Waktu seolah berhenti.
Bayu berdiri membeku, buku rahasia di tangannya, dan di depannya Arman berdiri kaku di ambang pintu, matanya terpaku pada sampul buku yang bertuliskan jelas: MISI JODOHKAN SANG KETUA.
"Itu... apa?" suara Arman pelan, datar, berbahaya.
"Ini... ini bukan apa-apa," Bayu menelan ludah, menyembunyikan buku di balik punggung. Terlambat. Sangat terlambat. "Ini... PR. Sejarah. Catatan biasa."
"Bayu." Arman melangkah masuk, satu langkah. "Aku udah baca judulnya."
Bayu, yang sepanjang hidupnya tidak pernah pandai berbohong, merasa dunianya runtuh. Ia membuka mulut, mencari kata-kata, tapi tidak ada yang keluar selain, "Aku panggil Dimas dulu."
Ia berlari keluar ruangan, meninggalkan Arman yang berdiri sendiri, rahang mengeras.
Lima menit kemudian, seluruh aliansi pojok belakang berkumpul di koridor depan ruang panitia—Dimas, Reza, Galih, dan Bayu yang gemetar. Di seberang mereka, Arman berdiri sendirian, memegang buku catatan yang sudah ia ambil dari tangan Bayu, membuka halaman demi halaman.
Dan ekspresinya, untuk pertama kalinya, tidak bisa dibaca oleh siapa pun.
"Dari awal," kata Arman akhirnya, suaranya bergetar menahan sesuatu. "Dari awal kalian... ngatur aku. Ngerjain aku. Bikin aku jadi panitia. Nyusun pertemuan sama Bu Tania. Semua ini..." Ia mengangkat buku itu. "Semua ini cuma proyek buat kalian. Buat lucu-lucuan."
"Arman, dengerin dulu—" Dimas maju.
"Lucu, ya?" Arman tertawa, tapi tawanya getir. "Kalian pikir aku bahan tertawaan. Si ketua kelas kaku yang nggak pernah punya teman. Yang gampang banget dipermainkan. Kalian semua sama aja. Dari kelas sepuluh sampai sekarang."
Kalimat itu menusuk. Karena ada kebenaran di dalamnya yang membuat keempatnya terdiam.
Galih melangkah maju, suaranya tenang. "Arman, awalnya... iya. Awalnya ini cuma becandaan. Aku nggak bakal bohong. Tapi—"
"Tapi apa?" potong Arman, matanya memerah. "Tapi kalian tetap ngelakuinnya. Tetap mainin perasaan orang. Perasaanku. Dan—" suaranya tercekat, "—perasaan Bu Tania juga. Kalian pikirin nggak gimana perasaan dia kalau tahu semua kedekatan ini cuma settingan kalian?"
Hening total. Karena itu, dari semua tuduhan, adalah yang paling benar dan paling menyakitkan. Mereka tidak pernah memikirkan Bu Tania.
Dimas, yang biasanya selalu punya kata-kata, kali ini bungkam. Wajahnya, yang selalu penuh senyum nakal, kini pucat. Ia membuka mulut, tapi tidak ada pembelaan yang terdengar pantas.
"Aku sempat mikir," kata Arman pelan, dan ini bagian yang paling menghancurkan, "buat pertama kalinya dalam tiga tahun, aku mikir mungkin kalian akhirnya nganggap aku temen. Pas kamu ngajuin aku jadi ketua panitia, Dimas. Pas kamu bilang nggak bohong soal itu. Aku percaya." Ia menatap Dimas lurus. "Ternyata itu juga bagian dari rencana."
Dimas merasa sesuatu di dadanya hancur. "Arman, itu... itu beda. Yang itu aku tulus—"
"Aku nggak bisa bedain lagi mana yang tulus dari kalian dan mana yang bukan." Arman menutup buku catatan itu. "Dan kalian tahu bagian terburuknya?"
Mereka menunggu, jantung berdebar.
Arman menatap mereka satu per satu, lalu suaranya turun menjadi bisikan yang nyaris pecah.
"Bu Tania ada di belakang kalian. Dari tadi. Dia denger semuanya."
Keempatnya membeku. Perlahan, dengan rasa takut yang menjalar ke seluruh tubuh, mereka berbalik.
Dan di sana, di ujung koridor, berdiri Bu Tania. Tangannya memegang map panitia. Wajahnya—wajah yang selama ini selalu tersenyum cerah pada mereka—kini tidak tersenyum sama sekali.
Ia sudah berdiri di sana entah sejak kapan. Cukup lama untuk mendengar kata "settingan", "proyek", dan "jodohkan".
Mata Bu Tania bergerak dari Arman, ke buku catatan, lalu ke empat anak yang selama ini ia kira hanya tukang ribut yang menyenangkan.
"Jadi," kata Bu Tania pelan, suaranya bergetar dengan emosi yang tidak bisa mereka tebak—marah, kecewa, atau terluka. "Selama ini... semuanya bohong?"
Tidak ada yang berani menjawab.
Koridor itu sunyi. Hanya ada suara jam dinding yang berdetak, dan empat anak pojok belakang yang, untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, tidak punya satu pun lelucon untuk mencairkan suasana.