Senin pagi minggu berikutnya, seluruh kelas XII-IPS 3 menunggu dengan tegang. Bukan karena pelajaran Sejarah. Tapi karena hari ini guru magang itu masuk untuk pertama kali.
Di pojok belakang, ketegangannya berlipat tiga.
"Inget rencananya," bisik Dimas. "Fase satu: observasi. Kita pelajari dulu si guru magang. Kepribadiannya, seleranya, kelemahannya."
"Kamu ngomong kayak mau ngerampok bank," kata Galih.
"Ngerampok hati, Galih. Beda."
Bayu memutar bola mata. Reza mengeluarkan camilan—lagi.
Pintu terbuka. Bu Sari masuk lebih dulu, lalu di belakangnya, melangkah seorang perempuan muda dengan kemeja biru muda, rambut diikat sederhana, dan senyum yang—harus diakui—membuat seisi kelas mendadak duduk lebih tegak.
"Anak-anak, perkenalkan. Ini Bu Tania. Beliau yang akan ngajar Sejarah kalian semester ini. Tolong dibantu dan jangan dibikin nangis." Kalimat terakhir Bu Sari ucapkan sambil menatap tajam ke pojok belakang.
"Aman, Bu," sahut Dimas dengan senyum termanisnya.
Bu Tania maju ke depan kelas. Ia tampak sedikit gugup, tapi berusaha menutupinya dengan profesional. "Selamat pagi, semuanya. Saya Tania. Saya masih mahasiswa semester akhir, jadi sebenarnya umur kita nggak jauh-jauh amat." Ia tertawa kecil. "Mohon kerja samanya, ya."
Di pojok belakang, Dimas menyikut Galih keras-keras. "Lihat? Masih muda. Sempurna untuk rencana kita."
"Aw. Berhenti nyikut."
"Sekarang amati Arman," bisik Dimas, mengabaikan rintihan Galih. "Lihat reaksinya."
Empat pasang mata serentak menatap punggung Arman di barisan depan.
Dan untuk pertama kalinya sepanjang sejarah, Arman—sang ketua kelas yang kaku, yang dasinya selalu lurus, yang tidak pernah salah tingkah—mengangkat tangannya kaku dan menjatuhkan pulpennya sendiri ke lantai.
Tanpa sebab.
Pulpen itu menggelinding ke depan, dan Arman, dengan gerakan paling tidak luwes yang pernah ada, membungkuk mengambilnya sambil wajahnya perlahan memerah.
Di pojok belakang, empat orang membatu.
"Kalian lihat itu?" bisik Reza pelan.
"Aku lihat," sahut Bayu.
"Dia... gugup?" Galih mengernyit, tidak percaya.
Dimas menyandarkan punggung ke kursi dengan ekspresi seorang jenderal yang baru saja memenangkan perang tanpa melepaskan satu tembakan pun. "Saudara-saudara," ucapnya pelan, penuh kemenangan. "Misi kita bahkan belum dimulai. Tapi si target... udah jatuh duluan."
Bu Tania, di depan kelas, melanjutkan perkenalannya tanpa menyadari apa pun. "Saya suka sejarah karena buat saya, masa lalu itu penuh cerita yang lebih seru dari sinetron. Nanti kita belajar bukan cuma ngapalin tahun, tapi cerita di baliknya."
Beberapa siswa mengangguk. Arman, yang sudah duduk tegak lagi, mengangguk paling antusias. Terlalu antusias. Ia bahkan mencatat kalimat Bu Tania kata per kata, padahal itu bukan materi pelajaran.
"Catet itu," bisik Dimas ke Bayu. "Si Arman nyatet kalimat random Bu Tania. Itu bukti nomor satu."
Bayu benar-benar mencatatnya di buku, dengan judul: BUKTI ARMAN NAKSIR — NO. 1.
"Nah," lanjut Bu Tania, "untuk kenalan, saya mau tanya satu-satu. Siapa di kelas ini yang paling rajin? Yang biasanya jadi andalan?"
Hampir seluruh kelas serempak menunjuk ke arah Arman.
Bu Tania tersenyum dan menatap Arman. "Oh, kamu ketua kelasnya, ya? Siapa namanya?"
Arman membuka mulut. Tidak ada suara keluar. Ia mencoba lagi.
"A-Arman, Bu," akhirnya keluar, dengan suara satu oktaf lebih tinggi dari biasanya.
Seisi kelas terdiam sejenak. Lalu pecah tawa kecil di sana-sini. Arman, sang ketua kelas yang selalu lantang menegur, baru saja mencicit seperti tikus di depan guru magang.
Di pojok belakang, Dimas menutup mulutnya dengan kedua tangan, tubuhnya berguncang menahan tawa. Reza sampai harus menundukkan kepala ke meja. Bayu menulis cepat: BUKTI NO. 2. Hanya Galih yang masih bisa menjaga wajah, meski sudut bibirnya berkedut.
"Aduh, ini bakal gampang banget," bisik Dimas di sela tawanya. "Kita tinggal kasih sedikit dorongan, dan—"
"Ada yang mau ditambahkan dari pojok belakang?"
Suara Bu Tania, tiba-tiba, jernih dan ramah, menusuk langsung ke jantung mereka.
Empat kepala terangkat serempak. Bu Tania sedang tersenyum, menatap lurus ke arah mereka, menunggu jawaban.
Dimas, yang barusan menjadi sutradara seluruh kekacauan ini, mendadak kehilangan seluruh kepintarannya.
"Eh. Anu. Kami... kami cuma kagum sama cara Ibu ngajar," jawabnya tergagap.
Bu Tania tertawa. "Padahal saya belum mulai ngajar."
Seisi kelas tertawa lagi, kali ini menertawakan pojok belakang. Dan untuk pertama kalinya pagi itu, Arman menoleh ke belakang dengan senyum kemenangan kecil, seolah membalas dendam.
Galih menghela napas. "Aku punya firasat buruk soal proyek ini."
"Firasat buruk itu artinya seru," balas Dimas, sudah pulih sepenuhnya. "Percaya sama aku."
Itulah, kelak, kalimat yang paling sering Galih sesali.