Nek Mirah terus melangkah maju ke seberang jalan, mendatangi Satria putra sulungnya seiring suara gelak tawa dari arah belakangnya mulai samar dan memudar.
Tok tok tok.
"Saaat, Satria!" panggil Nek Mirah sembari mengetuk pintu utama di depan rumah kediaman Bambang, tapi tak terdengar sahutan dari dalam. "Ini apa Satria-nya nggak ada di rumah ya?" Ia mengerutkan kedua keningnya. Kepalanya menoleh ke belakang dan mendapati dua unit sepeda motor yang terparkir di depan rumah; salah satunya adalah motor matik hijau milik Bambang, dan yang satunya lagi adalah motor matik berwarna jingga milik Satria ayahnya Bambang. "Itu motornya ada." Melihat keberadaan motor milik putra sulungnya yang terparkir di depan rumah, membuatnya yakin bahwa putra sulungnya berada di dalam rumah. "Apa Satria-nya lag