Aku tidak menceritakan semuanya. Aku tidak menyebut "Misi Jodohkan Sang Ketua", tidak menyebut buku catatan, tidak menyebut betapa rincinya rencana itu. Tapi Bu Sari tidak butuh detail. Ia butuh kunci, dan begitu satu kalimat terlepas dariku, ia membuka sisanya sendiri.
"Kami bikin sesuatu yang nyakitin Arman sama Bu Tania, Bu," kataku akhirnya. "Nggak sengaja nyakitin. Tapi nyakitin. Dan sekarang... rusak."
Bu Sari diam beberapa saat. Ia memutar pulpen di jarinya, kebiasaannya saat berpikir. Aku menyiapkan diri untuk apa pun—omelan, hukuman, ancaman memanggil orang tua. Itu yang selama tiga tahun selalu kami terima. Itu yang pantas kami terima.
Tapi Bu Sari tidak melakukan satu pun dari itu.
"Kamu tahu," katanya pelan, "aku udah lama ngira-ngira soal Arman dan Bu Tania." Ia tersenyum tipis, senyum lelah orang yang sudah mengajar belasan tahun. "Arman itu anak yang datang pagi banget tiap hari. Aku sering liat dia dari ruang guru. Dia nggak belajar terus—kadang dia cuma ngeliatin ke arah jendela ruang guru. Aku tahu apa yang dia liatin." Ia menggeleng pelan. "Anak itu jatuh cinta diam-diam, Galih. Dan dia mungkin satu-satunya anak di kelasku yang nggak pernah punya teman dekat dalam tiga tahun. Kalian tahu itu?"
Aku menunduk. "Tahu, Bu. Itu... itu sebenernya kenapa kami mulai. Kami pengin dia bahagia sebentar. Sumpah, Bu, niat awalnya cuma itu."
"Aku percaya," kata Bu Sari. Dan anehnya, ia benar-benar terdengar percaya. "Aku kenal kalian, Galih. Tiga tahun. Kalian nakal—astaga, kalian nakal—tapi aku belum pernah lihat kalian benar-benar jahat. Itu beda. Nakal itu nggak mikir. Jahat itu sengaja nyakitin. Kalian yang pertama."
Ia berdiri, berjalan ke jendela ruangannya yang menghadap lapangan. Anak-anak pulang berhamburan di bawah sana.
"Tapi nggak mikir juga bisa nyakitin, Galih," lanjutnya, masih menghadap jendela. "Kadang justru itu yang paling nyakitin. Karena orang yang sengaja jahat, dia tahu dia jahat. Tapi orang yang nggak mikir, dia kaget pas tahu apa yang udah dia buat. Dan dari kagetnya itu, dia baru belajar."
Ia berbalik menghadapku. Dan ia mengajukan satu pertanyaan yang, sampai hari ini, masih kuingat kata per kata.
"Galih," katanya. "Aku cuma mau tanya satu hal. Dan aku mau kamu jujur, sama aku dan sama diri kamu sendiri." Ia menatapku lurus. "Kalian sayang nggak, sama mereka berdua? Sama Arman, sama Bu Tania? Bukan suka becandain mereka. Bukan kasian. Tapi sayang—dalam artian kalian peduli mereka bahagia, walaupun kalian nggak dapet apa-apa dari situ?"
Pertanyaan itu menamparku lebih keras daripada hukuman apa pun yang pernah kuterima.
Karena jawabannya, aku sadar saat itu juga, adalah ya. Kami sayang Arman, dengan cara konyol kami yang tak pernah kami akui. Kami sayang Bu Tania, yang mengajar kami dengan ramah meski kami selalu di pojok. Tapi sayang saja tidak cukup kalau caranya salah. Kami menyayangi mereka dengan cara yang justru melukai mereka.
"Iya, Bu," kataku. Suaraku pecah sedikit. "Kami sayang. Tapi kami salah caranya."
Bu Sari mengangguk pelan. "Nah," katanya. "Itu jawaban yang aku tunggu. Kalau jawabannya 'nggak', aku bakal hukum kalian dan selesai. Tapi karena jawabannya 'iya'..." Ia kembali ke kursinya, duduk, dan untuk pertama kali tersenyum penuh. "...berarti masih ada yang bisa dibenerin. Orang yang sayang itu selalu bisa nyari jalan, Galih. Asal dia berhenti ngatur dan mulai ngedengerin."
Ia melambaikan tangan, menyuruhku pulang. "Pikirin itu. Dan suruh teman-temanmu mikirin juga."
Aku keluar dari ruangannya dengan kepala penuh. Bu Sari tidak menghukum kami. Ia melakukan sesuatu yang jauh lebih berat: ia menyuruh kami menghukum diri sendiri dengan satu pertanyaan jujur.
Dan pertanyaan itu, malam itu, tak membiarkanku tidur.