Kelas kami berubah dengan cara yang tidak bisa dilihat orang luar.
Dari luar, XII-IPS 3 tetap XII-IPS 3. Papan tulis penuh coretan, lantai berdebu, jendela menghadap ke arah ruang guru. Tapi bagi kami yang tinggal di dalamnya, ada yang hilang dari udaranya. Seperti rumah yang ditinggal satu penghuninya—barangnya masih ada, tapi rasanya beda.
Arman datang pagi seperti biasa. Tapi ia tak lagi melirik jendela ke arah ruang guru. Ia duduk, membuka buku, dan tidak mengangkat kepalanya sampai bel. Kalau dulu ia menegur kami dengan dengus jengkel—"Bisa nggak sih kalian diem"—sekarang ia bahkan tidak menoleh. Seolah bangku belakang ini kosong. Itu lebih buruk daripada dimarahi. Dimarahi berarti dianggap ada.
Bu Tania masuk hari Senin untuk pelajaran Sejarah. Ia tetap rapi, tetap menjelaskan dengan jelas, tetap menggambar garis waktu peristiwa di papan. Tapi sesuatu telah ditarik keluar dari caranya mengajar. Dulu ia suka melempar pertanyaan iseng—"Menurut kalian, kalau kalian hidup di zaman itu, kalian bakal gimana?"—dan kelas akan ramai. Sekarang ia membaca dari catatan, lurus, profesional, dan saat pandangannya melewati pojok belakang, ia tidak berhenti. Tidak menegur. Tidak menyebut nama. Kami tidak ada.
"Halaman tujuh puluh dua," katanya datar. "Catat. Nanti dikumpulkan."
Tidak ada "anak-anak". Tidak ada candaan soal masa lalu lebih seru dari sinetron. Cuma halaman tujuh puluh dua.
Di bangku belakang, Reza membuka bungkus roti, lalu menutupnya lagi tanpa menggigit. "Nggak laper," gumamnya. Aku tidak tahu mana yang lebih mengejutkan: bahwa Reza tidak makan, atau bahwa aku tidak punya tenaga untuk meledeknya soal itu.
Bayu mengeluarkan buku kecilnya. Buku "BUKTI ARMAN NAKSIR", yang terakhir berhenti di nomor delapan. Ia memandanginya sebentar, lalu memasukkannya kembali ke tas. "Buat apa lagi," katanya pelan.
Dimas tidak banyak bicara. Dimas. Raja yang biasanya tidak pernah kehabisan sutradara di kepalanya, sekarang menumpu dagu di tangan dan menatap papan tulis seolah ada jawaban di sana yang tidak ada.
Saat istirahat, kami tidak ke kantin. Kami duduk saja. Empat orang di pojok, dengan jendela di samping kami, memandangi lapangan yang dipenuhi anak-anak lain yang tertawa untuk hal-hal yang tidak kami dengar.
"Aku terus mikirin muka Bu Tania," kata Bayu memecah hening. "Pas dia tanya, 'semuanya bohong?' Aku nggak bisa lupa."
"Berhenti," kata Dimas. Tapi suaranya tidak punya kuasa. Bukan perintah. Lebih seperti permohonan.
Aku menarik napas. "Aku mau ngomong sesuatu, dan aku mau kalian dengerin sampe selesai."
Mereka menoleh. Bahkan dalam keadaan hancur begini, mereka masih memberiku ruang untuk bicara—itu hal yang selalu kuhargai dari ketiganya.
"Aku yang pasang aturan di awal," kataku. "Galih yang bilang: ini becandaan, bukan ngerusak hidup orang. Kalau ada yang sakit hati, kita berhenti. Sekarang aku yang harus paling tegas megang aturan itu." Aku menatap mereka satu per satu. "Kita berhenti. Misinya udah mati. Mulai sekarang nggak ada lagi rencana, nggak ada lagi setting, nggak ada lagi 'gimana caranya'. Setuju?"
Reza mengangguk pertama, cepat, seolah lega ada yang akhirnya menutup pintu itu. "Setuju."
"Setuju," bisik Bayu.
Dimas paling lama. Ia menatap mejanya, meja yang sudah penuh ukiran tiga tahun—inisial, gambar mahkota jelek, tulisan "KERAJAAN" yang dulu kami tertawakan. Lalu ia mengangguk. "Setuju. Tapi, Galih..." Ia mengangkat kepala. "Berhenti bukan berarti benerin, kan? Kita berhenti bikin masalah baru. Tapi yang lama—Arman, Bu Tania—itu masih rusak."
Aku tidak punya jawaban untuk itu. Belum.
Bel masuk berbunyi. Kami kembali ke pelajaran berikutnya. Di depan, Arman membuka buku tanpa melihat kami. Di papan, jam dinding berdetak.
Hari pertama tanpa tawa. Dan entah berapa banyak lagi yang menunggu.