Pagi ini, suasana dalam ruang depan di kediaman Bambang tampak ramai. Pak Satria sedang duduk di sofa dengan mengenakan pakaian formal dan tampak begitu rapi, menatap ke arah seluruh keponakannya yang duduk di atas karpet yang melapisi permukaan lantai keramik dingin. Owel, Rudi, Fandi, Arfan, Yuda, Anas, Mawar, dan Nanda juga sudah mengenakan pakaian formal dengan warna senada yang membuatnya tampak satu ragam. Semua itu adalah rencana Nanda untuk memberi tanda kubu kerabat untuk menghadiri acara resepsi pernikahan salah satu kerabat jauh mereka.
Semua sepupunya turut berbahagia, namun berbeda dengan Bambang. Ia lebih memilih untuk mengurung diri di lotengnya. Merebahkan tubuh di atas kasur, dengan kedua mata yang terpejam, tapi kedua telinganya masih difungsikan untuk mendengar percakap