Tiga tahun aku duduk di pojok belakang itu, dan tidak sekali pun aku tahu rasanya koridor sekolah bisa sesunyi ini.
Bu Tania masih berdiri di ujung koridor. Tangannya menggenggam map materi sejarah, jari-jarinya memutih di pinggirannya. Pertanyaannya menggantung di udara, tidak menguap, tidak jatuh. "Jadi, selama ini... semuanya bohong?"
Aku menunggu salah satu dari kami menjawab. Itu kebiasaan kami—selalu ada yang punya kalimat. Dimas selalu punya kalimat. Tapi Dimas hanya berdiri dengan mulut setengah terbuka, dan untuk pertama kali sejak aku mengenalnya, tidak ada apa pun yang keluar dari sana.
Arman menutup buku catatanku. "MISI JODOHKAN SANG KETUA." Sampul itu seolah masih berteriak di tangannya. Ia tidak melihat ke arah Bu Tania. Mungkin ia tidak sanggup. Rahangnya bergerak, seperti ada kata yang ia kunyah lalu telan kembali.
"Bu," kata Dimas akhirnya. Suaranya parau. "Bukan begitu. Kami—"
"Jangan." Bu Tania mengangkat tangan. Bukan dengan marah. Justru itu yang membuatnya jauh lebih buruk. Andai ia membentak, kami bisa menahannya. Tapi suaranya pelan, lelah, seperti orang yang baru saja menemukan bahwa lantai yang ia pijak ternyata cuma gambar. "Aku nggak mau dengar penjelasan sekarang. Aku cuma... mau pulang."
Ia membalik badan. Sepatunya berdetak di lantai keramik, pelan, teratur, sampai suara itu menghilang di tikungan. Lalu tidak ada apa-apa lagi.
Reza, yang badannya paling besar di antara kami, justru terlihat paling kecil sekarang. Ia menunduk seperti anak yang baru memecahkan sesuatu yang tak bisa dilem ulang. Bayu memegang lengannya sendiri, gemetar samar.
Arman meletakkan buku catatanku di lantai, di tengah-tengah kami, seolah mengembalikan barang bukti. "Kalian dapat hiburan kalian," katanya. Dingin. Bukan teriakan, bukan tangisan. Cuma dingin. "Cerita buat reuni sepuluh tahun lagi, kan? Kalian bisa ketawa nanti. Cerita soal ketua kelas yang bego, yang nggak sadar dijodoh-jodohin sama tukang ribut di belakang."
"Arman, itu nggak—" Aku berusaha. Galih, si pendiam, akhirnya bersuara. Tapi bahkan suaraku terdengar asing di telingaku sendiri.
"Nggak apa?" Ia menatapku. Mata Arman selalu rapi seperti seragamnya—lurus, terkendali. Sekarang mata itu basah dan ia membiarkannya. "Aku percaya kalian. Sebentar aja. Pas Dimas usulin aku jadi ketua panitia, aku pikir... akhirnya ada yang nganggep aku. Tiga tahun aku jadi musuh kalian, terus tiba-tiba kalian ngangkat aku. Aku pikir itu beneran."
"Itu beneran." Dimas melangkah maju. "Sumpah, Man, yang itu beneran."
Arman tersenyum. Senyum yang lebih menyakitkan daripada caci maki. "Gimana aku bisa tahu mana yang beneran dan mana yang settingan, Dim? Sekarang semuanya kelihatan sama."
Ia mengambil tasnya dari dinding, lalu pergi ke arah berlawanan dengan Bu Tania. Punggungnya kaku seperti biasa, tapi langkahnya terlalu cepat, seperti orang yang ingin secepat mungkin sampai ke tempat di mana tidak ada yang melihatnya.
Tinggal kami berempat di koridor.
Aku memungut buku catatanku. Halaman demi halaman rencana yang kususun rapi—jadwal pertemuan, kalimat-kalimat yang harus diucapkan, momen-momen yang harus diatur. Tiga minggu kerja. Dulu aku bangga pada otak ini, otak yang kusembunyikan dari semua orang supaya tak dimintai contekan. Sekarang otak itu cuma menghasilkan dua orang yang terluka.
"Galih." Bayu menarik ujung lenganku. Suaranya tipis. "Kita salah, ya?"
Aku tidak menjawab langsung. Bel masuk berbunyi di kejauhan, panjang dan biasa saja, seolah dunia tidak peduli bahwa di koridor ini sesuatu baru saja runtuh.
"Inget hari kita mulai semua ini?" kataku akhirnya. Hari pertama misi ini lahir, hari di mana empat tangan bertumpuk di atas meja pojok. "Aku pasang syarat. Kalau ada yang ketahuan guru, atau ada yang sakit hati, kita berhenti."
Dimas menelan ludah. "Galih—"
"Dua-duanya kejadian sekarang, Dim." Aku menutup buku itu. "Ketahuan guru. Dan ada yang sakit hati. Bukan satu. Dua."
Untuk pertama kali dalam tiga tahun, di pojok belakang kami—atau di mana pun kami berdiri—tidak ada satu pun lelucon yang lahir. Kerajaan itu masih ada. Empat orangnya masih berdiri di sini. Tapi entah bagaimana, koridor ini terasa seperti reruntuhannya.
Kami berjalan kembali ke kelas dalam diam. Dan diam itu, aku tahu, baru permulaan.