Masalah pertama tahun ini, seperti biasa, dimulai dari hal paling sepele: roti.
"Itu rotiku," kata Bayu, menunjuk bungkus cokelat di tangan Reza saat jam istirahat.
"Bukan. Ini punyaku," jawab Reza enteng.
"Punyamu udah kamu makan tadi pagi. Dua. Aku lihat sendiri."
"Itu sarapan. Ini cadangan."
Dimas, yang sedang merebahkan kepala di meja, langsung bangkit mencium aroma keributan yang ia sukai. "Tunggu, tunggu. Daripada berantem nggak jelas, gimana kalau kita selesaikan ini dengan cara terhormat?"
"Cara apa?" tanya Bayu curiga.
"Taruhan."
Galih, yang sedang membaca buku di pojok, langsung menutup bukunya. "Tidak. Apa pun itu, tidak."
"Kamu belum dengar taruhannya."
"Aku nggak perlu dengar. Tiap kali kamu bilang 'taruhan', minggu depannya kita semua kena hukuman."
Tapi Dimas sudah berdiri di tengah bangku belakang, tangannya terlipat di dada, matanya menyala. Reza dan Bayu sudah lupa soal roti. Sekarang mereka cuma penasaran.
"Begini," kata Dimas. "Tadi pagi Bu Sari bilang ada guru magang masuk minggu depan, kan? Sejarah. Masih muda. Nah." Ia menjeda dramatis. "Aku taruhan, guru magang itu bakal jatuh hati sama salah satu orang di sekolah ini sebelum semester selesai."
Reza mengernyit. "Terus hubungannya sama roti apa?"
"Nggak ada. Aku cuma ngalihin topik biar nggak jadi rebutan roti."
Bayu menepuk dahi. Galih tertawa kecil tanpa bisa ditahan.
"Tapi serius," lanjut Dimas, sekarang nadanya lebih bersemangat. "Aku punya ide yang lebih gila. Lupain rotinya. Dengerin ini." Ia merendahkan suaranya, seperti sedang membocorkan rahasia negara. "Tahun terakhir ini, misi kita: jodohin si guru magang sama satu orang di sekolah ini."
Hening sejenak.
"Kamu gila," kata Galih.
"Aku jenius."
"Garis antara dua itu tipis, dan kamu di sisi yang salah."
Reza, sebaliknya, sudah tertarik. "Sama siapa? Dijodohin sama siapa maksudnya?"
Dimas tersenyum lebar, lalu pelan-pelan menunjuk ke arah barisan depan kelas, ke meja paling rapi, ke punggung yang paling tegak.
Arman.
"Sama Pak Ketua kita tercinta."
Bayu tersedak air minumnya. Reza meledak tawa sampai mejanya bergetar. Bahkan Galih, yang biasanya jadi rem, terbatuk menahan tawa.
"Dimas," kata Galih setelah bisa bicara, "Arman itu ketua kelas paling kaku sedunia. Dia mungkin nggak pernah ngobrol sama perempuan selain ibunya. Dan kamu mau jodohin dia sama guru? Guru yang belum pernah kita lihat?"
"Justru itu tantangannya," balas Dimas, mata berkilat. "Coba bayangin. Si Arman yang sok serius, kaku, suka negur kita, tiba-tiba salah tingkah gara-gara naksir guru magang. Itu... itu hiburan terbaik sepanjang tahun terakhir kita."
Dan di situlah, harus diakui, Dimas menang. Karena bahkan Galih pun mulai membayangkan, dan bayangan itu lucu.
"Anggap aja proyek perpisahan," tambah Dimas, kali ini suaranya sedikit lebih lembut. "Kita bikin satu cerita yang bakal kita ketawain pas reunian sepuluh tahun lagi. 'Eh, inget nggak waktu kita jodohin Arman sama guru magang?' Gitu."
Entah karena kalimat terakhir, entah karena memang sudah dari sananya suka cari masalah, satu per satu mereka mengangguk.
"Aku ikut," kata Reza.
"Aku... ya udah, ikut," kata Bayu, yang memang tidak pernah benar-benar punya pilihan.
Semua mata menoleh ke Galih.
Galih menghela napas panjang, napas seorang lelaki yang tahu betul ia akan menyesali keputusan ini. "Dengan satu syarat. Kalau ada yang ketahuan guru, atau ada yang sakit hati, kita berhenti. Ini becandaan, bukan ngerusak hidup orang."
"Deal," kata Dimas cepat, mengulurkan tangan.
Empat tangan bertumpuk di tengah bangku belakang.
"Misi 'Jodohkan Sang Ketua' resmi dimulai," ucap Dimas khidmat.
"Itu nama yang jelek," komentar Bayu.
"Kamu bisa kasih nama lebih bagus?"
"...Nggak."
"Ya udah, diam."
Dari barisan depan, Arman menoleh ke belakang karena merasa namanya disebut-sebut. Empat anak di pojok langsung pura-pura sibuk: Dimas membuka buku terbalik, Reza pura-pura mengunyah udara, Bayu menatap langit-langit, dan Galih—satu-satunya yang terlihat normal—hanya melambai sopan.
Arman menyipitkan mata. Firasatnya tidak enak. Tapi ia tidak tahu, dan tidak akan pernah menduga, bahwa nasib percintaannya untuk satu semester ke depan baru saja diputuskan oleh empat orang idiot di pojok kelas demi sebungkus roti cokelat.
Yang, omong-omong, sudah dihabiskan Reza sejak lima menit lalu.