Anton dan Solihin berdiri berhadapan tepat di depan pintu ruang dapur khusus karyawan yang masih tertutup, mereka berdua saling tatap dan saling mengangguk singkat. Masing-masing sepasang telinga masih mendengar erangan tangis dari arah dalam ruang dapur khusus karyawan.
"Loe masih ingat rencananya 'kan?" Anton menatap Solihin.
Solihin mengangguk singkat, "Beres," jawabnya sembari mengacungkan ibujari tangan kanannya. "Kita harus berhasil, biar cewek kita nggak minta putus."
"Nah, itu loe tau." Anton tersenyum dengan seringai tipis dan sorot tajam matanya. Detik berikutnya, ia menolehkan kepalanya ke kiri. Menatap pintu ruang dapur khusus karyawan yang masih tertutup, lalu tangan kanannya terulur untuk membuka pintu tersebut dengan perlahan. Kemudian melangkahkan masuk ke dalam ruang da