Ruang panitia pameran sejarah penuh sesak di sore hari itu. Bu Tania berdiri di depan, membawa map berisi rencana acara, sementara di hadapannya duduk para panitia: Arman di kursi terdepan dengan punggung tegak, dan di barisan belakang—tentu saja—delapan anggota aliansi pojok belakang, yang sengaja menyusup ke kepanitiaan.
"Terima kasih sudah mau jadi panitia," kata Bu Tania, tersenyum. "Pameran ini penting. Ini bagian dari acara perpisahan. Saya mau tema kita bukan cuma soal sejarah dunia, tapi juga sejarah kalian. Sejarah angkatan ini di sekolah ini."
Beberapa anak mengangguk. Arman mencatat tiap kata, seperti biasa.
"Arman, sebagai ketua panitia, nanti kamu yang bantu saya koordinasi, ya," lanjut Bu Tania.
Arman mengangkat kepala, dan untuk sepersekian detik, lupa cara mengangguk. "I-iya, Bu. Siap. Saya... saya siap." Suaranya kembali naik satu oktaf.
Di barisan belakang, Bayu mencatat: BUKTI NO. 8.
Operasi dimulai. Galih, sebagai dalang, sudah merancang skenario. Rencananya sederhana: ciptakan momen-momen kecil yang membuat Arman dan Bu Tania harus berdekatan. Tapi seperti semua rencana melibatkan empat penghuni pojok belakang, hampir tidak ada yang berjalan sesuai rencana.
Langkah pertama: Galih sengaja "kehabisan" lem saat panitia menyiapkan papan pameran, sehingga Arman harus mengambilkan lem dari kotak yang—diatur diam-diam—diletakkan tepat di sebelah Bu Tania.
Rencananya, Arman dan Bu Tania akan meraih kotak yang sama, tangan mereka bersentuhan, dan momen romantis tercipta.
Yang terjadi: Reza, yang ditugaskan memindahkan kotak lem, salah perhitungan dan menumpahkan seluruh isi kotak ke lantai. Lem, gunting, kertas warna, berhamburan. Arman refleks membungkuk membantu membereskan, begitu juga Bu Tania, dan mereka memang berdekatan—tapi bukan dalam momen romantis, melainkan dalam kekacauan total sambil memunguti gunting yang berserakan.
"Maaf, maaf!" seru Reza, panik.
"Nggak apa-apa," kata Bu Tania sambil tertawa, memunguti kertas. "Kecelakaan biasa."
Di pojok, Dimas menutup wajah dengan tangan. "Reza. Satu tugas. SATU tugas."
"Aku gugup!"
Langkah kedua: Bayu, sebagai mata-mata, ditugaskan menyampaikan "pesan dari Arman" ke Bu Tania—pesan yang sebenarnya dikarang Galih agar terdengar manis tapi tetap sopan. Tapi Bayu, yang gugupnya tidak kalah dari Reza, salah menyampaikan.
"Bu," kata Bayu menghampiri Bu Tania, "Arman bilang... ehm... Ibu... pintar." Ia berhenti, panik, lupa naskah. "Maksud saya, Ibu... Ibu ngajarnya enak. Maksudnya bukan enak yang itu. Enak yang... bener. Pokoknya Arman kagum. Sangat. Banget."
Bu Tania mengernyit, setengah geli setengah bingung. "Oh. Sampaikan terima kasih ke Arman, ya."
Bayu kembali ke pojok dengan wajah pucat. "Aku gagal. Aku gagal total."
"Kamu bilang apa?" tanya Galih ngeri.
"Aku bilang Arman kagum sama Bu Tania. Sangat. Banget."
Dimas menatap langit-langit. "Itu malah kelewat jujur."
Tapi anehnya—dan ini yang tidak diperhitungkan siapa pun—rangkaian kekacauan itu justru bekerja. Karena di tengah semua kecanggungan, lem tumpah, dan pesan yang salah sampai, Arman dan Bu Tania jadi sering tertawa bersama. Bukan karena rencana, tapi karena kekacauan yang dibuat aliansi pojok belakang menciptakan suasana yang cair, hangat, penuh tawa.
Dan dalam suasana seperti itu, Arman—yang biasanya kaku—mulai melonggarkan dirinya. Ia tertawa lepas untuk pertama kalinya. Ia berbicara dengan Bu Tania bukan dengan suara mencicit, tapi dengan obrolan biasa, tentang sejarah, tentang buku, tentang cita-cita.
Galih memperhatikan dari pojok, dan tersenyum. "Lihat itu," bisiknya ke Dimas. "Rencana kita gagal total. Tapi hasilnya malah lebih bagus dari rencana."
Dimas mengangguk pelan, untuk sekali ini tidak berkomentar. Ia hanya menatap Arman yang tertawa, dan merasakan sesuatu yang hangat di dadanya. Mereka, empat tukang onar dari pojok belakang, sedang membuat seseorang bahagia. Dan itu rasanya jauh lebih memuaskan daripada prank apa pun.
Sore itu berakhir dengan suasana yang baik. Terlalu baik. Sampai-sampai mereka lengah.
Saat para panitia membereskan ruangan dan satu per satu pulang, Bayu—yang selalu lupa sesuatu—kembali ke ruang panitia untuk mengambil tasnya yang tertinggal. Dan di sana, di atas meja, ia melihatnya.
Buku catatan Galih. Buku yang berisi SELURUH rencana operasi. Lengkap dengan diagram, nama-nama target, dan judul besar di sampul depan: MISI JODOHKAN SANG KETUA.
Bayu meraihnya cepat. Tapi terlambat.
Karena saat ia berbalik, di ambang pintu ruang panitia, berdiri Arman.
Menatap buku itu.
Membaca judulnya.