Bambang melalui Minggu pagi yang mengiris hati dengan lancar—tepatnya lebih ke pura-pura. Walau kelihatannya begitu mudah untuknya melupakan rasa sakit itu, tapi itu hanyalah kelihatannya saja. Di balik wajah senyum atau datar, ia menyembunyikan rasa kecewa yang teramat dalam bahkan sangat membuat bekas lubang yang besar di hatinya.
Waktu pada jam bundar yang melekat di dinding loteng telah menunjukan pukul setengah lima sore. Ini adalah hari pertama setelah sepekan sebelumnya ia mendapat giliran shift siang.
"Mumpung shift malam, aku bisa kerja santai," gumam Bambang pelan sembari meraih tas hitam yang tergeletak di atas tempat tidurnya. Sebelum berangkat, ia terbiasa untuk menatap wajahnya melalui pantulan cermin yang menempel sedikit ke bawah dari jam dinding. Dan hal ini malah membua