Aku berpikir, seperti mungkin kalian berpikir, bahwa hal terburuk yang bisa dilakukan Bu Tania adalah melaporkan kami ke sekolah. Skors. Panggilan orang tua. Pak Kepala Sekolah yang sudah pernah mengancam kami dulu.
Aku salah. Hal terburuk yang ia lakukan adalah tidak melakukan apa-apa.
Hari-hari berlalu, dan tidak ada panggilan. Tidak ada surat. Tidak ada Bu Tania yang mendatangi Bu Sari untuk mengadu. Ia datang mengajar Sejarah, menjelaskan, memberi tugas, lalu pergi. Profesional. Sopan. Jauh. Seolah kami sungguhan tidak pernah berarti apa-apa baginya.
Itulah yang menghancurkan kami pelan-pelan.
"Kenapa dia nggak laporin kita aja sih?" kata Bayu suatu siang, frustrasi. "Mendingan dia marah. Mendingan dia hukum kita. Ini malah... dia kayak nganggep kita udah nggak ada."
"Karena itu lebih nyakitin," kata Dimas pelan. "Dan dia tahu itu."
Aku tidak yakin Bu Tania sengaja menyakiti kami. Itu bukan dirinya. Aku lebih percaya ia hanya benar-benar kecewa, sampai ke titik di mana kemarahan pun terasa terlalu mahal untuk dikeluarkan pada empat anak yang sudah membohonginya. Diam bukan hukuman yang ia rancang. Diam adalah apa yang tersisa ketika kepercayaan habis.
Suatu hari setelah pelajarannya, aku memberanikan diri. "Bu," panggilku saat ia membereskan bukunya. "Kenapa Ibu nggak laporin kami ke sekolah?"
Ia berhenti. Menatapku. Lama. Dan jawabannya bukan jawaban yang kuharapkan.
"Buat apa, Galih?" katanya. Suaranya tenang, tanpa nada menuduh. "Kalian dihukum sekolah, terus apa? Kalian skors seminggu, balik lagi, dan saya tetap ngerasa... bohong itu tetap pernah ada." Ia menyandang tasnya. "Saya nggak butuh kalian dihukum. Saya cuma butuh waktu buat nerima bahwa orang yang saya kira sayang sama saya sebagai guru, ternyata lagi main-main." Ia tersenyum tipis—senyum yang lebih sedih daripada air mata. "Tugas saya ngajarin kalian sejarah. Bukan ngajarin kalian jadi orang baik. Itu bukan urusan saya. Saya cuma magang."
Lalu ia pergi.
"Itu bukan urusan saya. Saya cuma magang." Kalimat itu menggema di kepalaku sepanjang sore. Karena aku tahu—dan ia mungkin juga tahu—bahwa itu tidak benar. Ia pernah peduli. Ia pernah bertanya pada kami kalau kami hidup di zaman tertentu kami akan jadi apa. Ia pernah tertawa lepas saat Arman menemukannya di pameran sejarah. Sekarang ia menarik semua itu kembali ke dalam, dan berlindung di balik kata "cuma magang", karena lebih aman tidak peduli daripada peduli lalu dikhianati lagi.
Bayu tidak masuk kelas untuk pelajaran berikutnya. Aku menemukannya di toilet, di bilik paling ujung, duduk dengan punggung ke dinding.
"Bayu?"
Ia mengusap matanya cepat-cepat, tapi tak cukup cepat. Matanya merah. Si paling kurus, si korban abadi yang biasanya menertawakan nasibnya sendiri, sekarang menangis di toilet.
"Aku nggak kuat, Galih," katanya, suaranya tersedak. "Bukan karena dia marah. Tapi karena dia nggak marah. Kayak... kayak dia nyerah sama kita. Kayak kita nggak pantes dimarahin lagi." Ia menarik napas bergetar. "Aku yang nyatet bukti naksir Arman. Aku yang paling semangat. Aku pikir itu lucu. Aku nggak pernah mikir Bu Tania bakal sesedih ini. Dia baik banget sama kita, Galih. Dia satu-satunya guru yang nggak pernah ngomelin pojok belakang. Dan kita bales gini."
Aku duduk di sampingnya, di lantai toilet yang dingin. Aku tidak punya lelucon untuk mencairkannya. Untuk pertama kalinya, aku tidak mencari satu pun.
"Kita nggak bisa maksa dia maafin kita," kataku akhirnya. "Tapi kita bisa pastiin satu hal: kita nggak akan pernah lagi bikin orang ngerasa kayak gini. Itu yang bisa kita kasih ke dia. Bukan minta maaf. Tapi berubah."
Bayu mengangguk pelan, mengusap wajahnya. "Janji?"
"Janji."
Kami keluar dari toilet bersama. Lonceng masih lama. Dan di luar, langit sudah kelabu—sebentar lagi hujan, hujan yang akan, tanpa kami tahu, membawa satu percakapan yang mengubah segalanya.