Dimas cerita padaku, beberapa minggu kemudian, bahwa malam itu ia menghabiskan satu buku tulis penuh hanya untuk gagal.
Aku tidak melihatnya langsung, tentu. Tapi aku bisa membayangkannya, karena Dimas membawa bukti gagalnya itu ke sekolah keesokan harinya—satu tumpukan kertas yang diremas, masih ia simpan di tas seperti orang menyimpan luka.
"Coba liat ini," katanya saat istirahat, di pojok belakang yang masih sunyi. Ia menjatuhkan gumpalan-gumpalan kertas itu ke meja. "Aku nulis dari jam delapan sampe jam dua pagi. Hasilnya: sampah."
Aku membuka satu. Tulisan Dimas, miring-miring, dicoret-coret.
"Untuk Arman. Gue minta maaf soal—" Dicoret. Diganti. "Man, gue tau lo marah, tapi—" Dicoret lagi.
Aku membuka yang kedua. "Arman yang baik, mungkin kamu nggak akan percaya, tapi sebenernya kami—" Berhenti di tengah kalimat. Kosong sampai bawah.
Yang ketiga cuma berisi satu baris di tengah halaman: "Gue nggak tau harus mulai dari mana."
Aku membuka beberapa lagi. Semuanya begitu—mulai dengan semangat, berhenti di tengah, lalu diremas. Ada satu yang ia coba tulis dalam bentuk surat resmi, dengan tanggal dan "Kepada Yth." di pojok atas, seolah Arman adalah panitia rapat. Ada satu yang ia coba bikin lucu, supaya tidak terlalu berat, lalu dicoret semua karena—kutebak—ia sadar lelucon justru yang membuat semuanya jadi kacau dari awal.
"Tiap kali aku nulis 'maaf'," kata Dimas, menatap kertas-kertas itu, "kedengerannya kayak aku minta diampunin biar enak. Tapi aku nggak mau enak. Aku mau dia ngerti. Dan tiap kali aku coba jelasin biar dia ngerti, kedengerannya kayak aku lagi cari pembenaran." Ia mengusap wajahnya. "Susah banget, Galih. Aku bisa ngarang skenario buat ngerjain orang dalam lima menit. Lantai biru, taruhan cokelat, semuanya gampang. Tapi nulis satu kalimat minta maaf yang jujur—aku nggak bisa."
"Karena dulu lo nggak pernah peduli orangnya bakal ngerasa gimana," kataku. Itu keluar lebih tajam dari yang kuniatkan, dan Dimas mengerjap. Aku menelan ludah. "Maaf. Tapi itu bener, kan? Pas kita bikin lantai biru, kita nggak mikirin gimana perasaan anak piket IPS 4. Pas kita ngerjain Arman, kita nggak mikirin perasaan Arman. Sekarang lo harus nulis sambil mikirin perasaan dia—dan itu hal yang nggak pernah kita latih. Wajar kalau susah."
Dimas memandangiku lama. Lalu ia tertawa kecil, tawa yang pahit. "Tiga tahun gue jadi raja, Galih. Sutradara. Gue ngatur semua orang. Dan ternyata gue nggak pernah belajar hal paling dasar: mikirin orang yang gue atur itu punya perasaan."
Reza mengambil satu kertas dan membacanya pelan-pelan, menggerakkan bibirnya. "Yang ini bagus, Dim. 'Gue minta maaf udah jadiin lo bahan'—"
"Itu yang paling jelek," potong Dimas. "Kedengerannya kayak basa-basi pidato perpisahan."
Bayu duduk memeluk lututnya di kursi. "Mungkin emang gitu, ya," katanya. "Mungkin minta maaf emang harusnya susah. Kalau gampang, berarti kita nggak ngerasa bersalah-bersalah amat."
Kami semua menoleh ke Bayu. Si paling kurus, si korban abadi, yang tidak pandai berbohong—kadang justru karena ia tak pandai berbohong, ia mengeluarkan kebenaran yang tak terpikirkan kami yang lebih banyak akal.
"Bayu bener," kataku. "Bikin onar itu gampang karena nggak ada tanggung jawabnya. Kita ketawa, kita kabur, beres. Tapi minta maaf itu nempel. Kita harus berdiri di depan orang yang kita sakitin dan nggak boleh kabur dari muka dia." Aku menatap tumpukan kertas itu. "Susahnya minta maaf bukan karena kata-katanya susah, Dim. Tapi karena artinya kita ngaku kita salah. Dan tiga tahun ini kita nggak pernah ngaku salah ke siapa pun."
Dimas terdiam lama. Lalu ia mengumpulkan kertas-kertas itu, meratakannya, dan memasukkannya kembali ke tas. Bukan dibuang.
"Kenapa nggak dibuang aja?" tanya Reza.
"Biar inget," kata Dimas. "Biar tiap aku buka tas, aku inget aku belum selesai."
Surat itu tak pernah terkirim. Tidak hari itu, tidak minggu itu. Tapi aku mulai paham sesuatu tentang Dimas yang dulu tak pernah kulihat. Selama ini ia raja karena ia paling berani memulai. Sekarang ia belajar hal yang jauh lebih berat: berani menanggung apa yang sudah ia mulai.
Bel masuk. Dimas menutup tasnya. "Aku bakal terus nyoba," katanya. "Sampe ketemu kalimat yang jujur."
"Sampe ketemu," aku mengulang.
Dan untuk pertama kalinya dalam berhari-hari, ada sesuatu yang terasa seperti harapan—setipis benang, tapi ada.