Bel masuk hari pertama tahun ajaran baru berbunyi nyaring, tapi tidak ada satu pun dari empat penghuni bangku paling belakang XII-IPS 3 yang menganggapnya perintah.
"Tahun terakhir, Bos. TAHUN. TERAKHIR." Dimas membentangkan kedua tangannya seolah sedang mendeklarasikan kemerdekaan. Rambutnya masih basah, entah karena buru-buru mandi atau memang sengaja diberi gel agar terlihat keren. Sepertinya yang kedua, dan sepertinya gagal.
"Iya, terus kenapa?" Reza, yang badannya paling besar di antara mereka berempat, menjawab sambil mengeluarkan sebungkus roti dari tasnya. Sarapan kedua. Atau ketiga. Tidak ada yang berani menghitung.
"Kenapa? KENAPA katanya?" Dimas pura-pura tersinggung. "Ini momen kita bikin sejarah. Bangku paling belakang ini bukan cuma bangku. Ini singgasana. Kerajaan. Dan kita raja-rajanya."
Bayu, yang paling kurus dan paling sering jadi korban, mengangkat tangan pelan. "Aku jadi apa? Jangan rakyat jelata lagi kayak tahun kemarin."
"Kamu menteri pertahanan," kata Dimas tanpa pikir panjang.
"Pertahanan apa? Aku larinya paling lambat."
"Justru itu. Kalau diserang, kamu yang ketangkep duluan, kita yang lain kabur. Strategi."
Bayu mau protes, tapi tahu protes percuma. Ia sudah tiga tahun jadi anggota termuda secara mental di kelompok ini, meski usia mereka sama.
Di bangku paling pojok, menempel jendela, duduk Galih. Ia yang paling pendiam, paling tinggi, dan diam-diam paling pintar di antara mereka berempat—fakta yang ia sembunyikan rapat-rapat agar tidak dimintai contekan tiap ulangan. Galih hanya mengamati teman-temannya dengan senyum tipis, kakinya disilangkan, tampak seperti seorang penonton yang sudah membeli tiket pertunjukan komedi murahan tapi tetap menikmatinya.
"Galih, kamu jadi apa di kerajaan ini?" tanya Reza dengan mulut penuh roti.
"Aku jadi penonton," jawab Galih santai. "Yang teriak 'jangan' tiap kalian mau bikin masalah, terus tetap ikut nanggung akibatnya."
"Wah, peran paling penting itu," sahut Dimas bangga. "Tanpa kamu, kita udah dikeluarkan dari sekolah sejak kelas sepuluh."
Mereka tertawa. Tawa empat anak laki-laki yang sudah saling kenal sejak hari pertama kelas sepuluh, ketika mereka semua kebetulan kebagian bangku paling belakang karena datang paling akhir saat penempatan. Hari itu, tanpa sadar, mereka membentuk sebuah persekutuan yang tak terucapkan: di mana pun dunia menempatkan mereka, pojok belakang adalah rumah.
Pintu kelas terbuka. Bu Sari, wali kelas mereka yang sudah hafal betul empat nama ini sejak sebelum kenal wajahnya, masuk dengan tumpukan buku absen.
"Selamat pagi, anak-anak. Selamat datang di kelas dua belas." Pandangannya langsung melayang ke pojok belakang. "Dan selamat datang kembali, Dimas, Reza, Bayu, Galih. Bapak Kepala Sekolah titip salam. Katanya semoga tahun ini kalian lebih banyak ngerjain PR daripada bikin onar."
"Aamiin, Bu," jawab keempatnya kompak, dengan nada yang sama sekali tidak meyakinkan.
Bu Sari menghela napas, senyum kecil tetap di bibirnya. Ia tahu anak-anak ini. Nakal, ya. Tukang ribut, sangat. Tapi tidak ada satu pun dari mereka yang pernah benar-benar jahat. Onar mereka selalu jenis yang membuat seisi kelas tertawa, bukan menangis.
"Hari ini kita cuma perkenalan dan pembagian jadwal. Tapi ada satu pengumuman penting." Bu Sari meletakkan buku-bukunya. "Kelas kalian akan kedatangan guru magang dari kampus. Mulai minggu depan. Beliau akan ngajar Sejarah selama satu semester."
Seketika, mata Dimas berbinar seperti lampu sein. Ia menoleh ke teman-temannya dengan ekspresi yang sudah mereka kenal betul. Ekspresi yang artinya: ide buruk sedang lahir.
"Guru magang," bisik Dimas. "Berarti masih muda."
"Dimas, jangan mulai," desis Galih.
"Aku belum ngomong apa-apa."
"Mukamu udah ngomong semuanya."
Reza terkekeh. Bayu sudah pasrah. Sementara di barisan depan, seorang siswa dengan seragam paling rapi, dasi paling lurus, dan rambut paling klimis menoleh ke belakang dengan tatapan tidak suka.
Itu Arman. Ketua kelas. Musuh bebuyutan bangku belakang sejak kelas sepuluh.
"Bisa tenang nggak sih, kalian berempat?" tegur Arman. "Baru hari pertama udah ribut."
Dimas tersenyum lebar. "Pagi juga, Pak Ketua. Kangen aku."
Seisi kelas tertawa. Arman memutar bola matanya dan kembali menghadap depan, tapi telinganya memerah.
Galih, dari pojoknya, memperhatikan dua hal sekaligus pagi itu. Pertama, Dimas yang sudah merencanakan kekacauan entah apa soal guru magang. Kedua, Arman yang—kalau Galih tidak salah lihat—sebenarnya juga menahan senyum di balik wajah galaknya.
Tahun terakhir baru dimulai satu jam, dan Galih sudah bisa merasakannya: ini akan jadi tahun yang panjang, ribut, dan kalau ia jujur pada diri sendiri, ia tidak ingin tahun ini cepat berakhir.
Bel pergantian jam berbunyi. Dimas berdiri, mengangkat tangannya tinggi-tinggi seperti pemimpin yang akan berpidato.
"Saudara-saudara sekerajaan," katanya khidmat. "Tahun ini, kita bikin sesuatu yang nggak akan pernah dilupakan seisi sekolah."
"Apa?" tanya Bayu, setengah takut.
Dimas tersenyum miring. "Aku belum tahu. Tapi pasti."
Dan entah kenapa, dari pojok jendela, Galih percaya kalimat itu seratus persen.