin lo jadi ketua panitia—pas Dimas pidato di depan kelas—itu beneran, Man. Gue ada di situ. Gue liat muka Dimas. Dia nggak lagi akting. Saat itu kita beneran pengin lo jadi ketua, bukan karena rencana. Karena kita... karena kita mulai beneran nganggep lo temen." Reza mengusap hidungnya. "Maaf, Man. Bukan biar lo maafin kita. Gue cuma capek lo mikir semuanya bohong. Karena yang itu nggak."
Lalu Reza diam. Ia sudah mengeluarkan semua yang ada di dadanya, dan kini hanya berdiri di sana, basah di tepi, dengan kantong gorengan di tangan.
Arman tidak menjawab. Tapi Reza bilang, ia melihat sesuatu di wajah Arman—rahangnya yang biasa keras itu bergerak, sekali, seperti orang yang menelan sesuatu yang sulit ditelan. Mata Arman tetap ke hujan. Tapi ia tidak lagi memeluk tasnya seerat tadi.
Beberapa menit berlalu. Hujan mulai mereda.
Lalu, pelan, nyaris tertelan suara air, Arman berkata satu kalimat. Bukan maaf. Bukan terima kasih. Cuma:
"Kenapa kalian nggak pernah tanya gue mau bahagia kayak gimana?"
Reza tidak tahu harus menjawab apa. Karena pertanyaan itu, ia sadar, adalah seluruh kesalahan kami diringkas dalam satu kalimat. Kami memutuskan apa yang akan membuat Arman bahagia. Kami tidak pernah bertanya padanya.
Angkot Reza datang. Ia menoleh ke Arman, ragu. "Lo... nggak nunggu jemputan?"
"Gue jalan," kata Arman.
Reza naik angkot. Dari kaca belakang yang berembun, ia melihat Arman masih berdiri di halte, sendirian, memandangi hujan yang mulai berhenti. Bukan dengan wajah marah lagi. Bukan juga dengan wajah memaafkan. Tapi dengan wajah seseorang yang, untuk pertama kalinya dalam dua minggu, sedang benar-benar memikirkan ulang sesuatu.
"Gue nggak tahu dia percaya gue apa nggak," kata Reza pada kami keesokan harinya, di pojok belakang. "Tapi dia denger. Gue yakin dia denger."
Dimas menatap meja lama. Lalu ia mengangkat kepala, dan untuk pertama kali sejak semua runtuh, ada secercah hal lama di matanya—bukan keisengan, tapi tekad.
"Kalau gitu," katanya, "kita tahu apa yang harus kita lakuin sekarang. Kita berhenti nebak-nebak apa yang bikin orang bahagia." Ia menatap kami satu per satu. "Kita mulai nanya."
Di luar jendela, langit yang tadi kelabu mulai membuka, menyisakan garis cahaya tipis di antara awan—belum cerah, tapi tak lagi sepekat kemarin.