Markas aliansi adalah meja pojok kantin, paling jauh dari kasir, paling dekat ke tembok yang dicat hijau pudar. Tiga hari setelah semuanya runtuh, di sanalah delapan kepala berkumpul. Empat dari IPS 3—aku, Dimas, Reza, Bayu. Empat dari IPS 4—Fajar, Doni, dan dua anak yang akhirnya kami kenal namanya selama aliansi ini berjalan: Bagas dan Hendra.
Tidak ada yang memesan makanan. Itu sendiri sudah pertanda. Biasanya Reza memborong tiga porsi sebelum rapat mulai.
Fajar yang membuka. Pemimpin IPS 4 itu biasanya pongah, dagunya selalu terangkat. Sekarang ia bersandar di kursi dengan tangan terlipat dan wajah yang tidak bisa kuartikan. "Aku denger semuanya udah ketahuan," katanya. "Bu Tania. Arman. Bener?"
"Bener," kata Dimas.
Fajar mengembuskan napas panjang. "Berarti aku juga ikut salah."
Doni mengernyit. "Lah, kok kita? Itu kan idenya IPS 3. Kita cuma bantuin doang."
"Justru itu," potong Fajar tajam. "Kita bantuin. Kita masuk panitia, kita atur-atur biar Arman sama Bu Tania ketemu terus. Tangan kita ikut kotor, Don. Jangan pura-pura bersih."
Doni terdiam. Ia menggaruk tengkuknya, nyengir kecut yang biasanya bikin suasana cair, tapi kali ini tidak ada yang ikut tersenyum.
"Jadi sekarang gimana?" tanya Bagas, anak IPS 4 yang paling jarang bicara. "Kita minta maaf? Atau diem aja, tunggu reda?"
"Tunggu reda," sahut Doni cepat. "Serius. Kadang masalah tuh kalau didiemin malah ilang sendiri. Kita nggak usah nambah ribet. Arman bakal lupa, Bu Tania kan cuma magang—abis semester juga pergi. Kenapa kita harus repot-repot—"
"Karena mereka sakit hati, Doni." Suaraku keluar lebih keras dari yang kuniatkan. Seluruh meja menoleh. Aku jarang meninggikan suara; mungkin itu sebabnya mereka langsung diam.
Aku menata kata-kataku. "Kalau kita diem dan nunggu mereka lupa, kita cuma bikin enak diri kita sendiri. Yang lupa bukan mereka—yang lupa kita. Kita yang pengin cepet-cepet ngerasa baik-baik aja lagi." Aku menatap Doni, bukan dengan marah. "Aku ngerti pengin kabur. Aku juga pengin. Tapi kita yang mulai. Kabur dari masalah yang kita buat sendiri itu... pengecut."
Kantin di sekitar kami berisik seperti biasa—gemerincing sendok, tawa anak-anak lain, suara penjual gorengan. Tapi di meja pojok ini, hening yang berbeda menggantung.
"Galih bener," kata Fajar pelan. "Aku setuju sama dia. Tapi pertanyaannya: minta maaf yang gimana? Kita datengin Arman rame-rame delapan orang? Dia bakal makin ngerasa dikepung. Atau kita kirim surat? Norak. Atau kita..."
"Kita nggak boleh bikin rencana lagi." Dimas tiba-tiba bicara. Suaranya rendah. Semua menoleh ke raja yang sudah tiga hari kehilangan takhtanya. "Kalian denger aku? Tiap kali kita bikin rencana, kita malah ngerusak. Lantai biru—rencana. Jodohin Arman—rencana. Semuanya rencana, dan semuanya hancur." Ia menatap meja. "Mungkin masalahnya bukan rencananya jelek. Masalahnya kita kebanyakan ngatur orang dan kedikitan dengerin orang."
Kalimat itu jatuh berat. Bahkan Doni tidak punya bantahan.
Aku menatap Dimas. Tiga tahun aku kenal dia, dan baru kali ini ia mengatakan sesuatu yang membuatku ingin menepuk bahunya, bukan menertawakannya.
"Kalau gitu," kataku, "kita mulai dari yang paling sulit. Bukan ngatur. Cuma jujur. Tapi sebelum kita jujur ke Arman, ke Bu Tania—aku rasa salah satu dari kita harus nulis dulu. Nyusun apa yang sebenernya mau kita bilang. Bukan rencana settingan. Permintaan maaf beneran."
Mata semua orang berpindah ke Dimas.
Dimas yang paling pintar bicara di antara kami. Dimas yang punya seribu kalimat. Ia menelan ludah. "Aku?"
"Kamu yang mulai semua ini, Dim," kata Fajar, tidak kejam, cuma jujur. "Wajar kalau kamu yang nyoba nutupnya."
Dimas memandangi tangannya sendiri lama sekali. Lalu ia mengangguk. "Oke. Aku coba."
Tidak ada yang tahu, malam itu, betapa sulitnya kata "coba" itu.