Kami memutuskan tidak menunggu Dimas menyelesaikan suratnya. Kata-kata sempurna mungkin tak akan pernah datang. Yang penting kami datang.
Hari Jumat, sepulang sekolah, kami berempat menghadang Arman di gerbang. Bukan delapan orang—aku belajar dari rapat kantin, delapan orang akan membuatnya merasa dikepung. Cuma kami berempat, yang memulai semuanya.
Arman melihat kami dan langkahnya melambat. Rahangnya mengeras. "Mau apa?"
"Lima menit," kata Dimas. Ia memegang sesuatu di tangannya—salah satu lembar surat yang sudah ia rapikan, meski aku tahu ia tak akan membacanya. "Cuma minta lima menit, Man. Abis itu kalau lo mau kita pergi, kita pergi."
Arman tidak menjawab. Tidak juga pergi. Itu kuanggap izin.
Dimas menarik napas. "Gue minta maaf. Beneran minta maaf. Bukan biar lega, bukan biar kita ngerasa enak. Gue minta maaf karena gue jadiin lo... gue jadiin lo proyek. Lo orang, Man. Lo bukan permainan. Gue salah. Salah banget. Dan gue nggak ada alasan."
Reza maju, badannya yang besar membungkuk canggung. "Gue juga, Man. Maaf."
"Aku juga," kata Bayu, suaranya nyaris tak terdengar.
Aku menatap Arman langsung. "Aku yang nyusun rencananya. Buku catetan itu tulisanku. Jadi kalau ada yang paling salah, itu aku. Maaf, Arman. Tulus."
Arman mendengarkan semuanya. Wajahnya tak bergerak. Lalu, perlahan, ia tersenyum—dan senyum itu bukan senyum yang melegakan.
"Bagus," katanya. "Pidatonya rapi. Kalian latihan, ya?"
Kami terdiam.
"Nggak, Man, kita nggak—" Dimas mulai.
"Kalian tahu kenapa kalian minta maaf sekarang?" potong Arman. Suaranya naik, dan aku baru sadar berapa banyak yang ia tahan selama dua minggu ini. "Bukan demi gue. Demi kalian sendiri. Biar kalian bisa tidur nyenyak. Biar kalian bisa bilang ke diri sendiri, 'kita udah minta maaf kok, kita udah usaha.' Terus kalau gue maafin, kalian pulang dengan hati ringan, dan besok kalian ketawa-ketawa lagi di pojok belakang kayak nggak pernah kejadian apa-apa."
"Itu nggak bener—" kataku.
"Itu bener!" Arman membentak. Anak-anak lain yang lewat menoleh. Ia menurunkan suaranya, tapi matanya menyala. "Kalian datang ke gue, kalian ngomong, terus kalian nunggu gue bilang 'iya nggak apa-apa'. Tapi maaf bukan tombol, Galih. Lo nggak bisa pencet terus rusaknya ilang. Gue dua minggu ngerasa kayak badut. Gue inget tiap momen yang gue kira tulus—pas kalian usulin gue jadi ketua, pas Bu Tania ketawa sama gue—dan sekarang gue nggak tahu mana yang asli. Itu nggak bisa diberesin dalam lima menit."
Ia melangkah mundur. "Maaf kalian gue tolak. Bukan karena gue benci kalian. Tapi karena maaf yang gue terima sekarang cuma bakal bikin kalian enak, dan bikin gue ngerasa kayak gue terlalu lemah buat marah. Gue mau marah dulu. Gue berhak marah."
Dimas mengangkat surat di tangannya, satu-satunya kalimat yang akhirnya berhasil ia selesaikan setelah berlembar-lembar gagal. "Man," katanya. Suaranya bergetar. "Gue nggak minta lo maafin. Beneran. Gue cuma mau lo simpen ini. Nggak usah dibaca sekarang. Kapan pun lo siap—atau nggak sama sekali, terserah lo. Tapi biar lo tahu, gue beneran usaha."
Ia mengulurkan kertas itu. Tangannya tergantung di udara.
Arman menatap kertas itu lama. Untuk sekejap aku pikir ia akan mengambilnya. Tapi ia menggeleng pelan. "Kalau gue ambil sekarang, gue bakal kepengin maafin. Dan gue belum siap maafin. Simpen dulu." Lalu, lebih pelan, hampir tak terdengar: "Mungkin nanti."
Kata "mungkin nanti" itu—setipis apa pun—adalah hal paling hangat yang ia ucapkan sejak hari di koridor.
Lalu ia pergi.
Kami berdiri di gerbang, di bawah langit sore yang mulai berawan, dengan permintaan maaf yang terpental kembali ke wajah kami.
Bayu yang pertama bicara. "Dia bener, ya."
"Iya," kata Dimas. Ia melipat surat di tangannya, pelan. "Dia bener. Kita emang dateng biar kita lega."
Aku menatap punggung Arman yang menjauh. "Berarti minta maaf sekali nggak cukup," kataku. "Kita harus tunjukin, bukan cuma ngomong. Kita harus bikin dia liat, lama-lama, kalau kita beneran berubah. Bukan biar dia maafin. Tapi karena emang harusnya gitu."
Awan di atas kami menebal. Sebentar lagi hujan. Tapi kami tidak bergerak, keempatnya, berdiri di tempat yang sama, menelan kebenaran yang baru saja dilemparkan ke wajah kami—dan untuk pertama kali, tidak mencari cara untuk lari darinya.