Lapangan belakang sekolah adalah tempat yang tak pernah kami datangi. Letaknya di balik gedung olahraga, ditumbuhi rumput liar, dengan satu tong sampah besi berkarat yang biasa dipakai tukang kebun membakar daun kering. Ke sanalah aku membawa mereka, Senin sore, setelah semua anak pulang.
Aku membawa buku catatan itu. "MISI JODOHKAN SANG KETUA." Sampulnya masih sama, tulisannya masih tegas seperti saat kutulis penuh semangat dulu. Di dalamnya: tiga minggu rencana. Jadwal. Dialog. Strategi. Otak yang kubanggakan, dituangkan untuk mengatur dua orang seolah mereka bidak catur.
"Ngapain kita ke sini?" tanya Reza, melihat sekeliling.
Aku mengeluarkan korek api yang kupinjam dari tukang kebun. "Aku mau bakar ini."
Dimas menatapku. "Galih, itu—"
"Selama buku ini masih ada," kataku, "kita masih punya bukti bahwa kita pernah mikir manusia bisa diatur kayak benda. Aku nggak mau nyimpennya. Aku nggak mau suatu hari nemuin ini lagi di laci dan ngerasa pinter karena rencananya rapi." Aku menatap mereka. "Kita berhenti, kan? Beneran berhenti. Ini bagian dari berhenti."
Tidak ada yang membantah.
Kami berdiri mengelilingi tong besi itu. Aku merobek halaman pertama, meremasnya, melemparnya ke dasar tong. Lalu halaman kedua. Reza membantu, merobek dengan tangan besarnya, hati-hati seolah kertas itu rapuh. Bayu menyerahkan lembar demi lembar. Dimas mengambil sampulnya—sampul yang ia sendiri usulkan judulnya dulu—dan menatapnya lama sebelum melemparkannya ke tumpukan.
Aku menyalakan korek. Api kecil menjilat ujung kertas, lalu membesar, melahap rencana-rencana itu satu per satu. Asap tipis naik ke langit sore. Tulisan-tulisanku menghitam, melengkung, jadi abu. Jadwal pertemuan. Kalimat yang harus diucapkan. Semuanya.
Sebelum kertas terakhir terbakar, Bayu tiba-tiba mengeluarkan buku kecilnya—buku "BUKTI ARMAN NAKSIR", yang berhenti di nomor delapan. Ia menatapnya sebentar, lalu menyodorkannya ke arah api.
"Bayu," kataku.
"Ini juga harus ikut," katanya pelan. "Aku nyatet semua momen Arman salah tingkah kayak itu lucu. Padahal itu... itu perasaan dia yang paling jujur, Galih. Dan aku jadiin itu bahan ketawaan." Tangannya gemetar memegang buku itu. "Aku nggak pantes nyimpennya."
Aku menahan pergelangannya sebentar. "Bakar," kataku akhirnya. "Tapi inget kenapa kita bakar. Bukan biar lupa Arman punya perasaan. Tapi biar kita inget perasaan orang bukan buat ditulis di buku catetan."
Bayu mengangguk, lalu menjatuhkan bukunya ke dalam api. Halaman demi halaman nomor satu sampai delapan ikut menghitam.
Kami menonton dalam diam. Api memantul di mata kami berempat.
"Aneh," kata Bayu pelan. "Kayak ngeliat sesuatu mati."
"Emang," kata Dimas. "Misinya mati. Udah dari kemaren-kemaren sebenernya. Ini cuma... pemakamannya."
Aku menatap api sampai kertas terakhir jadi abu. Lalu sesuatu menohokku, dan aku tertawa kecil—tawa pahit, tawa pertama dalam berhari-hari.
"Kenapa?" tanya Reza.
"Aku pikir," kataku, "kalau aku bakar buku ini, semuanya bakal kerasa lebih ringan. Kayak bersih. Tapi nggak." Aku menatap abu di dasar tong. "Bukunya kebakar. Tapi yang kita lakuin ke Arman, ke Bu Tania—itu nggak ikut kebakar. Itu masih ada. Di mereka. Di kita."
Api mengecil, lalu padam, meninggalkan asap tipis dan bau kertas terbakar.
"Jadi percuma, dong?" kata Reza.
"Nggak percuma," kataku. "Ini buat kita. Biar kita inget kita udah milih berhenti. Tapi aku cuma nggak mau kita bohongin diri sendiri kalau bakar buku ini sama dengan ngebenerin semuanya. Itu beda. Yang gampang—ngebakar kertas. Yang susah—" aku menelan ludah, "—ngebenerin orang yang udah kita lukain. Dan itu nggak bisa dibakar. Itu cuma bisa dikerjain. Pelan-pelan. Lama."
Kami berdiri di lapangan belakang sampai matahari hampir tenggelam. Empat anak, satu tong abu, dan satu pelajaran yang baru benar-benar masuk: bahwa simbol itu mudah, tapi penebusan itu pekerjaan.
Saat kami berjalan pulang, Dimas merangkul bahuku. Ia tidak bicara. Tapi rangkulan itu mengatakan sesuatu yang tak perlu kata: kita masih bersama, dan kita kerjakan ini sampai selesai.
Di belakang kami, asap tipis terakhir naik ke langit dan menghilang.